Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Erupsi Semeru, Para Ahli Tak Sangka Awan Panas Sangat Besar

image-gnews
Awan Panas Guguran dari Gunung Semeru pada Sabtu 4 Desember 2021, pukul 17.24 WIB.
Awan Panas Guguran dari Gunung Semeru pada Sabtu 4 Desember 2021, pukul 17.24 WIB.
Iklan

TEMPO.CO, Bandung - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Eko Budi Lelono menyatakan erupsi berupa awan panas guguran Gunung Semeru pada Sabtu, 4 Desember 2021, lebih besar dan luas daripada biasanya. Dia menduga ada faktor lain yang memberi dampak erupsi pada hari itu.

“Kami sudah mengidentifikasi adanya awan panas guguran, erupsi yang menjadi ciri khas Semeru ini, tapi memang pertanyaannya yang kemarin itu cukup besar, ini mungkin ada faktor lain,” kata Eko dalam konferensi pers, Minggu, 5 Desember 2021.

Dugaan ditujukannya kepada curah hujan tinggi. Ini yang memicu awan panas guguran dalam jumlah sangat besar. Dia berjanji memberi perhatian untuk antisipasi bencana ke depan. "Meskipun secara rutin awan panas itu terjadi, namun bisa juga berpotensi besar seperti yang terjadi ini,” kata dia.

Eko mengatakan, awan panas guguran merupakan ancaman sekaligus karakteristik khas dari letusan Gunung Semeru. Dia menyebut awan panas berasal dari ujung aliran lava yang berada di lereng gunung. "Endapan awan panas guguran ini terdiri dari material batu bersuhu tinggi,” ujarnya.  

Eko mengatakan, Gunung Semeru berada dalam pengawasan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Eko meminta masyarakat tenang dan tetap waspada, sembari diimbaunya untuk hanya mencari informasi dari otoritas resmi seperti Badan Geologi, BNPB dan BPBD.

Eko mengatakan, status aktivitas Gunung Semeru saat ini masih dipertahankan di Level 2 atau Waspada. Warga diminta mematuhi rekomendasi yang diberikan lembaganya. Diantaranya menghindari kawasan seputar kawah dalam radius 1 kilometer, serta dalam radius 5 kilometer di arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

“Mewaspadai potensi awan panas guguran dan lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sarat,” tutur Eko.

Secara terpisah, vulkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengungkap dugaan yang sama mengenai pengaruh curah hujan dalam dampak erupsi Semeru pada Sabtu. “Ini sesuatu yang baru dari Semeru sekarang,” katanya saat dihubungi TEMPO, Ahad 5 Desember 2021.

Mekanismenya, kata Mirzam, curah hujan secara perlahan membuka tutupan puncak gunung yang tertimbun material letusan-letusan sebelumnya. Setelah itu terjadi erupsi atau ke luar magma ke permukaan melalui kerucut gunung api. Erupsi bisa juga diakibatkan dapur magma yang penuh, dan longsoran material di dapur magma.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Benar ada dorongan dari bawah gunung tapi proses kehilangan beban di tudung itu yang menjadi trigger utamanya,” kata Ketua Program Studi Sarjana Teknik Geologi ITB itu.

Sejumlah rumah dan truk pasir di Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, tertimbun material vulkanik erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu 4 Desember 2021. Foto: Istimewa

Masyarakat sekitar Gunung Semeru, menurut Mirzam, terbiasa dengan tanda-tanda erupsi berupa getaran. Tapi, adanya faktor hujan membuat proses erupsi dipercepat. "Orang menyangka tidak ada apa-apa, tapi ada lahar kemudian kepulan awan panas. Itulah yang terjadi."

Mirzam menerangkan, pembentukan lahar itu sebenarnya proses dari pembukaan tutup atau tudung gunung dari material vulkanik hasil letusan sebelumnya. "Nantinya," dia menekankan, "Meskipun tidak ada getaran, saat musim hujan, semua pihak harus lebih berhati-hati terhadap aktivitas Gunung Semeru."

Baca juga:
Kontras, Ini Aktivitas Gunung Merapi saat Semeru Erupsi Hebat


Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Iklan




Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Rencana Relokasi PKL Jalan Ganesha, Keluarga Mahasiswa ITB Tuntut 3 Hal

16 jam lalu

Ilustrasi kampus ITB. Instagram
Rencana Relokasi PKL Jalan Ganesha, Keluarga Mahasiswa ITB Tuntut 3 Hal

Keluarga Mahasiswa ITB mencatat beberapa masalah yang harus dijelaskan sebelum relokasi PKL.


Kelompok AbstraX dari ITB Pamerkan Lukisan Realis Hingga Abstrak di Galeri Lawangwangi

1 hari lalu

Pameran kelompok seniman AbstraX berjudul Dive into the world of Painting Matters di Galeri Lawangwangi Creative Space Bandung.(Tempo/Prima Mulia)
Kelompok AbstraX dari ITB Pamerkan Lukisan Realis Hingga Abstrak di Galeri Lawangwangi

Keragaman itu menunjukkan independensi masing-masing anggota kelompok AbstraX dalam percariannya tentang makna dan arti penting lukisan.


