Pukul Beduk dalam 54 Detik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Hanya 54 detik, robot tim D4=S1 berhasil melewati semua halangan dan rintangan pada lintasan dan memukul tiga beduk pada titik akhir. Tak hanya dapat menyelesaikan misi dalam waktu tersingkat, robot buatan tim D4=S1 Politeknik Negeri Surabaya (PENS) itu juga melaju dengan mulus tanpa sekalipun terjatuh sehingga pantaslah bila tim itu merebut juara pertama dalam Kontes Robot 2009 di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Minggu lalu.

    Tim D4=S1 amat gembira atas kemenangan yang secara otomatis membawa mereka sebagai wakil Indonesia dalam kontes robot internasional ABU Robocon di Tokyo Jepang. "Resepnya, kami sering melakukan latihan dan uji coba serta bertanding dengan mengutamakan strategi safety, menghindari terjadinya error," kata Bayu Prasetyo, ketua tim D4=S1. "Itu menjadi kunci kemenangan tim kami."

    Pada KRI tahun ini, tema yang diusung adalah "Traveling Together for the Victory Drums" atau "Bersama Kita Bisa Meraih Kemenangan". Tema ini terinspirasi cerita rakyat Jepang, yaitu budaya kago yang digunakan untuk membawa petinggi atau tokoh masyarakat dalam menempuh perjalanan menuju ke suatu tempat. Kago ini dipanggul oleh dua orang dengan melewati berbagai rintangan alam yang ada di perjalanan, seperti bukit, gunung, dan hutan.

    Ketika kontes berlangsung, kata Bayu, robot mereka memang bisa dibilang amat lancar melewati rintangan yang dibuat menyerupai bukit, gunung, dan hutan, meski pukulannya sempat meleset ketika robot harus memukul tiga beduk. Akibatnya, robot yang memerlukan waktu pembuatan enam bulan itu harus mengulang dari check point terakhir. Untunglah pada upaya kedua, semua beduk dapat dipukul tanpa meleset dan misi selesai jauh lebih cepat daripada batas waktu tiga menit yang ditetapkan panitia.

    Kemenangan tim D4=S1 tak lepas dari dukungan penuh dari Politeknik Negeri Surabaya. Semua pengeluaran yang dibutuhkan tim D4=S1 untuk merancang robot itu ditanggung oleh fakultas mereka sehingga Bayu tak tahu berapa anggaran yang dikeluarkan membuat robot tersebut. "Setiap kami minta kebutuhan langsung diberi oleh fakultas," kata Bayu.

    Biaya yang diperlukan untuk membuat robot-robot yang diterjunkan dalam ajang KRI memang tidak murah karena setiap tim harus membuat tiga macam robot. Sistem pertandingan pada KRI mewajibkan setiap tim membuat satu unit robot pembawa manual, satu robot pembawa otomatis, dan satu Automatic Traveler. Berat total keseluruhan robot tidak boleh melebihi 50 kilogram dan batas tegangan tidak melebihi 24 volt.

    Ajang KRI memang menjadi salah satu kontes paling bergengsi di Tanah Air karena faktor kesulitannya yang lumayan tinggi. Lintasan yang harus dilalui robot dalam pertandingan tahun ini terbagi menjadi dua zona, yaitu Zona Kago atau tandu dan Zona Goal.

    Zona Kago terbagi dua untuk tim biru dan tim merah, dan dipisahkan oleh pagar kayu setinggi 1 meter dengan ketebalan 30 milimeter. Zona itu terbagi lagi menjadi Zona Start, Lodge, Check Point, Mountain Pass, dan Woods. Sedangkan Zona Goal terdiri atas arena bergaris putih setebal 30 milimeter. Di dalam zona ini terdapat Zona Drum, tempat Victory Drums berada. Tiga buah drum atau beduk yang diletakkan secara vertikal inilah yang harus dipukul pada akhir lintasan.

    Selama pertandingan, robot otomatis dan robot manual bekerja sama mengusung kago yang membawa robot traveler. Ketiga robot ini akan melakukan perjalanan melalui beberapa tantangan seperti gunung dan hutan. Setelah tiba di Zona Goal, robot traveler bertugas memukul tiga buah beduk vertikal. Selama perjalanan, kago maupun robot traveler tidak boleh menyentuh lantai.

