BMKG Jelaskan Gempa Swarm dan Gempa Kuat di Banyubiru-Ambarawa

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Gempa dengan magnitudo 3,0 mengguncang barat laut Kota Salatiga. Twitter

    Gempa dengan magnitudo 3,0 mengguncang barat laut Kota Salatiga. Twitter

    TEMPO.CO, Bandung - Gempa swarm dari sekitar Danau Rawa Pening, Ambarawa, Jawa Tengah, masih terus terjadi hingga hari ini, Senin 25 Oktober 2021. Kapan akan berakhir dan seperti apa potensinya untuk menimbulkan gempa yang lebih kuat dari 34 gempa yang sudah terjadi sejak Sabtu dinihari lalu tak diketahui.

    BMKG meminta masyarakat di lokasi gempa untuk tidak panik dan selalu waspada. Yang pasti, belajar dari berbagai kasus di berbagai wilayah, gempa swarm sebenarnya tidak membahayakan sepanjang bangunan rumah di zona kerumunan tersebut memiliki struktur yang kuat.

    "Dan ini adalah swarm Banyubiru-Ambarawa 23-25 Oktober 2021 baru 34 event, masih jauh di bawah swarm lain di Indonesia yang mencapai ratusan hingga ribuan gempa," kata Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, lewat akun media sosial Twitter, Senin. Kota Ambarawa berlokasi di antara Semarang dan Salatiga, sedang Banyubiru adalah wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang.

    Menurut Daryono, rentetan gempa utama hingga susulan itu berpusat di kompleks Gunung Telomoyo. Gunung berketinggian 1.894 meter dari permukaan laut itu berada di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang. Kekuatan puluhan gempa susulan itu dicatat BMKG tidak ada yang melebihi magnitudo 3,5. Mayoritas kurang dari magnitudo 3,0 dengan angka terkecil 2,1.

    Tapi, bukan berarti tak pernah terjadi gempa kuat. Riwayat gempa kuat dan merusak di wilayah Salatiga, Banyubiru, dan Ambarawa pernah tercatat pada 24 September 1849. Lalu pada 17 Juli 1865, gempa menyebabkan rumah tembok retak. Di tahun yang sama, gempa muncul ganda pada 22-23 Oktober yang diiringi suara gemuruh.

    Gempa dengan magnitudo 3,0 mengguncang barat laut Kota Salatiga pada pukul 06:33:46 WIB. Kredit: BMKG

    Kemudian Gempa Ungaran dan Ambarawa  ada 22 April 1866 menyebabkan kerusakan bangunan rumah tembok. Kejadian serupa terulang pada 10 Oktober 1872. Terkini adalah Gempa Sumogawe bermagnitudo 2,7 tapi merusak beberapa rumah diikuti suara dentuman keras pada 17 Februari 2014. “Gempa-gempa itu akibat tektonik murni,” kata Daryono.

    Daryono menjelaskan, wilayah Salatiga, Banyubiru, Bawen, dan Ambarawa yang berdekatan dengan sumber gempa dari Sesar Merapi-Merbabu dan Sesar Rawa Pening, perlu dilakukan edukasi mitigasi gempa bumi. Misalnya dengan mendirikan bangunan tahan gempa atau ramah gempa, dan memahami cara selamat saat terjadi gempa. “Karena gempa kuat dapat terjadi kapan saja dari sumber gempa sesar aktif  terdekat,” ujarnya.

    Baca juga:
    Gempa Beruntun Guncang Jawa Tengah, BMKG: Berpusat di Gunung

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.