Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

6 Penyebab Kekeringan, Dampaknya Bagi Manusia

Reporter

image-gnews
Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany
Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany
Iklan

TEMPO.CO, JakartaKekeringan berarti keadaan suatu wilayah saat tidak mengalami hujan karena datangnya musim kemarau dalam kurun waktu yang cukup lama. Dengan demikian, kandungan air pun akan menguap dan mengering. Banyak faktor yang membuat fenomena kekeringan terjadi. Seperti badai El Nino 2015 di Indonesia. Badai El Nino biasanya terjadi di wilayah Pasifik Selatan. Jika terjadi di satu wilayah negara maka negara lain dapat terkena dampak buruknya. Mulai dari kelaparan, kekurangan air, dan tertundanya kedatangan musim hujan.

6 Penyebab Kekeringan

Secara umum, penyebab kekeringan di belahan dunia terbagi menjadi 6 faktor. Seperti uraian di bawah ini.

1. Letak Geografis

Penyebab kekeringan yang terjadi di Indonesia pertama dipengaruhi oleh letak geografis. Di mana Indonesia tepat berdiri kokoh di garis khatulistiwa serta adanya 2 benua dan 2 samudera yang mengapit negara kepulauan ini.

Selain itu, Indonesia yang membentang luas hingga 1.916.906 kilometer persegi ditambah sekitar 17.000 pulau menjadikan fenomena alam monsoon ikut hinggap. Monsoon menyebabkan perubahan iklim yang disebut jet steam effect yang ektrem karena tekanan udara darat juga berubah menjadi panas. Kemudian, panas inilah yang menghembus ke daratan yang mengeringkan kandungan air tanah.

2. Penebangan Pohon

Penebangan pohon banyak dilakukan untuk kepentingan industri, real estate, maupun hal lainnya yang tanpa mengupayakan reboisasi untuk perlindungan bumi seisinya. Vegetasi yang terdiri dari tumbuhan dan tanaman sangat dibutuhkan oleh manusia dan hewan. Antara lain, untuk konsumsi sehari-hari, obat-obatan, dan respirasi. Pada proses respirasi, vegetasi salah satunya akan menghasilkan air bersih dari penyerapan molekul oksigen yang terdapat di udara bebas. Air yang dihasilkan tumbuhan kemudian diinfiltrasi dari akar ke tanah untuk kebutuhan harian dan cadangan saat kemarau tiba.

3. Boros Air

Mandi yang dilakukan berjam-jam hingga melupakan kran air yang terbuka saat mengisi bak kamar mandi tentu menyumbang kekeringan. Padahal, air adalah kebutuhan pokok nomor 1 bagi manusia dan hewan untuk memberi tenaga tubuh lebih efektif daripada makanan. Menghemat air pun bukan berarti Anda pelit menjaga kebersihan diri dan isi rumah, tetapi membiasakan diri untuk menggunakan air bersih secukupnya. Bahkan, Anda dapat menggunakan air bekas untuk beberapa hal. Seperti menyiram air hasil cuci beras untuk tanaman di sekitar.

4. Kondisi Air Tanah Yang Terlalu Dalam

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Secara umum, terdapat empat lapisan tanah, yaitu lapisan atas, lapisan tengah, lapisan bawah, dan lapisan induk. Untuk mencapai tanah induk yang kaya akan air butuh usaha seperti pengeboran ditambah dengan modal uang yang dipersiapkan cukup banyak. Namun, lapisan tanah yang terlalu dalam dapat menjadi masalah sendiri bagi manusia. Karena air susah terangkat sehingga kekeringan melanda. Hal ini juga merugikan tumbuhan berakar pendek. Mereka akan susah menyerap air tanah sehingga menyebabkan kematian.

5. Minimnya Daerah Resapan Air

Penyebab kekeringan akibat faktor alam selanjutnya karena minimnya daerah resapan air terdekat. Seperti penggundulan pohon di hutan atau area persawahan hijau yang dialihfungsikan. Kedua fenomena sosial tersebut menjadikan manusia kehilangan resapan air penyebab kekeringan. Meskipun hujan terus mengguyur wilayah Anda, tetapi tidak ada sejumlah tanah dan tumbuhan yang mampu menyerap air cukup banyak, maka banjir juga akan terjadi. Bahkan, dampak buruk berupa bencana kekeringan akan sangat dirasakan.

Tanamlah tunbuhan seperti ketela yang menyerap air sangat banyak jika dibandingkan dengan tanaman lainnya. Kemudian, jangan menanam pohon bambu yang strukturnya akan menutupi saluran penyerapan air ke tanah.

6. Global Warming

Aktivis-aktivis muda sudah banyak yang berkampanye tentang global warming. Bukan hanya omong kosong belaka, tetapi global warming memang sangat berbahaya bagi makhluk bumi terutama manusia. Salah satunya tanah akan mudah mengering sehingga kesulitan dalam infiltrasi. Kemudian, akan memudahkan iklim bumi tidak beraturan dan sulit diprediksi. Seperti saat ini, di mana musim kemarau dapat terasa lebih panas dan terjadi lama.

Dampak Kekeringan Bagi Manusia 

Kekeringan bagi manusia begitu menyedihkan karena segala aktivitas kehidupan seperti mati. Dampak terjadinya kekeringan secara umum dibagi menjadi tiga.

  • Menurunnya produksi tanaman (puso). Dengan demikian, memberi potensi matinya tanaman. Petani desa, pedagang, dan negara tentu rugi. Lalu, mengancam ketahanan pangan nasional 
  • Meningkatnya polusi udara yang membahayakan sistem pernapasan karena pasokan oksigen bersih juga berkurang
  • Menyebabkan hidrologis atau perairan lingkungan berkurang saat musim kemarau.

