Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Diteliti, Pestisida dari Mikroba Asli Indonesia Atasi Layu Fusarium Tanaman Hias

image-gnews
Calon pembeli mengamati berbagai jenis tanaman hias yang dipamerkan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat, 20 November 2020. Berbagai jenis tanaman hias banyak diburu warga selama pandemi COVID-19 mulai harga ratusn ribu hingga jutaan rupiah. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc.
Calon pembeli mengamati berbagai jenis tanaman hias yang dipamerkan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat, 20 November 2020. Berbagai jenis tanaman hias banyak diburu warga selama pandemi COVID-19 mulai harga ratusn ribu hingga jutaan rupiah. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc.
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti teknologi bersih di Organisasi Riset Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memperkenalkan nanobiopestisida dari mikroba endemik Indonesia untuk atasi layu fusarium pada tanaman. Penyebab layu ini adalah cendawan atau jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense (FOC).

Salah satu penelitinya, Desak Gede Sri Andryani, menjelaskan bahwa pestisida yang dikembangkan telah diuji di laboratorium. Hasilnya, mampu menghambat layu fusarium pada tanaman pisang, juga manggis dan stroberi.

“Kami mendesain mikroba penghasil metabolit sekundernya, mendesain media produksi dan proses produksinya, proses sampai mendesain sintesis nanobiopestisida antimikroba, dan uji aktivasi antimikrobanya,” ujar Desak dalam Webinar Talk to Scientists: Tanaman Hias dan Peluang Inovasi di Masa Pandemi, Selasa 2 November 2021.

Desak menerangkan, biopestisida merupakan agen pengendali berupa metabolit sekunder yang memiliki mekanisme penghambatan terhadap patogen melalui antibiotik atau senyawa kimia yang dihasilkan. Bedanya dengan pestisida biasa adalah lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku hayati.

"Dan proses pembuatannya yang tidak membutuhkan biaya, tekanan dan suhu yang tinggi, serta bisa didaur ulang," kata perempuan lulusan S2 dan S3 Farmasi, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Desak melanjutkan, metabolit sekunder mikroorganisme dapat memproduksi enzim kitinase, selulase, glukosa oksidase, dan asam oklasat. Keempatnya berperan dalam menghancurkan dinding sel bakteri maupun jamur, dapat mengkatalis reaksi oksidasi, dan bisa sebagai antiseptik.

"Berdasarkan mekanisme aksinya, metabolit sekunder nanobiopestisida dengan aktivitas antimikroba bekerja menghambat sintesis ergosterol, yaitu bekerja dengan mengikat ergosterol dan mengganggu stabilitas membran jamur," kata dia lagi. 

Baca juga:
Jamur Mematikan Ciptakan Semut Zombie sebelum Bunuh Diri

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


BRIN dan Petani Papua Garap Hilirisasi Kayu Putih, Awal Panen 5 Hektare Kini 49 Hektare

3 jam lalu

Hasil produksi minyak kayu putih di Kampung Rimba Jaya, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Dok: BRIN
BRIN dan Petani Papua Garap Hilirisasi Kayu Putih, Awal Panen 5 Hektare Kini 49 Hektare

BRIN ikut mengembangkan industri hilirisasi kayu putih di Biak Numfor, Papua. Industri ini diklaim memberikan manfaat ekonomi.


Viral Mabuk Kecubung, Pakar Ungkap Alasan Tanaman Ini Tak Lagi Digunakan untuk Obat Tradisional

1 hari lalu

Buah Kecubung Bisa Membuat Halusinasi? Begini Penjelasannya
Viral Mabuk Kecubung, Pakar Ungkap Alasan Tanaman Ini Tak Lagi Digunakan untuk Obat Tradisional

Pakar mengatakan kecubung sudah tidak digunakan lagi sebagai obat tradisional karena efek sampingnya yang berbahaya.


1.234 Calon Mahasiswa Baru ITB Ajukan KIP Kuliah, Jatah Pemerintah 787 Orang

1 hari lalu

Ilustrasi kampus ITB (Institut Teknologi Bandung). FOTO/ISTIMEWA
1.234 Calon Mahasiswa Baru ITB Ajukan KIP Kuliah, Jatah Pemerintah 787 Orang

Proses verifikasi mahasiswa angkatan 2024 yang mengajukan KIP Kuliah akan tertunda penyelesaiannya secara keseluruhan.


