Logam Tanah Jarang di Tapanuli Utara Diselidiki Tahun Ini

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Logam Tanah Jarang. wikipedia.org

    Logam Tanah Jarang. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Bandung - Badan Geologi mengungkap rencana penelitian keberadaan logam tanah jarang di Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, tahun ini. Secara keseluruhan ada lima survei eksplorasi mineral logam yang dijadwalkan dilakukan tahun ini, selain yang juga masih akan berlangsung di area Lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

    Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eko Budi Lelono, mengungkap itu dalam konferensi pers daring tentang capaian kinerja lembaganya, Jumat, 21 Januari 2022.

    Selain di Tapanuli Utara, Eko menuturkan, lokasi lainnya adalah penyelidikan logam mulia di Simanguntong Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara dan Hulawa di Gorontalo; penyelidikan logam mulia dan logam dasar di Watulimo, Trenggalek; serta penyelidikan umum geokimia regional di Seram, Maluku.

    Eko juga mengatakan, setiap tahun lembaganya menerbitkan buku Sumber Daya dan Cadangan Mineral Batubara dan Panas Bumi. Kajian mengenai logam tanah jarang dan logam lainnya akan masuk dalam buku tersebut.

    “Mudah-mudahan kami selesaikan bulan ini sehingga buku Sumber Daya dan Cadangan itu bisa segera diterbitkan sehingga masyarakat bisa tahu sebenarnya berapa potensi-potensi yang ada di daerah-daerah yang disebutkan baik di Sidoarjo maupun di Tapanuli,” kata Eko. 

    Menurutnya, Badan Geologi melakukan penyelidikan logam tanah jarang berdasarkan cetak biru yang disusunnya. Baik yang di Lumpur Lapindo Sidoarjo maupun lainnya. "Road-map khususnya untuk di Tapanuli Utara, juga di Kalimantan Selatan juga ada potensi logam tanah jarang. Ini sudah ada road-map secara detil,” kata dia.

    Penelitian Logam Tanah Jarang di Lumpur Lapindo

    Eko mengatakan, penyelidikan logam tanah jarang dalam kandungan lumpur Lapindo di Sidoarjo masih berlangsung. Hasil penyelidikan tahun lalu mendapati bukan hanya logam rare earth, tapi ada mineral logam lain, termasuk logam critical raw material yang terkandung dalam Lumpur Lapindo. "Ini yang jumlahnya jauh lebih besar di Lapindo,” kata dia.  

    Namun Eko tidak merinci jenis logam yang ditemukan tersebut. Dia beralasan, penelitian yang dilakukan 2020 bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Perlu koordinasi terlebih dahulu atas hasil-hasil yang didapati masing-masing.

    "Baru selesai akhir tahun kemarin, Desember, dan saat ini sedang diintegrasikan sehingga nanti kita bisa tahu seberapa besar potensi logam tanah jarang di Sidoarjo,” katanya.

    Endapan lumpur Lapindo mengering di kolam penampungan di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu, 29 Mei 2021. ANTARA/Umarul Faruq

    Eko mengatakan, penyelidikan keberadaan logam tanah jarang di lumpur Lapindo sudah dilakukan sejak 2020. Penyelidikan awal telah menyimpulkan adanya indikasi keberadaan logam tanah jarang, yang di antaranya berguna untuk produksi baterai mobil listrik itu, dalam kandungan lumpur Lapindo.

    “Pada 2020 kami melakukan kajian yang sifatnya secara umum dan 2021 kajian yang lebih detil secara sistematis, hasilnya  masih dalam proses,” kata Eko.

    Eko mengatakan, penelitian kandungan logam tanah jarang di Lumpur Lapindo masih akan berlanjut tahun ini. Giliran Pusat Teknologi Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang akan digandeng Badan Geologi.

    Baca juga:
    Cerita Alat Pantau Aktivitas Gunung Sindoro-Sumbing yang Hilang dan Kembali Lagi


    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Tren Covid-19 Kembali Meningkat Sepekan Setelah Lebaran, Sudah Siap Jadi Endemi?

    Kasus virus corona melonjak sepekan setelah libur lebaran. Di kesempatan lain, Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan pandemi mulai transisi ke endemi.