Komet Pembunuh Mamut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +

  • TEMPO Interaktif, Eugene - Batu antariksa yang menghantam gletser di timur Kanada sekitar 12.900 tahun lampau kemungkinan besar punya andil menyapu habis binatang raksasa, seperti woolly mammoth, dari muka bumi. Efek tumbukan komet itu diperkirakan juga bertanggung jawab atas kematian manusia pertama yang mendiami benua itu, orang Clovis. Hasil studi terbaru ini juga menambah bukti bahwa ada tiga faktor yang terlibat dalam kepunahan binatang zaman es.
    Bukti baru itu berasal dari intan berukuran nanometer yang belum lama ini ditemukan. Para ilmuwan menganggap intan itu sebagai petunjuk terkuat untuk mendukung argumen yang dapat menjelaskan kematian massal di wilayah tersebut pada masa Pleistocene akhir.
    Para ilmuwan telah lama beradu pendapat soal bencana apa yang menyebabkan peristiwa kepunahan massal, yang telah mengirimkan lebih dari tiga perempat binatang besar Zaman Es dan orang Clovis di Amerika Utara ke liang kubur mereka. Orang-orang Clovis adalah kelompok manusia Zaman Batu yang baru saja berimigrasi ke benua baru itu.
    Dua penjelasan utama yang berkembang, baik perburuan besar-besaran yang dilakukan manusia maupun perubahan iklim, ternyata tidak cukup kuat untuk dianggap sebagai penyebab kepunahan massal tersebut. Menambahkan hunjaman komet sebagai faktor ketiga ternyata menghasilkan kombinasi bencana yang amat mematikan, kata Allen West, peneliti GeoScience Consulting di Arizona, yang terlibat dalam studi itu.
    "Tak ada cara untuk menyatakan berapa persentase dari tiap-tiap faktor yang berperan dalam punahnya binatang raksasa itu," kata West. "Namun, bisa dipastikan ketiganya terlibat di sana, dari tumbukan komet, perubahan iklim, hingga manusia."
    Sebenarnya gagasan yang mengambinghitamkan komet ini bukan barang baru. Para ilmuwan telah melaporkan penemuan bukti adanya komet di kawasan itu berupa intan berukuran nanometer (nanodiamond), karbon mirip kaca dan iridium, unsur yang langka ditemukan di bumi.
    Namun, ini pertama kalinya ilmuwan melaporkan intan berbentuk heksagon. Nanodiamond yang dijuluki Lonsdaleite ini hanya ditemukan dalam meteorit atau kawah bekas tumbukan benda antariksa. "Lonsdaleite hanya terbentuk dalam temperatur dan tekanan amat tinggi yang konsisten dengan hantaman benda kosmis," kata salah seorang anggota tim studi, Douglas Kennett.
    Arkeologi dari University of Oregon ini amat yakin bahwa intan nanometer itu adalah bukti kuat. "Sejauh ini intan itu hanya ditemukan dalam meteorit dan kawah bekas tumbukan meteor di bumi, dan tampaknya ini adalah indikator terkuat bahwa telah terjadi tumbukan benda kosmis yang signifikan pada masa Clovis," ujarnya.
    Tim ilmuwan Oregon itu menemukan butiran intan supermini tersebut pada kedalaman 4 meter di sedimen di Ngarai Arlington, yang terletak di Pulau Santa Rosa. Pulau ini pernah terhubung dengan tiga pulau lain dari Kepulauan Northern Channel di lepas pantai California Selatan dalam sebuah daratan yang dijuluki Santarosae.
    Kennett dan timnya juga menemukan intan heksagon di sejumlah tempat lain di Amerika Utara dan Eropa. Dari bukti intan dan material lain itu, para ilmuwan bisa mereka bagaimana tabrakan komet memicu bencana bagi wolly mammoth dan orang-orang Clovis.
    Begini hasil rekaan mereka: satu atau beberapa obyek mirip komet dengan diameter hingga 2 kilometer menghunjam Kanada. Komet itu pastilah menabrak pada sudut miring, kata para ilmuwan, mengenai bongkahan es yang amat besar. Ini menjelaskan mengapa hingga sekarang para ilmuwan belum menemukan kawah komet tersebut.
    Dampak tabrakan komet itu kemudian memicu gelombang kebakaran besar. Dugaan ini didukung oleh jelaga yang ditemukan di kawasan itu selain adanya nanodiamond di situs Santa Rosa dan beberapa lokasi lain di seluruh Amerika Utara. Kebakaran itu mungkin telah membumihanguskan binatang-binatang besar dan manusia di dekatnya.
    Efek komet itu bisa jadi juga bertanggung jawab atas kepunahan pygmy mammoth dari Kepulauan Northern Channel, kata para ilmuwan dalam laporan yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pekan ini. Dampak jangka panjang komet itu ada kemungkinan juga menyebabkan kematian binatang lain yang selamat.
    "Ledakan besar seperti yang dihasilkan komet ini menyuntikkan banyak sekali uap air--komet terbuat dari air yang membeku menjadi es--sehingga peristiwa itu pada dasarnya telah menyebabkan terbentuknya awan di atas sebagian besar wilayah belahan bumi utara," kata West. "Hal itu membuat segala sesuatu menjadi amat dingin dengan cepat."
    Selain awan yang terbentuk akibat tumbukan komet, kebakaran memenuhi atmosfer dengan jelaga, uap air, nitrat oksida, dan debu yang menutupi sinar matahari. Gabungan itu menghasilkan pendinginan iklim yang amat cepat.
    West dan timnya menduga tumbukan benda kosmis itu juga menyebabkan periode pendinginan yang dikenal dengan Younger Dryas. "Itu mungkin seperti bila Anda tinggal di Miami yang panas dan tiba-tiba, dalam waktu kurang dari setahun, iklim berubah seperti di Montreal, Kanada," ujar West. "Itu berarti pohon palem tidak bisa tumbuh."
    Tumbuh-tumbuhan yang beradaptasi dengan iklim yang lebih hangat akan mati sehingga fauna raksasa yang menghuni dataran itu akan kesulitan menemukan makanan, kata West.
    Meski telah berhasil mengungkap sumber bencana punahnya fauna besar dan orang Clovis, West dan timnya masih terus berusaha mengetahui dengan pasti bagaimana nanodiamond bersisi enam dan berbagai intan lain yang ditemukan pada lapisan sedimen berumur 12.900 tahun itu. Para ilmuwan menduga temperatur tinggi dan tekanan tinggi yang diakibatkan tabrakan itu mengubah grafit di bumi menjadi intan heksagon. Es karbon dioksida yang terkandung dalam komet mungkin juga telah bertransformasi menjadi nanodiamond langka.
    TJANDRA DEWI | LIVESCIENCE | PMR UOREGON

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.