Misteri Otak Seorang Pegolf Profesional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Zurich:
    Perbedaan antara pegolf profesional dan amatir tak hanya terletak pada kepiawaian mengayun stik golf, tapi juga pada volume korteks otak abu-abu mereka. Para ilmuwan di University of Zurich, Swiss, menemukan bahwa pegolf profesional mempunyai volume korteks otak abu-abu (gray matter) yang lebih besar dibanding pemain amatir. Otak abu-abu itu adalah kumpulan badan sel neuron atau sel saraf yang diketahui memainkan peran penting dalam pengendalian otot.
    Berita bagusnya adalah, seperti juga Tiger Woods, pegolf yang bermain sejak usia muda dan terus berlatih selama bertahun-tahun juga bisa mengembangkan otak mereka sementara angka handicap mereka kian mengecil. Ini terkait dengan kemampuan melakukan ayunan golf yang baik secara konsisten, salah satu keahlian olahraga tersulit.
    Mengkoordinasikan seluruh bagian tubuh yang bergerak dengan waktu yang tepat membutuhkan otak yang belajar dari pengulangan proses trial and error
    Beberapa studi sebelumnya telah memperlihatkan bahwa jumlah jam latihan berhubungan langsung dengan handicap (angka yang menunjukkan kemampuan permainan) seorang pegolf.
    K. Anders Ericsson, dosen di Florida State University, telah menghabiskan lebih dari 25 tahun untuk mempelajari apa saja yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi pakar di berbagai bidang, termasuk olahraga. Ada angka ajaib yang selalu muncul dalam penelitian Ericsson, yaitu 10 ribu jam latihan yang sungguh-sungguh. Jika seseorang mau mendedikasikan waktunya selama 10 ribu jam untuk keahlian apa pun, dia memiliki potensi untuk mencapai puncak.
    Pendapat itu ditentang oleh berbagai pihak yang tak setuju bila latihan dianggap sebagai kunci keberhasilan. Alasannya, ada orang yang memang dikaruniai bakat sehingga tanpa latihan pun mereka langsung menguasai suatu bidang. "Sedikit sekali bukti yang mendukung pendapat itu," ujar Ericsson. "Terkecuali beberapa bidang olahraga, tak ada karakteristik otak atau tubuh yang menghalangi seseorang mencapai tingkat ahli."
    Sebaliknya, Lutz Jncke dan timnya dari Divisi Neuropsikologi, Institut Psikologi di University of Zurich dan Departemen Biologi, Institut Ilmu Pergerakan Manusia dan Olahraga di Federal Institute of Technology Zurich berhasil menemukan bukti bahwa latihan memiliki pengaruh besar terhadap otak manusia. Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Plos One, mereka menemukan adanya perbedaan mencolok antara korteks abu-abu pemain golf yang berlatih selama 800-3.000 jam dan orang yang kurang berlatih atau sama sekali tak pernah bermain golf.
    Jncke dan timnya menganggap latihan ayunan golf yang berbeda secara rutin amat penting agar seorang pegolf mampu melakukan gerakan balistik yang sulit ketika memukul bola. Latihan juga amat menentukan performa mereka. "Menurut beberapa pakar golf, perlu lebih dari 10 ribu jam latihan untuk menjadi seorang pegolf profesional ," kata Jncke. "Untuk mencapai handicap 10-15, diperlukan setidaknya 5.000-10 ribu jam latihan. Ini setara dengan waktu yang diinvestasikan musisi profesional dan guru musik untuk berlatih."
    Dalam studinya, tim itu membandingkan citra otak 40 pria yang terbagi menjadi empat kelompok berdasarkan pengalaman mereka sebagai pegolf. Mereka merekrut 10 pegolf profesional dengan handicap 0, 10 pegolf advanced dengan handicap antara 1 dan 14, 10 pegolf amatir dengan handicap antara 15 dan 36, serta 10 sukarelawan yang sama sekali tidak pernah main golf.
    Wawancara yang dilakukan mengungkap bahwa latihan memang membuat pukulan mereka makin sempurna, yaitu adanya korelasi antara latihan selama berjam-jam dan angka handicap yang semakin kecil. Pemindai otak dengan pencitra resonansi magnetik fungsional (fMRI) memperlihatkan bahwa ada perbedaan struktural pada otak keempat kelompok itu meski polanya tidak linier seperti dugaan semula.
    Perbedaan signifikan ini terletak pada total volume gray matter antara pemain profesional dan orang bukan pegolf, namun hanya sedikit perbedaan antara kelompok profesional dan advanced atau antara pemain amatir dan bukan pegolf.
    Ketika para ilmuwan mengkombinasikan kelompok pegolf profesional dan advanced menjadi satu grup yang disebut "pakar" dan pegolf amatir dan bukan pemain menjadi kelompok "pemula", muncul garis pemisah yang jelas. Garis itu memperlihatkan bahwa latihan menghasilkan adanya kenaikan gray matter yang menonjol pada otak kelompok pakar. Lonjakan ini muncul setelah seseorang berlatih selama 800-3.000 jam.
    Yang menarik adalah ditemukannya penyimpangan, karena kelompok profesional dilaporkan berlatih lima sampai delapan kali lipat dari waktu yang digunakan kelompok advanced, namun volume gray matter otak mereka tak berbeda jauh. Sedangkan kelompok advanced hanya berlatih dua kali lebih lama dibanding pemain amatir, yang biasanya cuma berlatih pada akhir pekan, namun volume gray matter menunjukkan kenaikan signifikan.
    Temuan itu mengungkap bahwa lonjakan volume gray matter terjadi setelah pegolf mencapai tingkat kemahiran dengan handicap di bawah 15. Lompatan besar ini memindahkan dia dari amatir menjadi advanced.
    Hasil eksperimen Jncke tersebut konsisten dengan studi lain pada 2008 yang mengukur volume gray matter pada pelajar yang berusaha menguasai permainan tiga bola (juggle). Setelah mempelajari permainan juggle untuk pertama kalinya, volume korteks otak abu-abu mereka meningkat. Namun, setelah konsep awal permainan yang biasa dimainkan badut itu mereka kuasai, pertumbuhan sel otak tidak bertambah meski mereka mempelajari trik juggling yang lebih sulit.
    TJANDRA DEWI | LIVESCIENCE | PLOSONE

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?