Kemarau di Tanah Komodo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta -

    Populasi biawak raksasa di Taman Nasional Pulau Komodo cukup terlindungi untuk sementara waktu. Tapi di Flores satwa purba itu terancam punah. Pemerintah pun berupaya memasukkan kawasan perlindungan komodo itu ke daftar Tujuh Keajaiban Alam Baru.

    ***
    Kapal bermotor itu membelah Laut Flores, yang memisahkan Pulau Flores dan Pulau Komodo. Butuh waktu sekitar tiga jam dari Pelabuhan Labuan Bajo, kota terdekat di Flores, untuk mencapai Loh Liang, pelabuhan utama di Pulau Komodo. Selama itu pula kapal diguncang-guncang ombak. Arus perairan ini terkenal ganas dan berbahaya. Arahnya sering tak menentu akibat pertemuan dua arus besar Samudra Pasifik di utara dan Samudra Hindia di selatan.

    Dari jauh, pulau yang dihuni sekitar 1.300 ekor komodo (Varanus komodoensis) itu terlihat gersang. Pepohonan di perbukitannya meranggas dan tanahnya yang cokelat mendominasi warna pulau seluas 336 kilometer persegi atau kira-kira separuh luas Provinsi DKI Jakarta itu.

    "Bulan ini musim kemarau. Bila Anda datang di musim penghujan pada Februari-Maret, akan melihat bukit-bukit yang hijau," kata Heru Rudiharto, Kepala Tata Usaha Balai Taman Nasional Komodo, Selasa dua pekan lalu.

    Secara administratif, taman nasional itu masuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luasnya 1.817 kilometer persegi, meliputi 603 kilometer persegi kepulauan dan 1.214 kilometer persegi taman laut. Ada 61 pulau di kawasan itu. Beberapa yang besar adalah Pulau Komodo, Rinca, Padar, dan Gili Motang.

    Taman yang dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia dan Cagar Manusia dan Biosfer oleh UNESCO pada 1986 itu dihuni sekitar 2.500 komodo. Selain di Pulau Komodo, biawak raksasa itu tersebar di Pulau Rinca (sekitar 1.000 ekor), dan Gili Motang (100 ekor). Ada pula sekitar 100 ekor di Cagar Alam Wae Wuul, di daratan Flores, dan tak termasuk wilayah taman nasional.

    Pemerintah tengah berjuang agar Taman Nasional Komodo masuk daftar Tujuh Keajaiban Alam Baru (New 7 Wonders of Nature). Ini kompetisi dengan memakai sistem voting yang digelar Yayasan The New7Wonders untuk mencari tujuh keajaiban alam yang layak didokumentasikan dan dirawat. Taman Nasional Komodo menjadi finalis bersama 27 situs lainnya setelah menyisihkan 440 calon dari 220 negara. Voting dilakukan di situs www.new7wonders.com.

    Ketika upaya itu masih berlangsung, nasib taman nasional dan penghuninya justru dalam ancaman. Belakangan ini tersiar berita tentang penambangan emas di dekat taman nasional dan rencana pemindahan komodo ke Bali. Lokasi tambang kontroversial itu terletak di daerah Batu Gosok, sebuah gugusan tanjung kecil tepat di ujung utara Kecamatan Komodo. Masyarakat khawatir limbah penambangan itu nantinya akan merusak taman nasional.

    Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda menyatakan penambangan itu sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. "Perlu saya tegaskan, terutama kepada media massa di Jakarta, bahwa lokasi tambang itu berada jauh di luar taman nasional. Letaknya 11 kilometer sebelah utara Labuan Bajo," kata Pranda saat menerima sejumlah wartawan di kediamannya di Labuan Bajo pada 17 Agustus lalu.

    Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya menyatakan akan mempertimbangkan kembali kelanjutan eksplorasi penambangan tersebut dan telah membentuk sebuah tim untuk melakukan kajian.

    Ada masalah lain. Menteri Kehutanan Malem Sambat Kaban mengeluarkan surat keputusan bernomor SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009, yang memberikan izin menangkap 10 ekor komodo untuk dipindahkan ke Taman Safari Bali. Langkah ini untuk menyelamatkan komodo di Pulau Flores dari ancaman kepunahan. Komodo memang hidup di areal semak belukar penuh rumput kering yang pada musim panas sangat mudah terbakar. Hewan ini bahkan mulai masuk ke perkampungan dan memangsa ternak warga. Alasan lain pemindahan itu adalah demi pemurnian genetis.

    Rencana itu kontan ditentang berbagai kalangan masyarakat, termasuk dari lembaga swadaya masyarakat pemerhati lingkungan, legislator Kabupaten Manggarai Barat, hingga kepala daerah di Flores. Kaban mengalah. Dia menggelar rapat koordinasi pada 12 Agustus lalu dengan para wakil Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur, Bupati Manggarai Barat, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, para pakar dari Institut Pertanian Bogor serta Universitas Gadjah Mada, Kementerian Lingkungan Hidup, Taman Safari Indonesia, dan beberapa pihak lain. Rapat memutuskan membentuk suatu tim pengkajian lapangan dan kemudian memberikan rekomendasi kepada Menteri Kehutanan mengenai surat keputusan itu.

    Populasi komodo yang dicemaskan Kaban berada di kawasan Wae Wuul, sekitar 15 kilometer sebelah utara Labuan Bajo. Kawasan ini tidak dipangku Taman Nasional Komodo, berdekatan dengan permukiman penduduk dan kurang terawat.
    Kepala Taman Nasional Komodo, Tamen Sitorus, memperkirakan populasi komodo di Wae Wuul memang terancam punah. "Di sana tidak ada pos penjagaan dan hanya ada dua petugas pengawas. Akibatnya, perambahan, degradasi hutan, dan kebakaran pun terjadi," katanya.

