Menguak Jendela Migrasi Burung Penyanyi

Reporter

Editor


TEMPO Interaktif, Washington:
Burung penyanyi kecil bukan burung tercepat. Untuk sementara rekor itu masih berada digenggam burung alap-alap (Falco peregrinus) yang kecepatan terbangnya mencapai 320 kilometer per jam. Meskipun bukan yang tercepat, kemampuan terbang burung penyanyi bertubuh mungil itu membuat Bridget Stutchbury, dosen biologi di York University di Toronto, Kanada, terkejut.
Burung kecil itu mampu terbang menempuh jarak lebih dari 480 kilometer dalam sehari dalam migrasi tahunannya. Selama ini, Stutchbury dan ilmuwan lain menduga burung sekecil itu terbang jauh lebih pelan.
Untuk pertama kalinya, para ilmuwan dapat memasang geolocator backpack pada burung-burung bertubuh kecil ini. Berkat alat tersebut, mereka dapat melacak perjalanan burung itu dari tempat tinggalnya di Amerika Utara ke berbagai daerah tropis. Sebelum ditemukannya geolocator, para ilmuwan hanya bisa mengikuti penerbangan burung-burung besar seperti angsa.
"Kami gembira bisa menjadi ilmuwan pertama yang melakukannya," kata Stutchbury. "Tak ada orang lain yang pernah bisa melacak seluruh perjalanan migrasi burung penyanyi." Burung penyanyi adalah jenis burung yang sering kita lihat beterbangan di langit, tetapi terlalu kecil untuk satelit pelacak konvensional.
Perlengkapan pelacak baru itu amat ringan, cuma sedikit lebih berat dibanding sebuah penjepit kertas, memungkinkan pelacakan burung penyanyi kecil seperti burung layang-layang purple martin (Progne subis) dan sejenis burung anis, wood thrush (Hylocichla mustelina). Bentuknya yang imut juga tak membebani atau mengganggu gerak burung tersebut. Berat kedua jenis burung itu hanya 50 gram, jadi alat pelacak yang digunakan harus ekstraringan.
Berkat alat itu, Stutchbury bisa memonitor jarak, lokasi, dan waktu tempuh migrasi burung itu. "Migrasinya di luar dugaan amat cepat," kata perempuan itu. "Saya kira tak seorang pun punya gagasan bahwa burung penyanyi kecil bisa bergerak secepat itu."
Terbang 480 kilometer per hari, berarti tiga kali lipat lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Para pakar semula menduga burung ini hanya terbang sekitar 145 kilometer per hari. "Kami tercengang dengan waktu kedatangan kembali burung itu di musim semi," ujarnya. "Burung itu meninggalkan Brasil pada 12 April dan pada akhir bulan sudah sampai di rumah, di Amerika Utara, sungguh mengagumkan. Kami selalu mengasumsikan mereka telah meninggalkan Brasil sejak Maret."
Kecepatan terbang yang ditunjukkan burung itu jauh lebih tinggi ketika menuju ke utara di musim semi dibandingkan ketika berangkat bermigrasi ke selatan di musim gugur. Tingkat migrasi burung penyanyi itu dua sampai enam kali lipat lebih cepat di musim semi dibandingkan musim gugur. Misalnya, seekor layang-layang purple martin butuh 43 hari untuk mencapai Brasil pada migrasi musim gugur, tetapi perjalanan pulang ke tempat koloninya berkembang biak hanya ditempuh dalam 13 hari. "Pergerakan jarak jauh dalam kecepatan tinggi ini terjadi pada kedua spesies," kata Stutchbury.
Dosen di Fakultas Sains dan Teknik York University itu yakin bahwa migrasi di musim semi jauh lebih cepat karena ada keuntungan besar bisa tiba sebagai burung pertama di tempat berkembang biak. Para pionir bisa memperoleh lokasi sarang terbaik, peluang untuk mendapat pasangan berkualitas tinggi serta bisa lebih dulu berkembang biak.
Helen F. James, seorang kurator burung dari National Museum of Natural History di Smithsonian, menyatakan bahwa hasil pemantauan ini adalah sebuah terobosan dalam memahami migrasi burung dan konservasi burung kecil. "Saya amat terkejut dengan kecepatan terbangnya, yang bisa disejajarkan dengan burung yang lebih besar semisal burung air Cerek Kernyut (Pluvialis fulva)," kata James. "Mengagumkan bahwa kita bisa melihat pergerakan ini."
