Berembuk untuk Terumbu Karang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Tebing-tebing mini sepinggang orang dewasa itu masih berdiri di beberapa garis Pantai Jamursba Medi, sebelah utara Kawasan Kepala Burung, Papua Barat. Bila tebing itu menghilang, dan pantai kembali landai, itulah tanda puncak musim bertelur penyu belimbing. "Tebing itu akibat abrasi alami tahunan, lalu kembali landai," kata penggiat konservasi World Wild Fund Indonesia, Aulia Rahman. Walhasil, pantai berpasir putih itu hanya ramai didatangi penyu sepanjang Juni-Agustus.

    Abrasi alami ini tentu bukan hal yang dirisaukan para penggiat konservasi di kawasan yang nyaris belum terjamah manusia itu. Yang menjadi keprihatinan adalah ancaman kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim, yang sudah pasti akan membuat penyu hengkang dari Jamursba. "Jika permukaan air naik, otomatis menutup permukaan pantai tempat bertelur," kata Aulia. Suhu udara yang meningkat juga akan mempengaruhi komposisi jenis kelamin tukik--anak penyu yang baru menetas.

    Di dasar laut, terumbu karang akan menjadi biota yang paling terancam dampak perubahan iklim karena sifatnya yang sensitif terhadap kenaikan suhu. Perbedaan suhu, betapa pun kecilnya, misalnya satu hingga dua derajat Celsius, dalam beberapa pekan saja akan membuat terumbu karang mati. Badai El Nino yang terjadi lebih dari satu dekade silam, misalnya, membuat hampir separuh gugusan terumbu karang Indonesia rusak. Padahal terumbu karang merupakan rumah tempat ikan mencari makan.

    Kerusakan terumbu karang berdampak langsung pada ekosistem. Ikan akan lenyap karena tak ada sumber makanan. Penyu yang mencari makan di sekitar karang akan berpindah ke tempat lain. Laut menjadi kolam mati, yang tak memberikan nilai ekonomi. Teluk Jakarta adalah contoh laut yang akan menjadi kolam mati. Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Suharsono mengatakan sekitar 98 persen terumbu karang di Jakarta dalam kondisi rusak berat .

    Ihwal ancaman perubahan iklim terhadap terumbu karang itulah yang menjadi topik utama Konferensi Kelautan Dunia yang digelar di Manado sepanjang pekan ini. Konferensi ini merupakan yang pertama kali digelar, dipelopori pemerintah Indonesia. Hingga akhir pekan lalu, delegasi dari 140 negara sudah memastikan kehadiran mereka di Bumi Minahasa itu. Di samping perwakilan negara, ada ratusan delegasi organisasi nonpemerintah seperti lembaga penggiat konservasi.

    Selain soal dampak perubahan iklim, konferensi ini akan membahas peran laut menghadapi perubahan itu. Hasil pembahasan akan dibawa ke Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen, Desember tahun ini. Apa pun hasilnya, diharapkan pertemuan itu akan melahirkan kesepakatan dan kerja sama antarpemerintah dan lembaga nonpemerintah untuk mengelola kekayaan laut.

    Indroyono, sekretaris panitia nasional, mengatakan panitia konferensi hingga pekan lalu sudah menerima lebih dari 900 makalah yang akan dibahas dalam forum-forum paralel. Separuhnya adalah makalah yang ditulis peneliti Indonesia. Dari ratusan makalah itu, sebagian besar membahas ihwal pengelolaan terumbu karang. "Karena terumbu karang adalah warisan dunia di laut tropis yang terancam punah," kata Indroyono, yang juga Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

    Nuansa terumbu karang memang mendominasi Konferensi Kelautan karena di sela acara itu juga akan digelar Pertemuan Puncak Inisiatif Segitiga Karang atau Coral Triangle Initiative Summit (CTI) yang dihadiri kepala negara anggotanya. Selain Indonesia, anggota CTI adalah Filipina, Kepulauan Solomon, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste. Pertemuan ini didukung negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia, yang berkepentingan dengan kelestarian karang.

    Gabungan enam negara tersebut merupakan pemilik 53 persen terumbu karang dunia, yang luasnya meliputi 5,7 juta kilometer persegi. Kawasan ini menjadi tempat bersarang 75 persen jenis terumbu dunia dan rumah bagi 3.000 jenis ikan tangkapan. Area yang mencakup separuh Asia Tenggara dan negara-negara kepulauan di Pasifik ini merupakan surga bagi para penangkap tuna. "Segitiga karang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.

    Indonesia merupakan pemilik terumbu karang terluas: 21 persen terumbu karang dunia. Minimnya perhatian dunia terhadap kelestarian terumbu karang membuat Indonesia dan lima negara itu bersatu untuk melakukan kampanye bersama. Inisiatif ini merupakan ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika menghadiri pertemuan Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Sydney dua tahun lalu. Sejak saat itu, CTI secara berkala menggelar pertemuan tingkat menteri.

    Menurut Freddy, perlindungan terhadap terumbu karang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan ketahanan pangan. Sebagai rumah bagi ribuan jenis ikan tangkapan, terumbu karang merupakan sumber pangan tak terbatas. Adalah ironis jika melihat masyarakat pesisir hidup dalam kemiskinan. Ia menargetkan, pada 2010, sepuluh persen dari total 60 ribu kilometer persegi ekosistem terumbu karang di kawasan pesisir akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut.

    Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Kelautan Institut Pertanian Bogor Tridoyo Kusumastanto mengatakan konferensi tersebut merupakan kesempatan bagi Indonesia, sebagai negara maritim, buat menarik perhatian dunia supaya lebih peduli pada laut. "Agenda utama kita adalah memperjuangkan kelestarian laut," katanya. Tak sekadar soal laut, Tridoyo juga berharap delegasi Indonesia bisa mengajak masyarakat dunia memperhatikan nasib penduduk pesisir dan pulau-pulau kecil.

    Tridoyo mengatakan kesejahteraan warga pesisir merupakan kunci pelestarian keanekaragaman hayati laut. Sebab, mereka memiliki akses langsung dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pesisir. Di Pantai Jamursba, misalnya, warga kampung ikut menjaga terumbu karang di sepanjang pesisir, menjaga sarang telur penyu dari pemangsa, dan membiarkan penyu kembali ke laut. "Karena kami tak ingin penyu hilang dari Jamursba," kata Demian, Kepala Kampung Sauseba.

    Tapi, bila mereka tetap dibelit kemiskinan dan tak mampu membeli bahan bakar buat melaut mencari ikan, bukan tak mungkin terumbu karang dan telur penyu menjadi jalan pintas penyambung hidup. Bila ini terjadi, tak perlu menunggu ramalan Ove Hoegh-Guldberg menjadi kenyataan. Dalam karya ilmiahnya yang dipublikasikan satu dekade lalu, guru besar Sydney University ini menyatakan terumbu karang di Pasifik akan musnah sebelum 2050 akibat pemanasan global.

    Adek Media


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.