Ledakan Sinar Gamma Terbesar

Reporter

Editor


TEMPO Interaktif, Washington:Ledakan besar di antariksa yang terdeteksi oleh teleskop Fermi milik Badan Antariksa Amerika (NASA) diperkirakan sebagai ledakan sinar gamma terbesar yang pernah terdeteksi selama ini. Dalam laporan yang dipublikasikan di Science Express, Kamis lalu, para ilmuwan mengatakan, ledakan hebat itu terjadi pada September 2008 di konstelasi Carina.
Ledakan itu menghasilkan energi berkisar dari 3.000 sampai lebih dari lima miliar kali lipat daripada cahaya terlihat, kata ahli astrofisika. "Cahaya terlihat memiliki kisaran energi antara dua dan tiga elektron volt. Ledakan ini mencapai jutaan sampai miliaran elektron volt," kata Frank Reddy, astrofisikawan NASA.
Reddy menyatakan, ledakan ini amat luar biasa. "Jika Anda memandangnya dalam terminologi energi, sinar X jauh lebih berenergi karena mereka menembus apa pun, ujarnya. "Sinar ini tidak dapat dihentikan oleh apa pun, mereka langsung menembus masuk dan itulah mengapa kita bisa melihatnya dari jarak yang amat jauh."
Sebuah tim yang dipimpin oleh Jochen Greiner dari Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics, Jerman, memperkirakan pancaran sinar gamma yang amat dahsyat itu terjadi pada lokasi yang berjarak 12,2 miliar tahun cahaya.
Itu berarti ledakan tersebut bersumber dari tempat yang amat jauh karena matahari yang berjarak 150 juta kilometer dari bumi cuma delapan menit cahaya. Sedangkan Pluto yang 39 kali lebih jauh daripada bumi-matahari berjarak 12 jam cahaya.
Berdasarkan jarak ledakan itu dari bumi, para ilmuwan mengetahui bahwa pancaran energi itu jauh lebih kuat daripada 9.000 supernovae--ledakan kuat yang terjadi pada saat bintang mati--dan semburan gas yang dilepaskan sinar gamma bergerak hampir sama dengan kecepatan cahaya. "Kekuatan dan kecepatannya membuat ledakan ini sebagai ledakan sinar gamma paling ekstrem yang pernah tercatat," kata keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Energi Amerika Serikat.
Letusan sinar gamma adalah ledakan paling terang di alam semesta. Para astronom yakin bahwa letusan sinar ini terjadi ketika bintang raksasa kehabisan bahan bakar nuklirnya dan hancur. Hamburan sinar yang berlangsung lama, berakhir lebih dari dua detik, terjadi pada bintang raksasa yang hampir hancur sementara ledakan singkat atau kurang dari dua detik terjadi pada bintang yang lebih kecil.
Dengan mempelajari ledakan sinar gamma ini, para ilmuwan bisa mengambil contoh bintang individual pada jarak teramat jauh, bahkan galaksinya pun tak terlihat jelas. Observasi terhadap ledakan besar ini juga dapat mengungkap tentang teka-teki antariksa. "Emisi ledakan pada energi ini masih kurang dipahami dan Fermi memberi kita perangkat untuk memahaminya," kata Peter Michelson, fisikawan Stanford University, kepala intigator teleskop area luas Fermi. "Dalam beberapa tahun, kami akan dapat memiliki sampel letusan yang amat baik dan mungkin bisa menjawab segalanya."
Teleskop Fermi dan satelit Swift NASA mendeteksi 1.000 ledakan sinar gamma setahun atau satu ledakan setiap 100.000 tahun di salah satu galaksi. Astrofisikawan memperkirakan ada ratusan miliar galaksi di seluruh alam semesta.
TJANDRA | AFP





Begini Kepala Observatorium Bosscha Melihat Devitalisasi Planetarium Jakarta

6 hari lalu

Begini Kepala Observatorium Bosscha Melihat Devitalisasi Planetarium Jakarta

Kepala Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi, menyatakan ingin tetap berpikir positif tentang devitalisasi Planetarium Jakarta. Maksdunya?


Penghargaan Royal Astronomical Society untuk Kepala Observatorium Bosscha

14 hari lalu

Penghargaan Royal Astronomical Society untuk Kepala Observatorium Bosscha

Kepala Observatorium Bosscha mendapat pengakuan internasional untuk perannya dalam pengembangan astronomi di Indonesia.


Seabad Observatorium Bosscha, Pengelola Gelar Rangkaian Acara Setahun

15 hari lalu

Seabad Observatorium Bosscha, Pengelola Gelar Rangkaian Acara Setahun

Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, genap berusia 100 tahun pada tahun ini.


Fenomena Astronomi: Puncak Hujan Meteor Quadrantid Hari Ini dan Besok

25 hari lalu

Fenomena Astronomi: Puncak Hujan Meteor Quadrantid Hari Ini dan Besok

Selain sejumlah agenda fenomena astronomi, di awal 2023 ini ada kegiatan Globe At Night atau kampanye langit gelap


Fenomena Langit Desember: Puncak Hujan Meteor Pheonicid Malam Ini

57 hari lalu

Fenomena Langit Desember: Puncak Hujan Meteor Pheonicid Malam Ini

Hujan meteor Pheonicid yang sudah berlangsung sejak 28 November 2022 akan mencapai puncaknya pada malam hari ini, Jumat 2 Desember 2022.


Hujan Sabotase Antusiasme Pengamatan Bareng Gerhana Bulan Total di Jakarta

8 November 2022

Hujan Sabotase Antusiasme Pengamatan Bareng Gerhana Bulan Total di Jakarta

Sempat mendata hampir 1.000 pendaftar, kegiatan pengamatan bareng Gerhana Bulan Total di TIM Jakarta hanya dihadiri 100-an orang. Acara berantakan.


Gerhana Bulan Total, Lebih dari 1.000 Orang Diperkirakan Akan Memadati TIM

8 November 2022

Gerhana Bulan Total, Lebih dari 1.000 Orang Diperkirakan Akan Memadati TIM

Kuota peserta diskusi tentang Gerhana Bulan Total sebelum pengamatan bareng juga telah dilipatduakan, dan sudah terisi penuh.


Gerhana Bulan Total Malam Ini, Simak Asal Mitos Pukul Kentongan

8 November 2022

Gerhana Bulan Total Malam Ini, Simak Asal Mitos Pukul Kentongan

Astronom bandingkan peristiwa gerhana bulan total atau gerhana lainnya sekarang dan dahulu kala.


Gerhana Bulan Total, Observatorium Astronomi ITERA Buka Dua Lokasi Pengamatan

6 November 2022

Gerhana Bulan Total, Observatorium Astronomi ITERA Buka Dua Lokasi Pengamatan

Observatorium Astronomi ITERA Lampung mengundang warga untuk menyaksikan gerhana bulan total.


Revitalisasi TIM Devitalisasi Planetarium Jakarta, Ini 7 Seruan untuk DKI

6 November 2022

Revitalisasi TIM Devitalisasi Planetarium Jakarta, Ini 7 Seruan untuk DKI

kondisi Planetarium Jakarta yang malah memburuk daripada sebelum ada revitalisasi TIM. Yang berfungsi tinggal 10-20 persen.