Memupuk Laut, Mendinginkan Bumi

Reporter

Editor


TEMPO Interaktif, Berlin:
Lampu hijau yang ditunggu 48 ilmuwan di atas kapal riset Jerman, Polarstern, menyala. Pemerintah Jerman akhirnya mengizinkan Polarstern menumpahkan muatannya, enam ton larutan besi sulfat, ke Samudra Selatan.
Tak mudah bagi tim gabungan dari Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research di Helmholtz Association, Jerman, dan National Institute of Oceanography, India, memperoleh izin itu. Awal Januari lalu, pemerintah Jerman sempat meminta institut risetnya menunda eksperimen itu sampai hasil analisis dampak lingkungannya selesai.
Eksperimen ini diberi nama LOHAFEX. Loha berarti besi dalam bahasa Hindi, sedangkan fex adalah singkatan dari fertilization experiment. Dalam eksperimen ini, para ilmuwan akan memupuk area seluas 300 kilometer persegi dengan enam ton besi sulfat.
Mineral ini akan memicu algal bloom, pertumbuhan cepat alga bersel tunggal atau fitoplankton. Stimulasi pertumbuhan ganggang dengan nutrisi tambahan ini diyakini dapat menjadi solusi untuk menyerap karbon dioksida dari udara dan mengurangi laju pemanasan global.
Fitoplankton tak hanya menyediakan makanan bagi kehidupan organisme laut lainnya, tapi juga memainkan peran penting dalam mengatur konsentrasi gas rumah kaca, karbon dioksida (CO2) di atmosfer.
Dalam proses fotosintesisnya, tumbuhan laut mikroskopis ini akan menyerap CO2. Ketika mereka mati, sebagiannya lagi akan tenggelam ke dasar laut, lalu CO2 dalam tubuhnya juga akan mengendap dan tersimpan di sana. Berarti, teknik geo-engineering tersebut akan memindahkan gas rumah kaca di atmosfer ke dasar samudra dan tidak memerangkap radiasi matahari.
Tapi, kelompok lingkungan khawatir eksperimen itu justru menghancurkan ekosistem laut yang rapuh. Mereka takut pemupukan akan membuat laut semakin asam atau memicu algal bloom yang akan menyerap oksigen dari air laut dan membuat ikan mati kehabisan oksigen.
Teknik ini memang masih kontroversial karena pengaruhnya terhadap ekosistem laut belum diketahui secara pasti. Para ilmuwan menyatakan bahwa eksperimen ini justru dilakukan untuk mempelajari efek pemupukan tersebut. LOHAFEX adalah eksperimen pemupukan besi keenam yang dilakukan di Samudra Selatan sejak 1993. "LOHAFEX akan menyediakan data bagi riset sistem bumi dan iklim jika eksperimen dilakukan sesuai dengan rencana," kata Karin Lochte, Direktur Alfred Wegener Institute (AWI).
Adanya kontroversi ini membuat pemerintah Jerman tidak mau gegabah. Izin baru diterbitkan setelah hasil peninjauan ilmiah dan hukum independen yang dikeluarkan oleh Federal Ministry of Education Research dan Federal Ministry for Environment, Nature Conservation and Nuclear Safety, menyimpulkan bahwa eksperimen ini tak melanggar standar lingkungan ataupun hukum internasional yang berlaku, termasuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati. Itu berarti tak ada lagi alasan hukum maupun ekologis untuk menunda LOHAFEX.
Lochte menyatakan kontroversi atas LOHAFEX telah meruncing menjadi konflik politik. "Padahal hanya studi ilmiah independen seperti LOHAFEX yang dapat membantu pengambilan keputusan politik apakah pemupukan besi di laut adalah teknik yang berguna dalam melindungi iklim," katanya.
Dia menekankan bahwa eksperimen ini dikembangkan berdasarkan isu ilmiah murni untuk memahami peran besi dalam sistem iklim global. "Ini bukan eksperimen untuk mengetes opsi geo-engineering memupuk laut untuk menangkap sebanyak mungkin karbon dioksida dari atmosfer," kata Lochte. "Kami berharap, lewat eksperimen ini, kami dapat berkontribusi untuk memahami biogeokimia laut dan fungsi ekosistem pelagik atau perairan terbuka."
Meski sempat tertunda, saat ini Polarstern, kapal pemecah es milik AWI, yang berangkat dari Cape Town, Afrika Selatan, pada 7 Januari lalu telah sampai di lokasi pemupukan. Perlu waktu sekitar dua pekan untuk mencapai daerah itu dan memilih lokasi yang cocok.
Setelah beberapa hari melakukan pemeriksaan awal, tim ilmuwan yang 30 orang di antaranya berasal dari India telah menemukan sebuah arus pusaran yang cocok untuk eksperimen itu. Lokasinya terletak pada 48 derajat Lintang Selatan dan 15 derajat 30' Bujur Barat.
Sebuah pelampung dengan alat pelacak posisi akan ditaruh di dekat pusat pusaran itu. Dari titik tersebut, Polarstern akan menyebar larutan besi sulfat di sepanjang lintasan spiral itu di kedalaman 15 meter. Pemupukan akan berlangsung selama 30 jam.
Segera setelah besi selesai dituang, para ilmuwan terus-menerus mengukur parameter fisik, kimia, dan biologis, baik di dalam maupun di luar area pemupukan. Perubahan ekologis di semua lapisan kolom air, mulai dari permukaan sampai dasar laut pada kedalaman 3.800 meter, akan dimonitor selama 40 hari.
Biomassa komunitas plankton diperkirakan akan meningkat secara substansial sekitar dua pekan setelah pemupukan itu. Materi organik mati yang dihasilkan pertumbuhan cepat itu akan diteliti secara mendetail. Setelah mengadakan riset interdisipliner selama 45 hari, ekspedisi itu dijadwalkan akan berakhir di Punta Arenas, Cile, pada 17 Maret 2009.
TJANDRA DEWI | AFP | AP | AWI | NATURE





