Pakar FKUI Sebut Antibodi Covid-19 Alami Hanya Bertahan 3-8 Bulan

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyuntikan dosis vaksin Sinopharm kepada pencari suaka saat vaksinasi COVID-19 di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Oktober 2021. Vaksinasi tersebut digelar atas kerja sama Pemprov DKI Jakarta, UNHCR dan Kadin Indonesia. Sebanyak 600 vaksin dosis pertama disediakan dalam vaksinasi tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis menyuntikan dosis vaksin Sinopharm kepada pencari suaka saat vaksinasi COVID-19 di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Oktober 2021. Vaksinasi tersebut digelar atas kerja sama Pemprov DKI Jakarta, UNHCR dan Kadin Indonesia. Sebanyak 600 vaksin dosis pertama disediakan dalam vaksinasi tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru Besar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan berapa lama kekebalan yang berasal dari antibodi Covid-19 alami dapat bertahan. Antibodi alami ini timbul berdasarkan infeksi Covid-19 secara alamiah.

    “Berdasarkan penelitian sejauh ini, antibodi alamiah bisa bertahan antara 3-8 bulan, walaupun ada juga yang menemukan sampai satu tahun,” ujar Tjandra saat dihubungi Rabu, 13 Oktober 2021, sambil menambahkan bahwa kesimpulannya penyintas memang baiknya juga ikut divaksinasi.

    Tjandra yang merupakan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020 itu mengatakan kekebalan alamiah bisa terjadi melalui Sel T Limfosit—kelompok sel darah putih yang memainkan peran utama pada kekebalan seluler.

    Sementara, kekebalan yang muncul karena vaksin Covid-19, dibuat sedemikian rupa untuk bisa meningkatkan kekebalan secara maksimal. “Tapi tentu masih harus ditunggu evaluasi selanjutnya tentang berapa lama bertahannya dan apakah perlu dosis ketiga dan lainnya,” katanya lagi.

    Sementara menurut dokter di University of Wisconsin Hospital and Clinic, Amerika Serikat, Jeff Pothof, bukti menunjukkan vaksin memberikan kekebalan yang lebih baik untuk jangka waktu yang lebih lama. Dia menerangkan, kekebalan alami berkurang lebih cepat dari yang diperkirakan para ahli kesehatan. 

    “Kekebalan alami itu berkurang dengan cepat setelah 90 hari. Pada tahap awal pandemi, para ahli kesehatan berpikir bahwa kekebalan akan bertahan lebih dari enam bulan,” tutur dia, seperti dikutip WSAW, Rabu, sambil menambahkan bahwa itu sebanding dengan apa yang diberikan vaksin. 

    Pothof juga merujuk sebuah studi yang akademis yang menemukan bahwa seseorang dua kali lebih mungkin memiliki kasus reinfeksi atau terinfeksi Covid-19 ulang, jika bergantung pada kekebalan alami saja. Senada dengan Tjandra, Pothof juga menyarankan agar seseorang yang sudah terinfeksi Covid-19 tetap perlu divaksin.

    “Orang yang sudah terinfeksi Covid-19 secara alami dan sudah divaksin lengkap adalah yang paling terlindungi karena memiliki tingkat antibodi yang tinggi,” tutur dia.

    Baca:
    Studi: Penyintas dan Penerima Vaksin Covid-19 Punya Antibodi Identik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Perlu Diketahui Tentang Kemenangan Indonesia di Thomas Cup 2020

    Kemengan Jonatan Christie di Thomas Cup 2020 menandai kemenangan Tim Merah Putih. Sejumlah catatan ditorehkan oleh regu yang menang atas Cina ini.