Studi Telemedisin di AS Beberkan Kesulitan Warga Non-penutur Bahasa Inggris

Ilustrasi Layanan Telemedicine. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa warga yang kurang memiliki kemampuan berbahasa Inggris kesulitan mengakses layanan telemedisin di awal pandemi Covid-19 lalu. Hal itu dianggap mengkhawatirkan setelah pusat-pusat layanan kesehatan beralih dari perawatan tatap muka menjadi virtual.

“Itu benar-benar menjadi perhatian kami,” kata Denise Payán, asisten profesor kesehatan, masyarakat, dan perilaku di University of California, Irvine, Amerika Serikat, yang mengerjakan penelitian tersebut. 

Payán dan koleganya mewawancarai staf dan pasien di dua pusat kesehatan masyarakat di California tentang pengalaman mereka menggunakan telemedisin antara Desember 2020 dan April 2021. Salah satu klinik melayani populasi yang sebagian besar adalah penutur bahasa Spanyol, dan yang kedua melayani populasi yang sebagian besar adalah penutur bahasa Mandarin.

Tim peneliti menemukan bahwa pasien klinik yang memiliki kendala dengan bahasa Inggris harus berjuang untuk mengatur dan menggunakan platform seperti Zoom untuk kunjungan kesehatan. Bahkan untuk sekadar membaca topik FAQ (frequently asked question).“Ada ketergantungan kepada personel klinik, staf, atau anggota keluarga—seperti anak-anak, yang membantu orang tua mereka terhubung dengan kunjungan video,” ” kata Payán.

Tim juga menemukan kalaupun ada informasi pada suatu platform dialihkan bahasakan, sering kali kali terjemahannya buruk. Payán mendapati pasien yang mengatakan, "Saya membaca FAQ dalam bahasa Spanyol, dan saya memiliki kefasihan dan tingkat membaca yang tinggi dalam bahasa Spanyol, tetapi tetap tidak mengerti karena terjemahannya buruk dan tidak masuk akal."

Mengintegrasikan dengan pihak ketiga seperti penerjemah untuk pasien yang tidak berbahasa Inggris ke dalam platform telemedisin juga ditemukan tak mudah. Menurut Payán, hal itu merupakan tantangan logistik untuk menambahkan orang ketiga ke telepon atau panggilan video, terutama di platform yang tidak disiapkan untuk mendukung layanan penerjemahan eksternal.

Itu bisa berarti penundaan tambahan untuk perawatan. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti pasien yang mendapat telepon dari nomor yang tidak mereka kenal, lalu tidak mau menjawab, dapat menggagalkan proses perawatan kesehatan. Menurut Payán, memiliki layanan penerjemahan adalah kunci untuk perawatan yang baik.

"Sebab orang yang berbicara bahasa Inggris terbatas berisiko mengalami hasil kesehatan yang buruk karena mereka juga tidak dapat memahami penyedia medis mereka," katanya.

Sebaliknya, merekrut dan mempertahankan staf dari komunitas yang sama dengan pasien dapat membantu membangun kepercayaan dan meningkatkan perawatan, terutama selama masa-masa sulit. “Sangat penting bahwa (dokter) berbicara dalam bahasa yang sama karena dengan begitu, kami saling memahami,” kata seorang pasien berbahasa Spanyol dalam sebuah wawancara penelitian.

Kendala bahasa bukan satu-satunya masalah. Kasus lain, banyak pasien tidak memiliki literasi digital untuk menggunakan telemedisin, tidak memiliki perangkat yang dapat menggunakan alat telehealth, atau tidak memiliki akses internet yang cukup baik untuk terhubung dengan penyedia.

Temuan penelitian menunjukkan betapa pentingnya setiap platform telemedisin untuk mempertimbangkan pengguna mereka yang paling rentan saat mengembangkan alat. "Orang yang memiliki kendala bahasa Inggris, misalnya, harus dimasukkan dalam uji coba," kata Payán.