    Tamen mendukung rencana Departemen Kehutanan untuk memulihkan spesies tersebut dengan membiakkannya di luar habitatnya atawa konservasi eks situ. "Hasil pembiakannya nanti dikembalikan ke habitatnya. Setelah itu wilayahnya juga harus dikelola secara efektif, dibangun pos penjagaan, dan seterusnya. Kalau dikelola dari jauh, penurunan akan terjadi," kata pegawai yang pernah memimpin Taman Nasional Bukit Barisan Selatan itu.

    Berbeda dari Wae Wuul, komodo di taman nasional dijaga dengan sangat baik. "Ada 69 polisi hutan atau jagawana (ranger) yang mengawasi," kata Prayitno, jagawana asal Banyuwangi yang telah 25 tahun bekerja di sana.

    Di Pulau Komodo terdapat lima pos patroli darat. Lima pos patroli darat lainnya berdiri di Pulau Rinca dan satu pos di Sape. Jagawana juga bertugas melakukan konservasi di laut dengan melakukan survei dan patroli perairan dengan menggunakan stasiun apung serta bekerja sama dengan pihak kepolisian, tentara, dan aparat pemerintah setempat.
    Komodo adalah binatang buas yang secara normal membutuhkan makan cukup sekali seminggu. Tapi komodo juga tahan berpuasa selama sebulan. Di Pulau Komodo, binatang ini menjadi pemangsa tingkat atas. Semua binatang yang terdapat di sana, seperti babi hutan, rusa timor, kerbau, kuda, dan kera, menjadi santapannya.

    Para ilmuwan memperkirakan komodo mampu bertahan hingga usia 50 tahun. Meski sering tampak berbaring dengan tenang, biawak purba itu bisa lari dengan kecepatan 18 kilometer per jam. Berat komodo dewasa 90-100 kilogram. Panjang pejantan lebih dari 2,5 meter, adapun yang betina lebih kecil.

    "Komodo sebenarnya tak punya naluri membunuh, tapi melumpuhkan mangsanya. Biasanya kerbau yang besar butuh waktu seminggu baru mati, tapi sebagian badannya sudah habis dimakan komodo," kata Yusuf Jenata, jagawana asal Labuan Bajo yang telah bekerja di sana sejak 1983.

    Menurut Yusuf, ancaman terhadap komodo hampir tidak ada. Perburuan liar ada, kata dia, tapi para pemburu itu mencari rusa, bukan komodo. "Ancaman justru datang dari pertambahan jumlah penduduk, karena di dalam kawasan ini ada beberapa kampung," kata dia.

    Warga Kampung Komodo, penduduk asli pulau tersebut, ada 1.300 jiwa. Yusuf menuturkan penduduk sering menggunakan kayu api, yang mengancam terjadinya kebakaran, terutama di musim kemarau seperti sekarang.

    Taman Nasional Komodo tak cuma berisi komodo. Di sana juga terdapat 277 spesies hewan yang terdiri dari perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia, misalnya 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka.
    Selain itu, kawasan ini terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Setidaknya terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu yang ditemukan di sana, dengan sekitar 1.000 spesies ikan. Keindahan terumbu ini menarik minat wisatawan.

    Menurut Tamen, jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana naik dari 17 ribu pada 2002 menjadi 22 ribu pada 2008. Sebagian besar atau 96 persennya adalah wisatawan asing dari Eropa, Amerika Serikat, Australia, Rusia, dan Asia (Cina, Jepang, dan Korea). "Umumnya mereka datang dari Bali, karena di sana ada bandar udara internasionalnya," kata dia.

    Wisatawan biasanya berkunjung ke Pulau Komodo lalu berenang atau menyelam di perairan sekitar taman nasional. Nicholas Saputra, bintang film yang hobi menyelam, sempat beberapa kali menyelam di perairan ini. Terakhir dia berada di sana selama empat hari dan menyelam di enam tempat, pertengahan bulan ini. "Itu pengalaman yang luar biasa. Saya kira terumbu karang di sini adalah yang terumbu paling indah," katanya.

    Menjaga terumbu karang tidaklah mudah. Ancaman datang dari para nelayan maupun wisatawan. Para nelayan dulu sering menggunakan alat kompresor hookah, bom buatan sendiri, dan sianida untuk menangkap ikan. Pemerintah telah melarang penggunaan alat-alat itu, dan aksi pengeboman ikan telah menurun 80 persen sejak 1996, ketika patroli jagawana mulai aktif.

    Kini ancaman datang dari ulah para wisatawan dan pengelola wisata yang mengoperasikan kapal pengangkut. Tempo sempat menyaksikan seorang pemandu wisata sekaligus pengemudi kapal bermotor yang menepikan kapalnya untuk menjemput wisatawan, padahal laut sedang surut dan kapalnya merusak terumbu karang di bibir pantai.

    "Bahkan ada wisatawan yang bikin api unggun di sebuah pulau, karena biro wisatanya memang menjanjikan itu. Api di sini kan berbahaya, bisa memicu kebakaran," kata Tamen.

    Kepentingan ekonomi memang kerap bertabrakan dengan upaya konservasi. Di Pulau Komodo, calon korban pertamanya adalah satwa purba.

    Kurniawan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.