Riset yang didanai oleh Natural Science Engineering Research Council of Canada, National Geographic Society, dan Purple Martins Conservation Association ini memang bertujuan memahami bagaimana migrasi dan berbagai perubahan iklim dan habitat mempengaruhi burung penyanyi. "Sekitar 30 spesies burung penyanyi di Amerika Utara memperlihatkan penurunan populasi jangka panjang yang signifikan," kata Stutchbury. "Kami perlu mengetahui apakah daerah persinggahan di musim dingin atau kawasan perkembangbiakan yang mendorong populasinya turun."
Dalam studi itu, Stutchbury dan timnya dari York University menangkap wood thrush dan purple martin di Pennsylvania barat dan memasangi punggung burung itu dengan perangkat pelacak lokasi. Plastik bening seberat 1,5 gram itu memiliki sensor pelacak dan mencatat kapan matahari terbit dan terbenam setiap hari. Para peneliti harus menangkap burung itu ketika mereka kembali ke Pennsylvania dan mengunggah data dalam geolocator ke komputer.
Pencatatan waktu matahari terbit dan terbenam amat penting untuk mengetahui lokasi sang burung yang dicatat setiap hari. Dengan mencatat waktu matahari terbit dan terbenam, para ilmuwan bisa memperkirakan garis bujur dan lintang tempat burung itu berada.
Stutchbury memasang alat pelacak itu pada 14 wood thrush dan 20 purple martin pada 2007 untuk melacak keberangkatan saat musim gugur, migrasinya ke selatan dan perjalanan pulang para burung tersebut. Pada musim panas 2008, para ilmuwan mengambil kembali geolocator dari lima wood thrush dan dua purple martin. Tidak jelas apa yang terjadi dengan sebagian besar burung lain yang juga dipasangi alat itu meski Stutchbury mengatakan bahwa setidaknya ada dua burung yang terlihat menggunakan pelacak tetapi tidak berhasil ditangkap.
Burung purple martin bermigrasi ke lembah sungai Amazon di Brasil pada musim dingin, sedangkan wood thrush menghabiskan akhir tahun di sebuah jalur sempit di Nikaragua dan Honduras. Sejumlah burung sempat beristirahat dan singgah dalam perjalanan tersebut, menghabiskan beberapa hari di tenggara Amerika Serikat atau di daerah Yucatan, Meksiko.
Persinggahan panjang selama migrasi musim gugur itu biasa dilakukan burung-burung itu. Purple martin singgah tiga sampai empat pekan di Yucatan sebelum melanjutkan penerbangan ke Brasil. Empat burung wood thrush menghabiskan satu atau dua pekan di sebelah tenggara Amerika Serikat pada akhir Oktober, sebelum menyeberang ke Teluk Meksiko, dan dua burung lainnya berhenti di Semenanjung Yucatan selama dua sampai empat pekan sebelum melanjutkan migrasinya.
Studi itu juga mengungkap bukti bahwa burung anis wood thrush dari kelompok perkembangbiakan yang sama tetap berkumpul dan tidak menyebar ketika tiba di daerah tropis tempatnya mengungsi selama musim dingin. Kelima wood thrush itu menghabiskan waktu di sebuah jalur sempit yang sama di timur Honduras atau Nikaragua. "Kawasan ini amat penting bagi seluruh upaya konservasi wood thrush, spesies yang populasinya menyusut sampai 30 persen sejak 1966," kata Stutchbury. "Populasi burung penyanyi di seluruh dunia juga terus menurun selama 30 atau 40 tahun sehingga banyak keprihatinan mengenai kelangsungan mereka."
Stutchbury mengatakan, pada awalnya dia cemas alat pelacak itu akan memperlambat terbang burung kecil tersebut. "Namun, kekhawatiran itu langsung runtuh ketika saya melihat kecepatan terbang mereka pada migrasi musim semi," ujarnya.
Kini Stutchbury melakukan tes lanjutan terhadap kedua jenis burung kecil tersebut. Langkahnya menggunakan geolocator juga diikuti peneliti lain yang melakukan tes serupa pada burung kecil semacam bobolink (Dolichonyx oryzivorus).
TJANDRA DEWI | AP | UYORK | SCIENCEDAILY | LIVESCIENCE | NYTIMES | AVIBASE





