Habibie : Membendung Muara Sungai Meningkatkan Cadangan Air  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Adri Irianto

    TEMPO/Adri Irianto

    TEMPO Interaktif, Jakarta -  Membendung semua muara sungai di Pulau Jawa dapat mencegah air tawar terbuang percuma ke laut sehingga masih dapat dimanfaatkan. Ini juga dapat dijadikan solusi untuk mengatasi permasalahan krisis air pada saat ini. Mantan Presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan membendung muara sungai diperkirakan dapat meningkatkan cadangan air tawar sampai 30 miliar meter kubik per tahun.

    Bendungan yang digagas berlokasi di laut, tepat di muka muara sungai, itu juga dapat mencegah aliran limbah ke laut. "Kalau dihitung, (volume) air minum yang tertampung di bendungan itu bisa mencapai 30 miliar kubik, padahal kita hanya butuh 1 miliar kubik," kata mantan Menteri Riset dan Teknologi tersebut dalam seminar tentang strategi perencanaan perkotaan dalam rangka peringatan Hari Habitat Dunia di Departemen Pekerjaan Umum kemarin.

    Saat ini, gagasan membendung sungai-sungai di pantai utara Jawa, seperti di Semarang dan Teluk Jakarta, masih dalam taraf studi. "Pembuatan bendungan ini sama sekali tidak mengambil lahan di darat, tapi maju ke laut seperti membuat polder," kata Habibie. "Air asin kita pompa ke luar, dan bendungan dipakai untuk menampung air tawar dari kali."

    Bila bendungan itu bisa direalisasi, diyakini tak akan ada lagi krisis air bersih karena semua kalangan dapat menjangkaunya. "Bahkan suatu hari air tawar itu bisa diekspor," ujarnya.

    Namun, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman beranggapan cara ini tidak tepat diterapkan di semua wilayah Indonesia. "Yang di Kalimantan dan hidupnya bergantung pada habitat pertemuan air tawar dan air laut pasti akan protes, 'Di mana saya cari ikan,'" katanya.

    TJANDRA DEWI | KARTIKA CANDRA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?