Topan Doksuri di China: Lahan Pertanian, Pabrik, hingga Pusat Perbelanjaan Kena Dampak

2 hari lalu

Orang-orang menyortir barang di luar supermarket, setelah hujan dan banjir akibat sisa-sisa Topan Doksuri, di Beijing, China 2 Agustus 2023. REUTERS/Tingshu Wang
Topan Doksuri di China: Lahan Pertanian, Pabrik, hingga Pusat Perbelanjaan Kena Dampak

Topan Doksuri yang melanda China menyebabkan lahan pertanian, pabrik, hingga pusat perbelanjaan terkena dampaknya.


12 Jurusan Langka di Kampus Indonesia

2 hari lalu

Mahasiswa astronomi ITB mengamati gerhana matahari sebagian menggunakan teleskop di Monumen Perjuangan, Bandung, Jawa Barat, Rabu 9 Maret 2016. TEMPO/Aditya Herlambang Putra
12 Jurusan Langka di Kampus Indonesia

Daftar jurusan langka di kampus Indonesia, antara lain Kriminologi, Oseanografi, Rekayasa Nanoteknologi, Sastra Belanda, dan Teknologi Batik.


Banjir Melanda Sabuk Gandum China Akibat Topan Doksuri

3 hari lalu

Orang-orang menyortir barang di luar supermarket, setelah hujan dan banjir akibat sisa-sisa Topan Doksuri, di Beijing, China 2 Agustus 2023. REUTERS/Tingshu Wang
Banjir Melanda Sabuk Gandum China Akibat Topan Doksuri

Heilongjiang, yang dikenal sebagai lumbung besar utara China, terendam banjir akibat amukan Topan Doksuri.


Cerita Dipilihnya Arvilla Delitriana, Perancang Longspan LRT Jabodebek yang Disebut Salah Desain

3 hari lalu

Perancang jembatan termasuk jembatan lengkung LRT Jabodetabek, Arvilla Delitriana. TEMPO/Prima Mulia
Cerita Dipilihnya Arvilla Delitriana, Perancang Longspan LRT Jabodebek yang Disebut Salah Desain

Desain longspan di lintasan LRT Jabodebek merupakan desain alternatif setelah pemilik proyek tak puas dengan desain dari konsultan asingnya.


Pemasaran Produk UMKM, Dosen ITB: Media Sosial untuk Menyasar Target Pasar

5 hari lalu

Beberapa produk dari UMKM Desa Babakan Kabupaten Pangandaran yang jadi sampel dalam acara bertajuk Pelatihan Media Sosial sebagai Sarana Branding Komunitas Perajin pada Rabu, 2 Agustus 2023.  TEMPO/Ananda Bintang
Pemasaran Produk UMKM, Dosen ITB: Media Sosial untuk Menyasar Target Pasar

Pemasaran UMKM di media sosial membutuhkan kata kunci pesan untuk menyasar target pasar


Topan Khanun Tewaskan Seorang Warga, Putus Aliran Listrik ke Sepertiga Rumah di Okinawa Jepang

5 hari lalu

Pemandangan pohon tumbang menyusul topan Khanun di Nago, Prefektur Okinawa, Jepang 2 Agustus 2023. Instagram/ @taku.triple_marine/via REUTERS
Topan Khanun Tewaskan Seorang Warga, Putus Aliran Listrik ke Sepertiga Rumah di Okinawa Jepang

Angin kencang akibat Topan Khanun menghantam kabel listrik di tujuan wisata populer Jepang Okinawa, mematikan listrik ke lebih dari 200.000 rumah


Curah Hujan Beijing Catat Rekor, Terderas Selama 140 Tahun Terakhir

5 hari lalu

Petugas penyelamat dengan perahu melewati jalan yang terendam banjir di lingkungan di mana hujan deras berhari-hari akibat sisa-sisa Topan Doksuri telah menyebabkan kerusakan berat di Beijing, China, 1 Agustus 2023. REUTERS/Thomas Peter
Curah Hujan Beijing Catat Rekor, Terderas Selama 140 Tahun Terakhir

Hujan yang melanda ibu kota Cina, Beijing, dalam beberapa hari terakhir adalah yang terderas sejak pencatatan dimulai 140 tahun lalu


10-15 Persen Kuota KIP Kuliah di ITB Dikembalikan ke Negara

5 hari lalu

Ilustrasi kampus ITB. Instagram
10-15 Persen Kuota KIP Kuliah di ITB Dikembalikan ke Negara

ITB mengikuti aturan yang ketat dalam verifikasi calon penerima KIP Kuliah ke mahasiswanya.