Saatnya Beralih ke Ponsel Pintar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Apa yang Anda inginkan dari sebuah ponsel? Tanyakan kepada orang-orang di sekitar Anda. Beberapa tahun lalu jawaban yang Anda dapat mungkin, "Yang penting bisa telepon dan SMS." Tapi hari ini jawaban semacam itu terasa kuno sekali, dan bisa-bisa penjawabnya langsung dimasukkan ke kotak dengan label "ketinggalan zaman".

    Saat ini ponsel bukan sekadar ponsel atau alat sekadar untuk menelepon dan mengirim pesan. Tapi fungsi yang semakin besar, disusul kebutuhan akan teknologi yang bisa menyokong pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, membuat ponsel "biasa" tak lagi cukup.

    Dicky Kurniawan, misalnya, sudah bertahun-tahun bertahan dengan ponsel Siemens ME45. Ponsel ini berfitur biasa saja, telepon dan SMS, tak ada yang canggih. Saat itu fitur terbatas tersebut sudah cukup baginya.

    Tapi setahun terakhir kamerawan berusia 28 tahun ini memutuskan beralih ke ponsel pintar, Dopod D810, yang dilengkapi koneksi HSDPA, Bluetooth, fitur Push E-mail, GPS, dan pemutar musik. Layar sentuhnya menambah kesan canggih pada perangkat pintar ini.

    "Pingin aja pakai ponsel pintar, apalagi fiturnya lengkap dan ke mana pun pergi tetap bisa Internetan," jawab Dicky ketika ditanya alasannya membeli Dopod.

    Dicky sering kali harus pergi ke luar kota selama berhari-hari untuk syuting. Dengan ponsel pintarnya, ia tetap bisa memantau surat elektronik, berhubungan dengan kerabat dan teman, serta melakukan aktivitas lainnya tanpa perlu menghabiskan banyak pulsa karena adanya fasilitas Internet.

    Ria Ariyanie Haritha justru lebih awal lagi beralih ke ponsel pintar dari sebelumnya sebagai pengguna ponsel "biasa". Ibu satu anak yang juga manajer public relations ini sempat menggunakan ponsel bersistem operasi Windows Mobile sebelum akhirnya beralih ke BlackBerry, yang, menurut dia, lebih menjamin konektivitas.

    "Gue butuh smart phone karena gue mobile. Terutama fasilitas file office harus ada di handphone," kata Ria.

    Maka tak perlu heran jika semakin banyak pengguna perangkat telekomunikasi kini beralih ke ponsel pintar. Kapan saja, di mana saja, bukan sekadar slogan dengan kehadiran Internet pada ponsel. E-mail, chat, jejaring sosial, foto, musik, video, file penting untuk presentasi proyek, berita terbaru, semua terangkum dalam satu perangkat genggam yang muat di kantong itu.
    Warga Kelapa Gading kini juga tengah gandrung memiliki ponsel pintar, seperti Blackberry, Nokia E71, dan E63. "Di sini sudah banyak siswa yang memakai BlackBerry seri Bold dan Javelin," ujar Bella Dharmawan, siswi kelas XII SMA Al-Azhar Kelapa Gading. Ia lebih suka ponsel Samsung Omnia i900 agar terlihat lebih "gaya".

    Budi Riyanto, 52 tahun, wiraswastawan di Gading Bukit Indah, menikmati fasilitas Push E-mail dan Internet di Blackberry. "Saya bisa MMS hingga chatting dengan biaya jauh Lebih murah karena semua teman saya sudah pakai BlackBerry," kata pengguna Javelin 8900 ini.
    Seri Bold menempati urutan teratas di CelleBritizz, gerai gadget di Mal Kelapa Gading, rata-rata satu hari 2-3 unit, diikuti Curve 8320 1 unit per hari. "Bold layarnya lebih besar dan kemampuan 3G-nya bisa membuat penggunanya mengakses Internet lebih cepat," kata Neneng, staf penjualan CelleBritizz.

    Meski di Indonesia pertumbuhan penggunanya belum begitu besar, Manajer Produk LG Mobile Communications Indonesia John Halim mengatakan total pengguna ponsel pintar tidak sampai 10 persen. "Tetapi ponsel pintar memiliki pasar tersendiri, dan terus berkembang," ujarnya.
    Country Manager HTC Indonesia Agus Sugiharto mengatakan akan semakin banyak orang beralih ke ponsel pintar. Kecenderungan ini memang sudah terlihat terutama sejak maraknya pengguna BlackBerry. "Masa depan ponsel ada di smart phone. Di mana pun banyak orang beralih memakai smart phone," katanya.

    Djunadi Satrio, Head of Marketing Sony Ericsson Indonesia, berpendapat konsumen kini mencari produk yang menawarkan konvergensi. Artinya, tidak cuma bisa digunakan untuk menelepon dan SMS, tapi ponsel yang juga menggabungkan banyak fungsi.

    Tak mengherankan jika firma riset IDC menyebutkan penjualan ponsel pintar, yang jumlahnya tidak begitu besar, justru naik saat total penjualan ponsel di seluruh dunia turun 15,8 persen karena krisis global selama kuartal pertama 2009. Data dari Canalys bahkan mencatat, selama tiga tahun terakhir pertumbuhan pengguna ponsel pintar selalu meningkat dua kali lipat per tahunnya.

    Dengan pertumbuhan yang menjanjikan ini, para produsen telepon pintar akhirnya semakin memperkaya portofolio produk mereka. Sementara dulu seorang pelanggan harus menyisihkan minimal Rp 5 juta untuk sebuah ponsel pintar, kini dengan Rp 2,5 juta saja Anda sudah bisa mendapatkan perangkat murah dengan fitur lengkap dan canggih.

    KARTIKA CANDRA | IRVAN SJAFARI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.