HTC Touch Cruise: Desain Ulang Penjelajah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • HTC

    HTC

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Setelah memasarkannya selama setahun lebih, High Tech Computer akhirnya mendesain ulang Touch Cruise. Di Indonesia, ponsel layar sentuh ini diluncurkan pada 12 Maret.

    Sebagaimana pendahulunya, Touch Cruise diciptakan untuk navigasi pribadi berbasis layanan global positioning system. Pada versi anyar, HTC menambahkan fitur footprints, aplikasi pembuat catatan rentetan tempat favorit plus lokasi geografisnya.

    Desain ulang Touch Cruise baru hanya sedikit menyisakan jejak pendahulu, yakni pada model susunan tombol di bawah layar. Sisanya adalah desain baru dengan garis-garis tepi yang landai sehingga tubuh tak sekaku sebelumnya.

    Tombol navigasi bulat adalah awalan yang menarik. Kita bisa bernavigasi ke segala arah, 360 derajat. Selain itu, tombol bisa diputar untuk memperbesar atau memperkecil tampilan layar. Cukup dengan sentuhan lembut di ujung jari.

    Layar QVGA-nya berukuran lebar diagonal 2,8 inci. Cukup lebar untuk menampilkan halaman web atau peta. Namun, bila dipakai di kendaraan sebagai alat navigasi, layar ini terbilang mungil sehingga harus ditempatkan tak jauh dari jangkauan mata.

    Resolusinya bagus dengan kemampuan menampilkan gambar, video, sampai halaman web dengan jernih. Kamera 3,2 megapiksel terasa sudah memadai.

    Sebagai antarmuka, HTC meneruskan tradisi seri Touch teranyar, yaitu dengan teknologi TouchFlo, meski bukan TouchFlo 3D seperti pada model Touch 3G.

    Meski begitu, ada juga persoalannya. Pada saat mengakses halaman web, "papan" penggulung layar di tepi halaman tak berfungsi dengan baik. Awalnya iTempo mengira ini lantaran jari yang besar.

    Tapi dengan pena stylus pun masalah ini tak terpecahkan. Kadang-kadang layar tak bergerak, atau kadang bergerak tapi ke arah sebaliknya dari yang diinginkan. Jelas ini sangat mengganggu.

    Touch Cruise ini memakai Windows Mobile 6.1 sebagai sistem operasi. Namun, berbeda dengan seri Touch lain, keyboard QWERTY virtual bukan papan ketik default di sini, melainkan keypad numerik virtual. Untuk menelepon, keyboard ini sangat membantu.

    Tapi, untuk mengetik kalimat panjang di pesan pendek atau dokumen Word Mobile, jelas menyita waktu. Memang ada pilihan untuk mengganti numerik menjadi QWERTY, tapi setelah diatur, tetap saja kembalinya ke keypad numerik.

    Mungkinkah masalah ini tak terdeteksi lantaran Touch Cruise yang baru ini lebih ditujukan untuk navigasi atau lantaran masalah teknis semata. Entahlah.

    Nah, fitur unggulan pada Touch Cruise termuda ini adalah footprints dan navigasi. Itulah mengapa di bawah layar tersedia tombol-tombol pintas.

    Dengan footprints, pengguna bisa memotret tempat ia berada lalu membiarkan GPS menentukan lokasi geografis tempat tersebut. Foto dan catatan geografis ini akan tersimpan dalam handset dan menjadi seperti "catatan sejarah".

    Di luar ruangan, data tangkap sinyal GPS-nya tak perlu dibahas lagi. Sedangkan di dalam ruangan, meski diklaim tak jadi soal, harus diberi catatan khusus, yaitu tak terlalu bagus pada saat cuaca terlalu mendung.

    Sedangkan fitur navigasi mengandalkan peranti Papago X3. Masalahnya, aktivasi peranti lunak itu belum berhasil sampai saat tulisan ini diturunkan. Juru bicara HTC mengakui ada persoalan teknis.

    Terlepas dari soal-soal tersebut, handset ini sebetulnya menawarkan "rasa" Touch Cruise yang jauh lebih menarik ketimbang pendahulunya. Cruise terbaru dibanderol seharga US$ 550, termasuk sepaket bracket untuk mobil.

    l DEDDY SINAGA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.