Alasan BRIN Sebut Kebun Raya Itera Cocok jadi Percontohan untuk Kampus dan IKN

1 hari lalu

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, mengunjungi Kebun Raya Institut Teknologi Sumatera (Itera), Kamis, 11 Juli 2024. Kebun Raya Itera digadang-gadang sebagai leading sector bagi perguruan tinggi di indonesia serta pendukung pendirian Kebun Raya Nasional di IKN. (Humas Itera)
Alasan BRIN Sebut Kebun Raya Itera Cocok jadi Percontohan untuk Kampus dan IKN

Kebun Raya Itera baru berusia dua tahun, namun pengembangan dan pengelolaannya dinilai sudah lebih dari cukup.


Cerita Peneliti BRIN ke Dasar Laut Selat Malaka Menumpang OceanXplorer

4 hari lalu

Ilustrasi - Kapal riset OceanXplorer menurunkan kapal selam untuk meneliti perairan. (ANTARA/HO-OceanX)
Cerita Peneliti BRIN ke Dasar Laut Selat Malaka Menumpang OceanXplorer

Peneliti mikroba dari BRIN ini menanti 12 tahun untuk bergabung dalam ekspedisi kapal riset Amerika OceanXplorer di Indonesia.


Misi Kapal OceanXplorer Sudah Separuh Jalan, Temukan Gunung Api Bawah Laut dan Hewan Baru

5 hari lalu

Seorang pilot Olaf melakukan simulasi pengendalian Remote Operated Vehicle (ROV) atau robot air yang berada di Kapal OceanXplorer di pelabuhan Teluk Bayur Padang, Sumatera Barat, Minggu, 23 Juni 2024. Organisasi nirlaba ekplorasi laut global, OceanX bersama dengan Kemenko Marves dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia menyelesaikan tahap kedua Misi Indonesia 2024 dan bersandar di Padang yang kemudian akan melanjutkan misinya bersama kapal riset tercanggih di dunia itu hingga ke Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Misi Kapal OceanXplorer Sudah Separuh Jalan, Temukan Gunung Api Bawah Laut dan Hewan Baru

Dalam misinya, OceanXplorer dilengkapi alat Remotely Operatted Vehicle untuk memetakan kondisi bawah laut hingga kedalaman maksimal 5 ribu meter.


ITB Bicara Skandal Guru Besar dan Tren Foto Lawas Jadi Video di Top 3 Tekno

5 hari lalu

Institut Teknologi Bandung. Istimewa
ITB Bicara Skandal Guru Besar dan Tren Foto Lawas Jadi Video di Top 3 Tekno

Forum Guru Besar di ITB blak blakan menyebut kalau beberapa tahun terakhir segala cara telah digunakan untuk mendapatkan jabatan profesor.


BRIN Anjurkan Peta Batimetri untuk Pengumpulan Data Prediksi Tsunami

6 hari lalu

Prototipe WaveXradar untuk pengukuran batimetri di sekitar area pantai. Radar bekerja hanya dengan gelombang elektromagnetik dari permukaan laut. (FOTO: TEMPO/ANWAR SISWADI)
BRIN Anjurkan Peta Batimetri untuk Pengumpulan Data Prediksi Tsunami

Hasil pemetaan topografi bawah laut atau batimetri bisa dimanfaatkan sebagai basis data prediksi bencana, terutama tsunami.


Banyak Dosen Ambil Jalan Pintas Jadi Guru Besar, Forum Guru Besar ITB: Rusak Marwah Kampus

6 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
Banyak Dosen Ambil Jalan Pintas Jadi Guru Besar, Forum Guru Besar ITB: Rusak Marwah Kampus

Memperoleh jabatan guru besar dengan cara tidak etis akan merusak kepercayaan masyarakat Indonesia dan internasional terhadap integritas jabatan itu.


Gaduh Jabatan Profesor, Forum Guru Besar ITB: Segala Cara Digunakan

6 hari lalu

Ilustrasi kampus ITB (Institut Teknologi Bandung). FOTO/ISTIMEWA
Gaduh Jabatan Profesor, Forum Guru Besar ITB: Segala Cara Digunakan

Segala cara digunakan agar mendapatkan jabatan profesor sehingga terjadi pelanggaran integritas akademik.