Perlukah Memasang Antivirus di Ponsel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • iPhone

    iPhone

    TEMPO Interaktif, Jakarta -  Apakah ancaman virus pada ponsel benar-benar nyata? Perlukah membeli antivirus untuk ponsel? Sejumlah analis menganggap itu hal mubazir.

    Kendati beredar kabar bahwa hacker-hacker Ukraina telah berusaha membobol iPhone dan mencuri data, semua itu dinilai masih isapan jempol.

    Mengapa begitu? Menurut Bob Tedeschi, pengamat teknologi dari New York Times, karena para pembikin virus itu tak mampu mengikuti perkembangan software yang diluncurkan oleh Apple untuk iPhone. Apple selalu rutin menambal lubang-lubang softwarenya dengan meluncurkan software versi baru.

    Hal itu ternyata berlaku juga bagi ponsel-ponsel keluaran Nokia yang notabene memakai sistem operasi Symbian. Nokia adalah raja ponsel dunia, kecuali di Amerika Serikat. Sejauh ini juga belum terdengar adanya serangan virus terhadap ponsel Symbian.

    "Adanya malware dalam ponsel tampaknya belum menjadi serangan nyata," kata Mikko H. Hyppponen, kepala riset produsen antivirus F-Secure. Mikko telah membuat produk untuk mendeteksi dan membuang virus dari komputer maupun peranti mobile.

    Salah satu cara para produsen mencegah virus adalah dengan menyeleksi software yang dipasarkan. Contohnya, pada iPhone atau BlackBerry. Bila ada lembaga yang ingin membuat software berbasis kedua sistem operasi yang dimiliki kedua ponsel itu mereka harus menyerahkan softwarenya ke Apple dan Research in Motions, produsen BlackBerry. Mereka akan menyeleksi software mana yang boleh dijual melalui toko resmi mereka. Semua software untuk iPhone memang hanya dijual melalui situs milik Apple, yakni iTunes.com. Sedangkan software untuk BlackBerry dijual melalui toko online RIM.

    Produsen ponsel berbasis Windows, yakni Microsoft melakukan hal serupa, tapi hanya pada toko-toko tertentu seperti Handmark.com, Handango.com atau BestBuy.com. Software di sana dijamin bebas virus atau malware. 

    BS | NYT


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.