Mahasiswa UGM Manfaatkan Aspal Jalanan Untuk Kurangi Peningkatan Suhu Perkotaan

14 September 2022

Mahasiswa UGM Manfaatkan Aspal Jalanan Untuk Kurangi Peningkatan Suhu Perkotaan

Mahasiswa UGM menggagas inovasi pemanfaatan aspal sebagai kolektor panas Asphalt Thermal Collector untuk mengurangi peningkatan suhu.


Anies Baswedan Sebut Balap Formula E bukan Kongres atau Munas, Maksudnya Apa?

3 Juni 2022

Anies Baswedan Sebut Balap Formula E bukan Kongres atau Munas, Maksudnya Apa?

Anies Baswedan mengatakan balapan Formula E merupakan jawaban Jakarta untuk menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global.


Ketika Pradikta Wicaksono Kesal Disebut Dekil, Kurus, dan Gondrong

24 September 2021

Ketika Pradikta Wicaksono Kesal Disebut Dekil, Kurus, dan Gondrong

Pradikta Wicaksono mengungkapkan kejengkelannya ketika penampilannya yang disebut dekil, kurus, dan gondrong ini dikaitkan dengan tuntutan menikah.


Perbedaan Generasi Z dan Generasi Milenial, Siapa Lebih Peduli Lingkungan?

31 Agustus 2021

Perbedaan Generasi Z dan Generasi Milenial, Siapa Lebih Peduli Lingkungan?

Setiap generasi memiliki ciri spesifiknya, apa perbedaan Generasi Z dan pendahulkunya, Generasi Milenial?


Ciri Spesifik Generasi Z Lahir antara 1995 - 2010, Selain itu Apa Lagi?

31 Agustus 2021

Ciri Spesifik Generasi Z Lahir antara 1995 - 2010, Selain itu Apa Lagi?

Istilah Generasi Z berseliweran di media sosial. Apa sebenarnya yang dimaksud Gen Z ini dan bagaimana ciri-cirinya?


Faisal Basri Serukan Boikot Bank yang Membiayai Proyek Batu Bara

20 April 2021

Faisal Basri Serukan Boikot Bank yang Membiayai Proyek Batu Bara

Ekonom senior Faisal Basri ikut mendorong perbankan untuk tidak lagi membiayai proyek-proyek batu bara.


BMKG Sebut Siklon Seroja Tak Lazim, Bisa Picu Gelombang Tinggi Mirip Tsunami

6 April 2021

BMKG Sebut Siklon Seroja Tak Lazim, Bisa Picu Gelombang Tinggi Mirip Tsunami

BMKG mengatakan dampak siklon ke-10 ini yang paling kuat dibandingkan siklon-siklon sebelumnya, Masuk ke daratan dan menyebabkan banjir bandang.


Mensos Risma: Erupsi Gunung Semeru Mungkin Dampak Global Warming

18 Januari 2021

Mensos Risma: Erupsi Gunung Semeru Mungkin Dampak Global Warming

Mensos Risma menyebut peristiwa erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur kemungkinan sebagai dampak dari pemanasan global atau global warming.


Cegah Global Warming, Pebisnis Tur Rick Steves Sumbang US$1 Juta

15 Oktober 2019

Cegah Global Warming, Pebisnis Tur Rick Steves Sumbang US$1 Juta

Pariwisata menyumbang pembuangan karbon dalam Global warming. Itulah yenga mendorong pebisnis tur Rick Steves menyumbang US$ 1 juta.


Peduli Perubahan Iklim, Ramon Y Tungka Mau ke Amerika Latin

27 April 2019

Peduli Perubahan Iklim, Ramon Y Tungka Mau ke Amerika Latin

Ramon Y Tungka mengatakan, perjalanannya tersebut bukan sekadar untuk bersenang-senang.