BKSDA Jakarta Selamatkan Satwa Didominasi dari Jakarta Barat dan Tangerang

27 hari lalu

BKSDA Jakarta Selamatkan Satwa Didominasi dari Jakarta Barat dan Tangerang

Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Jakarta menerima sebanyak 362 satwa sepanjang 2022.


Kekeringan di Kenya Membunuh 205 Ekor Gajah

5 November 2022

Kekeringan di Kenya Membunuh 205 Ekor Gajah

Afrika Timur dilanda kekeringan terburuk dalam 40 tahun terakhir. Satwa liar Kenya juga menanggung akibatnya.


KLHK: Penanganan Perdagangan Satwa Liar Harus Dilakukan Bersama

28 Oktober 2022

KLHK: Penanganan Perdagangan Satwa Liar Harus Dilakukan Bersama

Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan perdagangan satwa liar adalah kelangkaan, kepunahan spesies dan ketidakseimbangan ekosistem di habitat aslinya.


Marak Topeng Monyet, BKSDA Kalimantan Tengah Minta Warga Melaporkan

21 September 2022

Marak Topeng Monyet, BKSDA Kalimantan Tengah Minta Warga Melaporkan

Pertunjukan topeng monyet iberdampak negatif bagi manusia ataupun satwa monyetnya.


BKSDA Jakarta Gagalkan Penyelundupan Serangga dalam Boneka ke Arab Saudi

6 September 2022

BKSDA Jakarta Gagalkan Penyelundupan Serangga dalam Boneka ke Arab Saudi

Kini hewan tersebut diamankan oleh BKSDA Jakarta dan direncanakan akan dilepasliarkan.


BKSDA Lepas Empat Kukang ke Cagar Alam Maninjau

16 Agustus 2022

BKSDA Lepas Empat Kukang ke Cagar Alam Maninjau

Empat kukang tersebut terdiri dari tiga ekor yang merupakan barang bukti kejahatan perdagangan satwa dan satu ekor merupakan penyerahan warga


Bercengkerama dengan Satwa Liar di Taman Nasional Ujung Kulon

14 Agustus 2022

Bercengkerama dengan Satwa Liar di Taman Nasional Ujung Kulon

Salah satu destinasi wisata di Provinsi Banten adalah Taman Nasional Ujung Kulon. Apa saja keistimewaan destinasi wisata ini?


12 Agustus Hari Gajah Sedunia, Kapan Pertama kali Diperingati?

12 Agustus 2022

12 Agustus Hari Gajah Sedunia, Kapan Pertama kali Diperingati?

Hari gajah sedunia difungsikan untuk memperjuangkan kelestarian dan kesejahteraan gajah di dunia. Warga dunia diingatkan setiap 12 Agustus.


BKSDA Buru Penembak Hiu Tutul yang Mati Terdampar di Kulon Progo

27 Juli 2022

BKSDA Buru Penembak Hiu Tutul yang Mati Terdampar di Kulon Progo

Penembakan hiu tutul itu bisa dijerat pasal perburuan satwa liar.


Steve Irwin Terkenal sebagai Pemburu Buaya, Mati Disengat Ikan Pari

18 Juli 2022

Steve Irwin Terkenal sebagai Pemburu Buaya, Mati Disengat Ikan Pari

Steve Irwin pelestari satwa liar yang dikenal sebagai croc cathcer, pemburu buaya. Kematiannya pada 2006, akibat disengat ikan pari menggemparkan.