Studi Kaspersky Ungkap Ledakan Penggunaan Aplikasi Pembayaran Seluler di Asia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang memindai kode batang tiket dari gawainya di gerbang tiket nirsentuh LRT Jakarta di Stasiun LRT Velodrome, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2020. PT LRT Jakarta menggandeng perusahaan layanan keuangan berbasis digital LinkAja untuk layanan pembayaran tiket nirsentuh. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso/

    Penumpang memindai kode batang tiket dari gawainya di gerbang tiket nirsentuh LRT Jakarta di Stasiun LRT Velodrome, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2020. PT LRT Jakarta menggandeng perusahaan layanan keuangan berbasis digital LinkAja untuk layanan pembayaran tiket nirsentuh. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso/

    TEMPO.CO, Jakarta - Studi Kaspersky baru-baru ini menunjukkan bahwa 90 persen responden Asia telah menggunakan aplikasi pembayaran seluler setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir, yang mengkonfirmasi ledakan teknologi finansial (tekfin) di wilayah tersebut. Hampir 2 dari 10 (15 persen) di antaranya baru memulai menggunakan platform ini setelah pandemi.

    Filipina mencatat persentase pengadopsi uang elektronik (e-cash) baru tertinggi sebesar 37 persen, diikuti oleh India (23 persen), Australia (15 persen), Vietnam (14 persen), Indonesia (13 persen), dan Thailand (13 persen). Sedangkan terendah adalah Cina (5 persen), Korea Selatan (9 persen), dan Malaysia (9 persen).

    Cina telah menjadi pemimpin terkemuka dalam pembayaran seluler di Asia Pasifik. Bahkan sebelum era pandemi, platform lokal teratasnya, Alipay dan WeChat Pay, telah menyebabkan adopsi massal yang signifikan dan menjadi contoh bagi negara-negara Asia lainnya.

    Studi ini dilakukan oleh lembaga penelitian YouGov di wilayah-wilayah utama di Asia Pasifik, termasuk Australia, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam (10 negara). Tanggapan survei dikumpulkan pada Juli 2021 dengan total 1.618 responden yang disurvei di seluruh negara yang disebutkan. Respondennya berkisar antara usia 18-65 tahun, yang seluruhnya merupakan pekerja profesional dan pengguna pembayaran digital.

    “Data dari penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa uang tunai masih menjadi raja, setidaknya untuk saat ini, di Asia Pasifik dengan 70 persen responden masih menggunakan catatan fisik untuk transaksi sehari-hari mereka. Namun, pembayaran mobile dan aplikasi mobile banking tidak jauh tertinggal dengan 58 persen dan 52 persen responden menggunakan platform ini setidaknya sekali seminggu hingga lebih dari sekali sehari untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan keuangan mereka," kata Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, dalam keterangannya, Kamis, 14 Oktober 2021.

    "Dari statistik tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa pandemi telah memicu lebih banyak orang untuk terjun ke ekonomi digital, yang dapat sepenuhnya menurunkan penggunaan uang tunai di kawasan ini dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” kata Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

    Keamanan dan kenyamanan memicu lebih banyak pengguna di Asia Pasifik untuk merangkul teknologi keuangan. Lebih dari setengah responden survei mencatat bahwa mereka mulai menggunakan metode pembayaran digital selama pandemi karena lebih aman dan nyaman daripada melakukan transaksi tatap muka.

    Responden juga menyebutkan bahwa platform digital memungkinkan mereka untuk melakukan pembayaran sembari mematuhi aturan jarak sosial (45 persen) dan bahwa ini adalah satu-satunya cara mereka dapat melakukan transaksi moneter selama masa penguncian sosial (36 persen).

    Untuk 29 persen pengguna, gateway digital sekarang lebih aman dibandingkan dengan era sebelum Covid-19 dan persentase yang sama juga mengapresiasi segala bentuk insentif dan hadiah yang ditawarkan oleh penyedia pembayaran digital.

    Meskipun memiliki persentase kecil, teman dan kerabat (23 persen) masih mempengaruhi pengguna baru serta pemerintah daerah (18 persen) dalam mempromosikan penggunaan metode pembayaran digital.

    Ketika ditanya tentang persiapan mereka sebelum menggunakan mobile banking dan aplikasi pembayaran, pengguna pertama kali mengakui kekhawatiran mereka. Mereka takut kehilangan uang secara online (48 persen) dan takut menyimpan data keuangan secara online (41 persen). Hampir 4 dari 10 juga mengungkapkan bahwa mereka tidak mempercayai keamanan platform ini.

    Lebih dari seperempat juga menganggap teknologi ini terlalu merepotkan dan membutuhkan banyak kata sandi atau pertanyaan (26 persen), sementara 25 persen mengaku perangkat pribadi mereka tidak cukup aman.

    “Merupakan temuan yang disambut baik bahwa publik sadar akan risiko yang menyertai transaksi online dan karena itu, pengembang dan penyedia aplikasi pembayaran seluler sekarang harus melihat celah keamanan siber di setiap tahap proses pembayaran, dan menerapkan fitur keamanan, atau bahkan pendekatan desain yang aman untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari masa depan dan pengguna pembayaran digital yang sudah ada,” tambah Connell.

    Baca:
    Transaksi Uang Digital Indonesia Meningkat, Kaspersky: Ciptakan Risiko Tinggi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Perlu Diketahui Tentang Kemenangan Indonesia di Thomas Cup 2020

    Kemengan Jonatan Christie di Thomas Cup 2020 menandai kemenangan Tim Merah Putih. Sejumlah catatan ditorehkan oleh regu yang menang atas Cina ini.