    Semua peraturan ini berhasil dilakukan dengan sempurna oleh robot tim D4=S1. "Tim pemenang berhasil memadukan harmoni antara operator dan robot," kata Heru Santoso Budi Raharjo, Ketua Umum Kontes Robot Indonesia 2009. "Ada interaksi yang lebih baik selain kecepatan dan adu strategi untuk raih kemenangan."

    Wahidin Wahab, Ketua Dewan Juri Kontes Robot Nasional 2009, menyatakan dalam kompetisi robot memang membutuhkan harmoni dan adu strategi. Hasil evaluasi tim juri menunjukkan adanya kesulitan kerja sama di antara robot yang mengikuti lomba.

    Dia menilai dalam kontes tahun ini tim yang meraih posisi juara memang memiliki robot-robot dengan desain program yang bagus. Mereka juga menyoroti adanya peningkatan universitas yang ikut serta bertanding dan mengirimkan tim dari tahun ke tahun. Tahun ini, tak kurang dari 34 tim mengikuti KRI. "Kami mencatat banyak kemajuan dari tahun ke tahun, ada peserta baru dengan usia lebih muda," kata Wahidin.

    Wahidin optimistis dengan pencapaian prestasi peserta, tim pemenang mampu berkiprah lebih baik di tingkat internasional. Apalagi, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, para pemenang lomba terbukti sukses meraih peringkat dalam kompetisi internasional, bahkan tim robotika DU-114 dari Unikom Bandung, pemenang Kontes Robot Cerdas Indonesia 2008, menyabet emas dalam Robogames 2009 di San Francisco, Amerika Serikat.

    Penanggung jawab kontes, Haryanto, menyatakan KRI adalah ajang tanding antarperguruan tinggi se-Indonesia di bidang robotika dalam bentuk permainan yang memiliki aturan mainan tertentu. "Anggaran yang dikucurkan sebesar Rp 1,9 miliar, tapi panitia nombok Rp 200 juta," kata Haryanto.

    Selain Kontes Robot Indonesia, dalam perhelatan di Universitas Gadjah Mada ini digelar Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) untuk tingkat nasional. Sebanyak 65 tim mengikuti KRCI yang terbagi dalam empat divisi dan KRSI diikuti 12 tim. Secara keseluruhan, jumlah anggota tim termasuk pembimbing adalah 412 orang, yang berasal dari 48 perguruan tinggi dan lima nonperguruan tinggi. Dewan juri berasal dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Indonesia, dan UGM.

    Dalam KRCI, ide dasar mengambil tema yang digunakan dalam International Japan Expo Robocon 2008. Dalam kontes ini, setiap robot mengemban misi untuk menyelamatkan boneka dan mematikan lilin-lilin yang tersebar di berbagai kamar dalam waktu sesingkat mungkin.

    Tantangan yang membedakan satu divisi dengan divisi lain adalah adanya dua robot dalam satu arena pertandingan sehingga terdapat kemungkinan bertemunya dua robot yang sedang bertanding tersebut untuk adu kecepatan mencapai tujuan masing-masing. Divisi ini memiliki kemiripan dengan perlombaan pada KRI yang membuka adu strategi bermain. Robot yang dapat menyelesaikan misi itu dengan cepat, dialah yang menang.

    Kemenangan yang telah diraih tidak menjadikan anak-anak PENS ini terbuai, melainkan justru tertantang untuk terus memperbaiki kesalahan dan kelemahan robotnya. Tim D4=S1 ingin memperbaiki robot mereka agar mampu bergerak lebih cepat dan stabil dalam kontes robot internasional di Tokyo pada 22 Agustus mendatang. "Masih butuh perbaikan agar mampu menjadi pemenang di kompetisi internasional, dan tidak gagal lagi seperti saat ikuti kompetisi robot ABU ROBOCON di India tahun lalu," kata Bayu. Dalam kontes itu, tim robot PENS hanya berhasil meraih posisi ketiga.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?