THE VERGE

Baca juga:
PCR Positif tapi tak Bisa Dapat Obat Gratis? Bagian Ini Kuncinya


Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.






Jaga Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi agar Kualitas Hidup Tetap Baik

11 jam lalu

Jaga Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi agar Kualitas Hidup Tetap Baik

Aspek kesehatan jiwa perlu menjadi perhatian bersama demi kesejahteraan psikologis masyarakat kala harus beradaptasi dengan situasi pandemi COVID-19.


Otoritas Kesehatan Amerika Serikat Longgarkan Aturan Covid-19

22 jam lalu

Otoritas Kesehatan Amerika Serikat Longgarkan Aturan Covid-19

CDC memperbaharui aturan Covid-19 di Amerika Serikat. Sekolah tak lagi perlu melakukan karantina mandiri jika ada yang positif Covid-19.


Kim Jong Un Demam Tinggi Saat Pandemi Covid-19 Mewabah

1 hari lalu

Kim Jong Un Demam Tinggi Saat Pandemi Covid-19 Mewabah

Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un sebelumnya mengatakan kakaknya sempat sakit parah dan demam tinggi saat kasus Covid-19 merebak di Korea Utara.


Kim Jong Un Umumkan Korea Utara Menang Lawan Covid

1 hari lalu

Kim Jong Un Umumkan Korea Utara Menang Lawan Covid

Dalam dua pekan terakhir, pemerintah Korea Utara tak menemukan kasus Covid-19 yang baru. Kim Jong Un mengumumkan negaranya menang lawan Corona.


Omicron Baru Lagi yang Lebih Menular: BA.4.6 Versus BA.5 dan BA.2.75

1 hari lalu

Omicron Baru Lagi yang Lebih Menular: BA.4.6 Versus BA.5 dan BA.2.75

Pemerintah dan masyarakat di Indonesia diminta tak cemas dengan adanya subvarian Omicron terbaru tapi jangan juga dipandang remeh.


Inilah Gejala Orang yang Terinfeksi Virus Langya, Virus Baru yang Ditemukan di Cina

2 hari lalu

Inilah Gejala Orang yang Terinfeksi Virus Langya, Virus Baru yang Ditemukan di Cina

Virus Langya merupakan jenis virus baru yang ditemukan di Cina dengan gejala demam, batuk, kelelahan, dan mual.


Terdeteksi di 43 Negara, Ini yang Perlu Diketahui tentang Covid-19 Subvarian BA.4.6

2 hari lalu

Terdeteksi di 43 Negara, Ini yang Perlu Diketahui tentang Covid-19 Subvarian BA.4.6

Pakar mengatakan subvarian baru COVID-19 BA.4.6 saat ini telah terdeteksi di 43 negara. Berikut hal yang perlu diperhatikan.


Kota Sanya di Cina Lockdown, Lebih dari 80.000 Turis Terjebak

2 hari lalu

Kota Sanya di Cina Lockdown, Lebih dari 80.000 Turis Terjebak

Sanya yang juga dikenal sebagai Hawaii Cina telah mendaftarkan 801 kasus COVID-19 dari 1 hingga 7 Agustus 2022, akhirnya lockdown.


Toyota Tangguhkan Produksi di Salah Satu Pabrik di Jepang karena Wabah Covid-19

3 hari lalu

Toyota Tangguhkan Produksi di Salah Satu Pabrik di Jepang karena Wabah Covid-19

Toyota telah menangguhkan produksi shift malam pada salah satu lini produksi di pabrik di Jepang karena pekerja terinfeksi Covid-19.


Kasus Covid-19 di Tibet Mulai Meresahkan

3 hari lalu

Kasus Covid-19 di Tibet Mulai Meresahkan

Warga Tibet yang tinggal di sejumlah wilayah diminta melakukan tes massal Covid-19.