CDC Sebut Masker Kain Tak Efektif Tangkal Omicron, Rekomendasikan N95

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas polisi mengenakan masker pelindung memeriksa dokumen pengemudi, selama wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Ostia, dekat Roma, Italia 13 April 2020. REUTERS/Remo Casilli/File Photo

    Petugas polisi mengenakan masker pelindung memeriksa dokumen pengemudi, selama wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Ostia, dekat Roma, Italia 13 April 2020. REUTERS/Remo Casilli/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut masker kain sudah tak efektif menangkal virus corona varian Omicron, dibanding masker bedah atau respirator.

    "Masker respirator dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu dan oleh orang-orang tertentu ketika perlindungan yang lebih besar diperlukan atau diinginkan," kata laman CDC dikutip dari New York Times pada Selasa, 18 Januari 2022.

    Sebelumnya, CDC merekomendasikan individu dapat memilih untuk menggunakan respirator N95 sekali pakai ketika persediaan tersedia. Disebut respirator N95 karena masker jenis itu dapat menyaring 95 persen dari semua partikel di udara bila digunakan dengan benar.

    CDC juga mengatakan masker bedah biasa adalah alternatif yang dapat diterima bagi dokter dan perawat ketika berinteraksi dengan pasien yang terinfeksi virus corona.

    Butuh waktu berbulan-bulan lebih bagi CDC dan WHO untuk mengakui bahwa virus corona dapat dibawa oleh tetesan kecil yang disebut aerosol, yang dapat bertahan di dalam ruangan selama berjam-jam.

    Menurut deskripsi baru, produk masker dari kain tenunan longgar memberikan perlindungan paling sedikit dan produk tenunan halus berlapis menawarkan lebih banyak.

    Masker bedah sekali pakai yang pas dan KN95 — jenis masker respirator lainnya — lebih protektif daripada semua masker kain, dan respirator yang pas, termasuk N95, menawarkan tingkat perlindungan tertinggi.

    Badan tersebut mendesak orang Amerika untuk "mengenakan masker paling protektif yang Anda bisa, yang pas dan akan Anda kenakan secara konsisten."

    Sementara itu, pengamat COVID-19 dr Ali Alkatiri dalam siaran pers pada Selasa menyarankan penggunaan nose sanitizer sebagai tindakan pencegahan untuk membersihkan hidung dari virus.

    "Masyarakat harus lebih menjaga diri dengan melakukan tindakan preventif yang lebih baik. Masyarakat harus paham bahwa manusia bisa terinfeksi virus COVID-19 karena virus masuk salah satunya melalui saluran pernapasan. Cara preventif yang harus dilakukan adalah memastikan virus tidak masuk ke paru-paru, atau membunuh virus yang sudah masuk di saluran pernapasan."

    "Virus yang masuk akan berada selama beberapa hari di saluran pernapasan kita, yaitu rongga hidung dan nasofaring, di saat itulah kita harus membunuh virus tersebut sebelum masuk ke paru-paru. Nose sanitizer dapat membunuh virus 95 persen dalam waktu 24 jam," kata dia.

    Ali Alkatiri menyebutkan bahwa sejumlah negara sudah mulai menggunakan nose sanitizer seperti Inggris, Korea, Bahrain, dan Thailand.

    ANTARA

    Baca:
    Bukan Masker Kain Biasa, LIPI Ungkap Riset Superhydrophobic Coating

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Tren Covid-19 Kembali Meningkat Sepekan Setelah Lebaran, Sudah Siap Jadi Endemi?

    Kasus virus corona melonjak sepekan setelah libur lebaran. Di kesempatan lain, Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan pandemi mulai transisi ke endemi.