Serdadu Bebas Baterai  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Listrik untuk serdadu

    Listrik untuk serdadu

    TEMPO Interaktif, Leeds - Baris-berbaris ternyata tidak hanya melatih kedisiplinan, kerapian, semangat kekompakan, keseragaman, dan kerja sama antarprajurit, tetapi juga bisa menghasilkan listrik. Arti baru bagi kegiatan baris-berbaris ini ditemukan oleh para ilmuwan di University of Leeds, Inggris.

    Para ilmuwan tersebut mengembangkan sebuah cara untuk menangkap energi kinetik yang dihasilkan dari entakan kaki para serdadu ketika berbaris. Energi kinetik itu bisa dimanfaatkan untuk menyuplai tenaga listrik bagi peralatan militer yang dibawa para serdadu.

    Sistem baru yang dirancang untuk mengubah tenaga kaki menjadi dalam tenaga baterai ini dapat membantu para prajurit mengurangi bobot ransel yang harus mereka panggul sampai 10 kilogram. Perangkat yang dibuat para ilmuwan Leeds tersebut memakai kristal dan keramik teknologi tinggi sebagai material piezoelectric transducer, sebuah teknik untuk mengubah tekanan mekanik menjadi arus listrik.

    Tak hanya menciptakan alat pengumpul energi kinetik, proyek ini juga mencari lokasi paling tepat agar alat itu bisa "memanen" energi secara optimal. Tempat yang paling pas untuk memasang alat itu adalah sabuk ransel dan sekeliling lutut untuk memberikan dukungan aktif, bisa mengumpulkan energi sekaligus menjadi bantalan peredam ketika lutut ditekuk, sendi tertekan, atau ketika sepatu bot mereka mengentak tanah.

    "Selain sejalan dengan isu hijau dengan begitu banyaknya penggunaan baterai sekarang, alat ini bisa mengurangi berat ransel seorang prajurit sekitar 15 persen," kata Profesor Andrew Bell, Direktur Institute for Materials Research di University of Leeds, yang mengepalai proyek riset senilai Rp 16,4 miliar tersebut. "Teknologi ini punya potensi untuk beragam aplikasi bagi orang biasa juga."

    Proyek yang didanai oleh Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC) dan Defence Science and Technology Laboratory (DSTL) ini didesain untuk memenuhi kebutuhan para prajurit yang bertugas di medan perang seperti Irak and Afganistan. Ransel yang berat dapat membatasi pergerakan seorang prajurit dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan.

    Para serdadu angkatan darat Inggris biasanya membawa berbagai peralatan elektronik, termasuk lampu senter, radio personel, sistem komunikasi Bowman, ditambah perangkat electronic counter measures, yaitu alat pengecoh deteksi radar musuh. Umumnya beban yang harus dibawa seorang prajurit infanteri dalam menjalankan tugas patroli selama enam jam mencapai 75 kilogram, sekitar 10 kilogram di antaranya adalah berat baterai untuk menyalakan berbagai perangkat elektronika tersebut. Sisanya, perangkat penting seperti amunisi dan air.

    Gagasan pemanenan energi serupa sebenarnya juga telah digunakan pada mobil, bahkan mobil balap F1 juga menerapkannya. Pada mobil, pemanenan energi dilakukan dengan menyimpan tenaga yang terjadi ketika mobil mengerem dan kemudian dipakai untuk menggerakkan mobil ke depan. Meski demikian, pemanenan energi dari aktivitas manusia berjalan terbukti sulit dilakukan karena memerlukan fleksibilitas dan kekuatan material yang dipakai serta fakta bahwa setiap orang mempunyai gaya berjalan yang berbeda.

    Bell yakin timnya bisa melampaui semua rintangan dan berhasil menciptakan alat pemanen energi kinetik itu walaupun sudah banyak tim ilmuwan lain yang mencoba dan gagal di tengah jalan. Dia menyatakan timnya mengambil pendekatan secara holistik. "Dengan menggunakan material dan elektronika paling mutakhir dikombinasikan dengan memperhatikan perbedaan gaya berjalan, kami yakin bisa membuatnya tanpa menambah beban atau membuat letih para prajurit yang mengenakan alat ini," ujarnya.

    Selain alat pemanen energi, salah satu tujuan proyek ini adalah mengadaptasi perlengkapan radio yang dapat bekerja dengan tenaga seminimal mungkin. Radio gaya baru ini bekerja pada fase "standby" dan baru menyerap energi penuh ketika ada pesan penting yang diterima atau bila transmisi diperlukan.

    Proyek dua tahun ini akan mulai dilaksanakan pada September mendatang. Untuk merampungkan proyek besar ini, sejumlah ilmuwan dari sejumlah universitas di Inggris, yaitu Bristol, Essex, Liverpool, Sheffield, Southampton, dan Cranfield University.

    Sesungguhnya, tak hanya Departemen Pertahanan Inggris yang ingin membebaskan para serdadunya dari keharusan membawa baterai yang berat. Sejak 2004, Departemen Pertahanan Amerika telah menggalang para ilmuwan dari berbagai universitas di negaranya untuk melakukan beragam inovasi yang dapat meringankan beban para prajurit infanterinya.

    Salah satu inovasi untuk meringankan beban prajurit di lapangan adalah sistem pembangkit listrik tenaga hidrogen yang mudah dibawa. Hasil temuan para peneliti di Missouri University of Science and Technology itu bisa memasok listrik, dari laptop sampai perangkat komunikasi di medan perang.

    Sistem itu mengubah bahan bakar jet atau hidrokarbon menjadi hidrogen dan mengurangi barang bawaan para prajurit yang biasanya selalu mengantongi baterai seberat 9-18 kilogram untuk misi selama empat hari. Baterai itu digunakan untuk menyalakan sistem GPS dan alat penglihatan malam mereka.

    Sistem itu bekerja dengan mereaksikan bahan bakar jet itu dengan air untuk memproduksi hidrogen. Bahan bakar jet itu bisa diambil dari bahan bakar kendaraan tempur sehingga para prajurit tak perlu membawa baterai lagi. Apalagi proses ini berlangsung tanpa suara dan bebas bau, cocok untuk kondisi di medan perang bila dibandingkan dengan generator listrik diesel yang menghasilkan suara berisik.

    TJANDRA DEWI | l SCIENCEDAILY | LEEDS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.