Air itu Terpendam Dalam Kawah Bulan

Reporter

Editor


TEMPO Interaktif, London: Pada akhir 2008, para ilmuwan mengumumkan bahwa mereka telah menemukan tempat terbaik untuk mencari es di bulan. Tim astrofisikawan dari Durham University, Inggris, menyatakan, jika air beku itu memang ada, kemungkinan besar es tersebut akan ditemukan di kawah dekat kutub bulan yang tak pernah terkena sinar matahari.
Penemuan itu didasari sebuah analisis komputer dari data Lunar Prospector, sebuah wahana antariksa milik NASA, yang dikirimkan ke bulan pada 1998. Para ilmuwan yang tergabung dalam tim internasional dari Durham University dan University of Glasgow, Inggris, serta Planetary Systems Branch, Space Science, and Astrobiology Division dari Ames Research Center milik NASA di California itu memperlihatkan bahwa hidrogen yang terdapat di bulan terkonsentrasi dalam kawah-kawah kutub. Di dalam sana, temperaturnya jauh lebih dingin daripada minus 170 derajat Celsius.
Bersama dengan oksigen yang ditemukan berlimpah dalam batuan bulan, hidrogen adalah unsur utama dalam pembuatan air.
Jika benar ada es di dalam kawah, para ilmuwan menyatakan es itu berpotensi sebagai sumber air bagi markas berawak yang akan dibangun pada 2020. Basis astronot di bulan itu juga dapat digunakan sebagai sebuah terminal eksplorasi tata surya.
Dalam temuan yang dipublikasikan dalam International Journal of Solar System Studies, Icarus, para ilmuwan memperlihatkan bahwa jika hidrogen itu ada dalam bentuk air yang membeku, konsentrasi rata-ratanya dalam sejumlah kawah setara dengan 10 gram es dalam tiap kilogram batuan bulan. Meski begitu, mereka berkeyakinan bahwa hidrogen di bulan tidak dalam bentuk air beku, melainkan proton yang ditembakkan oleh matahari ke permukaan bulan yang berdebu.
"Riset ini mengaplikasikan teknik hasil pengembangan baru terhadap data misi Lunar Protector untuk menunjukkan bahwa hidrogen terkonsentrasi dalam kawah-kawah di kutub yang selalu berada dalam bayang-bayang," kata Vincent Eke, pakar di Institute for Computational Cosmology, di Durham University, yang memimpin tim itu.
Eke mengatakan air dalam bentuk es bisa stabil selama miliaran tahun di bagian bulan yang tidak terkena sinar matahari. "Jika hidrogen itu ada dalam bentuk air yang membeku, kami menduga bahwa beberapa meter teratas permukaan bulan menyimpan air yang cukup banyak untuk mengisi Kielder Water," ujarnya. Kielder Water adalah waduk terbesar di Eropa Utara. Waduk yang terletak di Northumberland, Inggris, itu mampu menampung 200 miliar liter air.
Temuan para astrofisikawan Durham University ini sangat bermanfaat terkait dengan eksplorasi bulan. "Hasil riset ini dapat membantu misi LCROSS dan Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini," kata Richard Elphic, pakar di Planetary Systems Branch, Ames Research Center NASA.
LCROSS bertujuan membebaskan air dengan menabrak permukaan kutub yang terus tertutup bayangan, tempat es mungkin berada. "Peta banyaknya hidrogen yang telah disempurnakan ini bisa membantu LCROSS menyeleksi situs tumbukan yang paling menjanjikan," kata Elphic. "Peta ini juga membantu memfokuskan pencarian es kutub yang dilakukan LRO dengan mengidentifikasi lokasi yang kaya hidrogen."
TJANDRA DEWI | SCIENCEDAILY | DURHAM





Begini Kepala Observatorium Bosscha Melihat Devitalisasi Planetarium Jakarta

7 hari lalu

Begini Kepala Observatorium Bosscha Melihat Devitalisasi Planetarium Jakarta

Kepala Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi, menyatakan ingin tetap berpikir positif tentang devitalisasi Planetarium Jakarta. Maksdunya?


Penghargaan Royal Astronomical Society untuk Kepala Observatorium Bosscha

14 hari lalu

Penghargaan Royal Astronomical Society untuk Kepala Observatorium Bosscha

Kepala Observatorium Bosscha mendapat pengakuan internasional untuk perannya dalam pengembangan astronomi di Indonesia.


Seabad Observatorium Bosscha, Pengelola Gelar Rangkaian Acara Setahun

16 hari lalu

Seabad Observatorium Bosscha, Pengelola Gelar Rangkaian Acara Setahun

Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, genap berusia 100 tahun pada tahun ini.


Fenomena Astronomi: Puncak Hujan Meteor Quadrantid Hari Ini dan Besok

26 hari lalu

Fenomena Astronomi: Puncak Hujan Meteor Quadrantid Hari Ini dan Besok

Selain sejumlah agenda fenomena astronomi, di awal 2023 ini ada kegiatan Globe At Night atau kampanye langit gelap


Fenomena Langit Desember: Puncak Hujan Meteor Pheonicid Malam Ini

58 hari lalu

Fenomena Langit Desember: Puncak Hujan Meteor Pheonicid Malam Ini

Hujan meteor Pheonicid yang sudah berlangsung sejak 28 November 2022 akan mencapai puncaknya pada malam hari ini, Jumat 2 Desember 2022.


Hujan Sabotase Antusiasme Pengamatan Bareng Gerhana Bulan Total di Jakarta

8 November 2022

Hujan Sabotase Antusiasme Pengamatan Bareng Gerhana Bulan Total di Jakarta

Sempat mendata hampir 1.000 pendaftar, kegiatan pengamatan bareng Gerhana Bulan Total di TIM Jakarta hanya dihadiri 100-an orang. Acara berantakan.


Gerhana Bulan Total, Lebih dari 1.000 Orang Diperkirakan Akan Memadati TIM

8 November 2022

Gerhana Bulan Total, Lebih dari 1.000 Orang Diperkirakan Akan Memadati TIM

Kuota peserta diskusi tentang Gerhana Bulan Total sebelum pengamatan bareng juga telah dilipatduakan, dan sudah terisi penuh.


Gerhana Bulan Total Malam Ini, Simak Asal Mitos Pukul Kentongan

8 November 2022

Gerhana Bulan Total Malam Ini, Simak Asal Mitos Pukul Kentongan

Astronom bandingkan peristiwa gerhana bulan total atau gerhana lainnya sekarang dan dahulu kala.


Gerhana Bulan Total, Observatorium Astronomi ITERA Buka Dua Lokasi Pengamatan

6 November 2022

Gerhana Bulan Total, Observatorium Astronomi ITERA Buka Dua Lokasi Pengamatan

Observatorium Astronomi ITERA Lampung mengundang warga untuk menyaksikan gerhana bulan total.


Revitalisasi TIM Devitalisasi Planetarium Jakarta, Ini 7 Seruan untuk DKI

6 November 2022

Revitalisasi TIM Devitalisasi Planetarium Jakarta, Ini 7 Seruan untuk DKI

kondisi Planetarium Jakarta yang malah memburuk daripada sebelum ada revitalisasi TIM. Yang berfungsi tinggal 10-20 persen.