Ilmuwan Oxford: Pasien Covid-19 di ICU Hampir Seluruhnya Belum Divaksin

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Seorang pria yang mengenakan masker berjalan melewati ilustrasi virus di luar pusat sains regional di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Oldham, Inggris, 3 Agustus 2020. [REUTERS/Phil Noble]

    Seorang pria yang mengenakan masker berjalan melewati ilustrasi virus di luar pusat sains regional di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Oldham, Inggris, 3 Agustus 2020. [REUTERS/Phil Noble]

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi sebagian masyarakat, Covid-19 masih merupakan wabah penyakit mematikan. Ini terlihat dalam ruang-ruang perawatan intensif (ICU) di rumah sakit-rumah sakit di mana para pasiennya harus berjuang untuk setiap tarikan napas mereka. Tapi ini hanya terjadi pada mereka yang belum divaksin.

    Ketua Program Vaksin Covid-19 di University of Oxford, Inggris, Andrew Pollard, mengatakan itu kepada THE GUARDIAN pada Selasa, 23 November 2021. Menurut profesor yang digelari Sir ini, meskipun virus baru varian Delta yang lebih menular terus menginfeksi ribuan orang dan melahirkan ribuan kasus infeksi baru, tapi kebanyakan dari mereka yang sudah divaksinasi dengan dosis penuh atau dosis protektif hanya mengalami infeksi ringan.

    “Tingkatannya hanya sedikit di atas ketidaknyamanan yang tidak menyenangkan,” kata satu di antara tokoh di balik Vaksin AstraZeneca itu dalam artikel yang ditulisnya bersama seorang profesor lainnya di Oxford, di bidang penyakit menular, Brian Angus.

    Keduanya berharap adanya suntikan penguat vaksin atau booster dan kekebalan alami yang didapat dari penyebaran varian Delta di musim panas lalu membantu Inggris Raya lolos dari dampak gelombang baru Covid-19 yang kini melanda banyak bagian Eropa. “Secara umum, Covid-19 bukan lagi penyakit bagi mereka yang sudah divaksin. Vaksin cenderung membatasi efek sesak napas yang dibawa penyakit itu, dengan beberapa pegecualian.”

    Pengecualian yang dimaksud adalah mereka yang telah berusia lanjut dan lemah karena komorbid yang tetap berisiko untuk setiap isu kesehatannya. Tapi, Pollard dan Brian meyakini, beberapa negara dengan tingkat vaksinasi yang lebih rendah daripada Inggris akan mengalami dampak dari gelombang terbaru yang jauh lebih parah di ruang-ruang ICU rumah sakitnya.

    Berdasarkan data dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, Inggris saat ini mencatat penambahan sebanyak 1.091.755 kasus baru Covid-19—dihitung secara kumulatif per 28 hari terakhir. Catatan itu per artikel ini dibuat, adalah tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang melaporkan penambahan 2.284.442 kasus baru di periode yang sama. Di bawah keduanya ada Rusia (1.055.485), Jerman (963.137), Turki (718.942) dan Ukraina (588.149).

    Untuk catatan angka kematian yang menyertai penambahan kasus barunya tersebut, Amerika Serikat melaporkan sebanyak 33.068 kasus, Inggris sebanyak 4.424 kasus, dan Rusia 32.813 kasus. Adapun angka kematian Covid-19 selama 28 hari ke belakang di Jerman, Turki dan Ukraina masing-masing 4.289 kasus, 5.891 kasus dan 18.250 kasus.

    THE GUARDIAN, JHU

    Baca juga:
    Carina Joe, Ilmuwan Indonesia Pemegang Paten Vaksin AstraZeneca: Tak Ada Royalti


    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.