Mutu Gedung Buruk Perbanyak Korban

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat bekerja mencari korban pada reruntuhan di Padang Sumatera Barat, Jumat (2/10). Tim penyelamat berjuang menyelamatkan para korban yang tertimpa reruntuhan, korban jiwa terus bertambah. Tempo/Zulkarnain

    Alat berat bekerja mencari korban pada reruntuhan di Padang Sumatera Barat, Jumat (2/10). Tim penyelamat berjuang menyelamatkan para korban yang tertimpa reruntuhan, korban jiwa terus bertambah. Tempo/Zulkarnain

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Departemen Pekerjaan Umum mengirimkan tim ahli struktur ke Sumatera Barat. Langkah ini diambil akibat banyaknya gedung dan bangunan publik yang luluh lantak akibat gempa di wilayah itu pada Rabu lalu.

    "Kami ingin mengevaluasi penerapan Standar Nasional Indonesia dalam perencanaan struktur bangunan rumah dan gedung di sana," ujar Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Budi Yuwono tadi malam.

    Menurut Budi, dari banyaknya bangunan publik dan rumah yang roboh dalam bencana itu, diduga ada kelalaian dalam penerapan standar nasional itu. Padahal Padang daerah rawan gempa, sehingga seharusnya standar itu diterapkan sebagai syarat untuk bisa memperoleh Izin Membangun Bangunan. "Ini tak cuma di Padang, tapi juga di banyak daerah," kata Budi.

    Akibatnya, bukan cuma bangunan lama yang ambles dan roboh, gedung baru pun rebah dengan struktur yang terlihat seperti masih utuh. "Robohnya (jadi) rada aneh," ujarnya.
    Yuskar Lase, pakar struktur bangunan tahan gempa dari Universitas Indonesia, mengatakan bangunan publik mestinya tidak roboh akibat gempa berkukatan 7,6 pada skala Richter jika peraturan dan ketentuan dalam SNI 2002 diikuti. "Peraturan yang ada sudah mengantisipasi kekuatan gempa yang jauh lebih besar, yakni 8-8,5 skala Richter," katanya.

    Caranya di antaranya menerapkan konsep tiang kolom yang jauh lebih kuat daripada balok-baloknya. Konsep seperti ini membuat gempa besar hanya bisa merusak bangunan, tapi tidak sampai membuatnya roboh. "Konsep ini pulalah yang diadopsi di Jepang pascagempa Kobe 1995 dan juga negara-negara lainnya, seperti Selandia Baru dan Amerika Serikat," kata Yuskar.

    Praktisi perencana bangunan yang juga anggota penasihat Gubernur DKI Jakarta di bidang struktur bangunan (publik) itu meyakinkan bahwa konsep dan teknik itu tidak lalu membuat konstruksi bangunan menjadi mahal. Yuskar menghitung, selisih biayanya dengan konstruksi bangunan konvensional cuma 5 persen. "Tapi banyaknya pemerintah daerah yang tidak melakukan diseminasi informasi ini membuat bangunan tahan gempa tidak populer dan tidak disadari," kata dia.

    Wuragil


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.