Pilihan editor: Mahasiswa UGM Manfaatkan Aspal Jalanan Untuk Kurangi Peningkatan Suhu Perkotaan

ALFI MUNA SYARIFAH

Iklan




Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Fenomena Hujan di Musim Kemarau Sebagai Anomali, Apa Itu Anomali Cuaca?

19 jam lalu

Ilustrasi olah raga lagi saat hujan turun. Foto : Shutterstock
Fenomena Hujan di Musim Kemarau Sebagai Anomali, Apa Itu Anomali Cuaca?

Kadang-kadang cuaca bisa menjadi sangat tidak biasa atau tidak sesuai dengan yang diharapkan. Fenomena ini dikenal sebagai anomali cuaca.


Paling Kering di Sumsel, Ogan Komering Ilir Tercatat 70 Hari tanpa Hujan

2 hari lalu

Ilustrasi. Lahan pertanian yang mengalami kekeringan atau kesulitan irigasi di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (ANTARA/Hery Sidik)
Paling Kering di Sumsel, Ogan Komering Ilir Tercatat 70 Hari tanpa Hujan

Hal itu tampak dalam monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 20 September 2023.


Saat Banyak Wilayah Kekeringan, Banjir Landa 5 Kecamatan di Pasaman Barat Sumbar

2 hari lalu

Warga korban banjir bandang mengungsi di Jorong Kampuang Padang Paraman Dareh, Nagari Air Manggis, Lubuak Sikapiang, Pasaman, Sumatera Barat, 16 Desember 2015. Menurut data dari TNI sebanyak 27 unit rumah rusak, tiga diantaranya rusak berat, puluhan hektar sawah rusak, serta sejumlah ternak terseret arus banjir bandang yang terjadi pada Selasa (15/12) sore. ANTARA/Muhammad arif Pribadi
Saat Banyak Wilayah Kekeringan, Banjir Landa 5 Kecamatan di Pasaman Barat Sumbar

Saat sebagian besar wilayah Indonesia kekeringan, banjir justru melanda sejumlah lokasi di lima kecamatan di Kabupaten Pasaman Barat.


Kekeringan di Bali Meluas dari 14 Jadi 15 Kecamatan, Dampak 80 Hari Tiada Hujan

2 hari lalu

Ilustrasi kekeringan. (ANTARA/Mohammad Ayudha/dok)
Kekeringan di Bali Meluas dari 14 Jadi 15 Kecamatan, Dampak 80 Hari Tiada Hujan

BMKG Denpasar menyebutkan kekeringan di Bali meluas dari sebelumnya 14 menjadi 15 kecamatan, karena selama 80 hari tidak turun hujan.


Derita Kekeringan Petani Lumajang, 'Sakramen' dan Persamuhan Itu

3 hari lalu

Lahan pertanian mengalami kekeringan dan tidak ditanami di Desa Boreng, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang. Foto: David Priyasidharta
Derita Kekeringan Petani Lumajang, 'Sakramen' dan Persamuhan Itu

Para petani menyoal kerusakan irigasi yang menambah persoalan mereka di tengah kekeringan di Lumajang. Bupati Lumajang berjanji segera menyelesaikan.


Ratusan Hektare Sawah di Kabupaten Lumajang Kekeringan, Ini Saran Khofifah Indar Parawansa

3 hari lalu

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa usai menemui Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis, 10 Agustus 2023. TEMPO/M Julnis Firmansyah
Ratusan Hektare Sawah di Kabupaten Lumajang Kekeringan, Ini Saran Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Jawa Timur meminta para petani di Kabupaten Lumajang belajar ke para petani di daerah Mataraman untuk mengatasi masalah kekeringan.


Kekeringan di Bekasi Makin Meluas, Sudah Melanda 46 Desa di 10 Kecamatan

4 hari lalu

Air yang keluar dari pipa saat disaring karena menghitam dan kotor di Desa Sukaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 10 September 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Kekeringan di Bekasi Makin Meluas, Sudah Melanda 46 Desa di 10 Kecamatan

Jumlah warga Kabupaten Bekasi terdampak kekeringan, yakni 49.892 KK atau sekitar 167.880 jiwa.


Cerita Soal Penimbun Air Bantuan, Punya Tandon Besar saat Warga Lain Kekurangan

4 hari lalu

Ilustrasi air bersih.
Cerita Soal Penimbun Air Bantuan, Punya Tandon Besar saat Warga Lain Kekurangan

"Kami mohon kepada masyarakat janganlah dengan situasi seperti ini menimbun air."


Potensi Pendapatan Hilang Rp 78 Miliar Akibat Kekeringan, Petani Lumajang Salahkan Pemerintah

5 hari lalu

Lahan pertanian mengalami kekeringan dan tidak ditanami di Desa Boreng, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang. Foto: David Priyasidharta
Potensi Pendapatan Hilang Rp 78 Miliar Akibat Kekeringan, Petani Lumajang Salahkan Pemerintah

Informasi yang diperoleh TEMPO menyebutkan Dam Gambiran menjadi kewenangan Kabupaten Lumajang dengan irigasinya bernama DI Boreng.


Kesulitan Air karena Kekeringan, Warga Kranggan Terpaksa Ambil Air dari Anak Kali Cisadane

5 hari lalu

Aliran anak Cisadane, Kali Cisalak menjadi sumber air warga Kranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Selasa 19 September 2023. (TEMPO/Muhammad Iqbal)
Kesulitan Air karena Kekeringan, Warga Kranggan Terpaksa Ambil Air dari Anak Kali Cisadane

Karena kekeringan, warga Kelurahan Kranggan, Tangsel, terpaksa mencuci dan mandi dengan air sungai meski efeknya gatal-gatal.