Sejarah Observatorium Bosscha, Sponsor Utamanya Seorang Juragan Kebun Teh

Reporter

Editor

Dwi Arjanto

Pekerja mengangkut konstruksi kubah peneropong bintang berukuran kecil di Observatorium Bosscha, Bandung, 4 Mei 2015. Konstruksi kubah ini akan dikirim ke peneropongan bintang Bosscha di Kupang. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta -Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium ini berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Tempat ini dibangun oleh NISV (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging) atau Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda yang dibangun pada 1923.

Mengutip dari laman Institut Teknologi Budi Utomo, observatorium ini bermula dari keinginan seorang insinyur astronom asal madiun, Dr. Joan George Erardus Gijsbertus Voute. Sebelumnya, Voute meneliti di Cape Observatory, Afrika Selatan, namun kurangnya dukungan pemerintah setempat membuat Voute kembali ke Batavia, Hindia Belanda.

Kemudian ia berupaya mempengaruhi beberapa astronom di Belanda untuk mendirikan Observatorium di Hindia Belanda. Persahabatannya dengan pengusaha kaya Karel Albert Rudolf Bosscha dan Rudolf Albert Kerkhoven semakin memperkuat dukungan terhadap pembangunan Observatorium ini.

Bosscha mengumpulkan pengusaha dan orang-orang terpelajar untuk membentuk organisasi NISV untuk menyalurkan uang untuk pembangunan observatorium. Hingga pada tahun 1928, diperkirakan organisasi ini mampu menyumbangkan 1 juta Gulden untuk dana pendirian dan operasional harian observatorium.

Dilansir dari laman Institut Teknologi Bandung, Observatorium Bosscha berada pada ketinggian 1310 m dari permukaan laut, atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Nama Observatorium ini diambil dari nama sponsor utamanya, Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang pemilik tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar.

Sebagai sebuah observatorium, tempat ini digunakan untuk pengamatan dan penelitian astronomi. Observatorium ini dilengkapi dengan teleskop berbagai ukuran dan jenis. Masing-masing teleskop memiliki sasaran objek pengamatan yang berbeda-beda.

Di Observatorium Bosscha, ada 5 teleskop yang aktif untuk penelitian astronomi. Di antaranya yaitu teleskop refraktor Ganda Zeiss, teleskop Schmidt Bima Sakti, teleskop Refraktor Bamberg, teleskop Cassegrain GOTO, dan teleskop refraktor Unitron.

WINDA OKTAVIA
Baca : Dua Kades di Lembang Diduga Jual Tanah Aset Negara, Kerugian Rp 50 Miliar






Tahukah Anda Ada Hari UFO Sedunia?

2 hari lalu

Tahukah Anda Ada Hari UFO Sedunia?

Hari UFO Sedunia pernah diperingati sebagian orang pada 24 Juni, dan sebagian lainnya pada 2 Juli. Begini alasannya.


BMKG Bandung dan Observatorium Bosscha Amati Hilal untuk Tentukan Idul Adha

6 hari lalu

BMKG Bandung dan Observatorium Bosscha Amati Hilal untuk Tentukan Idul Adha

Berdasarkan data perhitungan, posisi hilal atau bulan baru masih rendah dan sulit terlihat.


Fenomena Astronomi Planet Mundur, Neptunus Mulai Balik Arah Hari Ini

7 hari lalu

Fenomena Astronomi Planet Mundur, Neptunus Mulai Balik Arah Hari Ini

Ini adalah fenomena astronomi yang dikenal sebagai retrograde loop. Sebuah gerak semu.


Teleskop Cermin Cair Terbesar di Dunia Siap Amati Langit

12 hari lalu

Teleskop Cermin Cair Terbesar di Dunia Siap Amati Langit

Teleskop Cermin Cair Internasional (ILMT) memiliki cermin yang terbuat dari lapisan tipis merkuri cair.


Planetarium Jakarta Juga Ajak Nonton Supermoon Lewat YouTube Sore Ini

21 hari lalu

Planetarium Jakarta Juga Ajak Nonton Supermoon Lewat YouTube Sore Ini

Sebelumnya, Planetarium mengajak warga untuk ikut peneropongan langsung supermoon dari Ancol.


Mengenal Jenis-jenis Gerhana Bulan dan Prosesnya

21 hari lalu

Mengenal Jenis-jenis Gerhana Bulan dan Prosesnya

Gerhana bulan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu gerhana bulan total, gerhana bulan sebagian atau parsial, dan gerhana bulan penumbra. Prosesnya?


Ada Dua Hujan Meteor, Simak Kalender Astronomi Bulan Ini

32 hari lalu

Ada Dua Hujan Meteor, Simak Kalender Astronomi Bulan Ini

Ada dua puncak hujan meteor, solstis Juni dan konjungsi Bulan di bulan Juni.


Asteroid Besar Melintas Dekat Bumi Besok Malam, Berukuran 2 Kali Menara Dubai

39 hari lalu

Asteroid Besar Melintas Dekat Bumi Besok Malam, Berukuran 2 Kali Menara Dubai

Asteroid besar dengan status 'berpotensi berbahaya' akan melesat dekat Bumi besok malam, Jumat 27 Mei 2022, waktu Indonesia. NASA latihan pakai DART.


Hujan Meteor Tau-Herculids Akhir Bulan Ini Janjikan Pertunjukan Spektakuler

42 hari lalu

Hujan Meteor Tau-Herculids Akhir Bulan Ini Janjikan Pertunjukan Spektakuler

Hujan meteor Tau-Herculids berasal dari komet yang masih aktif terfragmentasi. Simak keterangan dari Bosscha tentang bagaimana dan kapan menikmatinya.


Cina Akan Berburu Bumi 2.0 dengan Teleskop Luar Angkasa

54 hari lalu

Cina Akan Berburu Bumi 2.0 dengan Teleskop Luar Angkasa

Teleskop Earth 2.0 akan menghabiskan empat tahun mengorbit Matahari-Bumi pada titik Lagrange 2.