Nokia Kini Mulai Produksi Laptop

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, New York - Nokia, penguasa pasar ponsel, meluncurkan laptop pertama. Laptop kecil, bernama Nokia Booklet 3G itu diumumkan akan dijual bulan depan di Amerika Serikat dengan harga US$599 (Rp 5,6 juta), mengandalkan keawetan batere yang sampai 12 jam sekali isi ulang.

    Langkah Nokia ini seperti berkebalikan dengan Apple. Apple semula membuat komputer tapi sekarang menangguk untung dengan ponsel trendi iPhone. Sedang Nokia, selama bertahun-tahun menguasai pasar ponsel sekarang mulai masuk pasar komputer.

    Para pembeli Amerika memiliki dua pilihan harga untuk produk netbook Nokia ini. Selain US$599, mereka juga bisa memilih harga separuhnya, US$2,99, tapi dibundel dengan paket internet operator AT&T Inc. Dalam paket bundelan ini, selama dua tahun pembeli mesti membayar US$60 (Rp 560 ribu) perbulan dan mendapat data sampai lima giga bita.

    Booklet memiliki sistem operasi Windows 7, sistem operasi terbaru yang baru bakal dilepas ke pasar oleh Microsoft bulan depan.

    Selain sistem operasi sangat baru, yang sangat diandalkan dalam komputer ini adalah daya tahan batere yang sampai 12 jam, kira-kira tiga kali lipat rata-rata daya tahan netbook lain.

    Netbook ini juga memiliki layar sangat tajam, tipis, dan ringan.

    Spesifikasi Nokia Booklet 3G:

    Batere
    12 jam sekali isi ulang
    16 cell, 56,8 Wh, Li-Ion, bisa diganti

    Monitor
    10,1 inci

    Sistem Operasi
    Windows 7

    Prosesor
    Intel Atom Z530, 1.6 GHz

    Hardisk
    120 GB

    Dimensi
    26,4 cm x 18,5cm x 1,99 cm

    Berat
    1,25 kg

    Warna
    Hitam, putih, biru

    Koneksi
    GSM/GPRS

    WiFi, GSM 3G/HSDPA, varian lain WCDMA


    REUTERS/NURKHOIRI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?