Di Balik 5 Hari Banjir Besar Samarinda: Rusaknya Ruang Sungai Karang Mumus

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Banjir di Jalan Mayjen Sotoyo Samarinda, Jumat 22 Oktober 2021. Banjir yang mengepung kota itu sejak awal pekan mulai surut di banyak wilayah. (Antaranews Kaltim/ M Ghofar)

    Banjir di Jalan Mayjen Sotoyo Samarinda, Jumat 22 Oktober 2021. Banjir yang mengepung kota itu sejak awal pekan mulai surut di banyak wilayah. (Antaranews Kaltim/ M Ghofar)

    TEMPO.CO, Samarinda - Banjir Samarinda, Kalimantan Timur, bertahan hingga lima hari sepanjang pekan lalu. Banjir karena hujan dan debit kiriman dari hulu tersebut menunjukkan rusaknya ruang sungai di kawasan hulu dan hilir Sungai Karang Mumus.

    Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) di Samarinda, mengungkap itu pada Minggu 24 Oktober 2021. Dia menyebutkan bahwa gunung dan bukit sudah banyak yang digunduli serta ratusan rawa yang pernah ada kini tersisa hitungan jari.

    "Rusaknya ruang sungai atau daerah aliran sungai (DAS) yang meliputi gunung, bukit, lembah, rawa, dan titik yang paling dekat dengan sungai, yakni rivarian," ujar Misman. 

    Dia mengatakan, banyak rawa telah hilang karena diuruk menggunakan tanah yang didapat dari memapas bukit-bukti di sekitarnya. Rawa kemudian menjelma menjadi kawasan permukiman yang kini banyak berdiri di DAS Karang Mumus yang memiliki luas 316,22 kilometer persegi atau 31.622 hektare dengan keliling sebesar 103,26 kilometer tersebut.

    Misman mengingatkan kembali bahwa keberadaan rawa dan bukit dalam daerah aliran sungai sangat vital untuk mengurangi banjir. Air hujan akan ditahan dan tidak langsung terbuang ke sungai. "Ini adalah pekerjaan alam per detik, manusia tidak akan sanggup menggantikan, maka kita jangan mimpi bisa mengatasi banjir jika ruang sungai masih rusak," ucapnya.

    Menurutnya, saat ini, setiap kali musim hujan terjadi limpahan air begitu kuat masuk ke sungai. Sedang di musim kemarau, sungai mengering karena tidak ada aliran dari rawa dan perbukitan. "Karena ruang sungai kita memang rusak parah." 

    Banjir yang mengepung Kota Samarinda di awal pekan baru mulai surut pada Jumat lalu. Itupun warga setempat masih mengantisipasi debit kiriman dari hulu yang memungkinkan terjadinya banjir susulan. Banjir terparah dialami kawasan terdekat dari bantaran Sungai Karang Mumus.

    Baca juga:
    BMKG Sebut Rentetan 32 Gempa Ambarawa tergolong Tektonik Swarm, Ini Artinya

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.