Tokai Challenger Melintasi Australia Bermodal Cahaya Matahari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Adelaide - Penampilan boleh sama, tapi Tokai Challenger berhasil mencapai garis finis lebih cepat dari para pesaingnya dalam World Solar Challenge 2009 di Australia, akhir pekan lalu. Seperti kendaraan tenaga surya lain yang mengikuti kompetisi tersebut, kendaraan berkapasitas satu orang itu memiliki bidang permukaan seluas 6 meter persegi, yang dipenuhi panel surya.

    Kemenangan mobil bertenaga surya buatan tim Tokai University, Tokyo, Jepang, itu tak lepas dari peran Kenjiro Shinozuka, pengemudi utama tim tersebut. Penakluk reli Paris-Dakkar itu kini sukses membawa Tokai Challenger menjadi kendaraan tenaga surya tercepat dalam ajang tersebut.

    Peraturan dalam lomba dua tahunan itu sederhana saja. Setiap kendaraan harus menempuh jarak lebih dari 3.000 kilometer dari Darwin ke Adelaide dalam waktu sesingkat mungkin, hanya menggunakan sinar matahari sebagai bahan bakar. Panitia memberi tenggat empat hari untuk menyelesaikan lomba. Tahun ini, lomba tersebut diikuti oleh 38 mobil surya dari 17 negara.

    Dalam kompetisi itu, tim Jepang berhasil menyelesaikan dalam waktu tiga hari, nyaris tanpa diwarnai kendala apa pun, dengan kecepatan tertinggi 106 kilometer per jam. Dewan juri mencatatkan, Tokai Challenger,  yang menggunakan sel surya buatan Sharp, menyelesaikan rute sejauh 3.021 kilometer itu dengan kecepatan rata-rata 100,54 kilometer per jam.

    Meski tidak memecahkan rekor kecepatan World Solar Challenge, 102,75 kilometer per jam yang dicatat pada 2005, Tokai Challenger berhasil membukukan kecepatan rata-rata tercepat sejak ditetapkannya peraturan baru pada kompetisi 2007. Menurut peraturan baru itu, penggunaan panel surya dikurangi 25 persen sehingga luas bidang permukaan mobil yang tertutup panel surya hanya 6 meter persegi.

    Shinozuka mengatakan mobilnya hampir tak menemui kesulitan berarti setelah meninggalkan Darwin pada Minggu lalu. Satu-satunya masalah, hanya satu ban kempis karena bocor sekitar 200 kilometer sebelum garis finis. Namun, insiden tersebut tidak menimbulkan masalah serius. Dia menyatakan lomba itu amat berat karena harus melalui Northern Territory dan semua mobil harus berjuang melawan temperatur tinggi, debu, dan angin kencang. "Pada hari kedua, kami menghadapi badai debu dan angin kencang," kata Shinozuka. "Jadi kami amat beruntung."

    Shinozuka memang jauh lebih tua dibandingkan dengan rekan satu timnya, termasuk dua pengemudi pendampingnya. Tapi pria 60 tahun tersebut memiliki hubungan dengan universitas di utara Tokyo itu karena sempat mengecap pendidikan di sana ketika masih muda.

    Meski demikian, bukan prestasi akademisnya yang menentukan kemenangan tim Tokai University, melainkan kemampuan mengemudi Shinozuka. Dalam ajang itu, kepiawaian veteran reli Paris-Dakkar itu sangat berguna dalam mengatasi kondisi Northern Territory yang ganas, penuh debu, dan angin kencang.

    Selain memenangi reli Paris-Dakkar pada 1997, Shinozuka memiliki daftar panjang prestasi di dunia balapan off-road, termasuk menjuarai World Rally Championship. Tapi dia mengakui bahwa mengendarai mobil surya amat berbeda, dan merupakan pengalaman baru baginya.

    Dengan kemenangan itu, Tokai Challenger berhasil mematahkan ambisi tim Nuon Solar dari TU Delft Belanda untuk meraih kemenangan lima kali berturut-turut dalam lomba yang telah berlangsung sejak 1987 itu. NUNA 5, mobil buatan tim Nuon Solar Belanda, mencapai garis finis di Port Wakefield Rd, sebelah utara Adelaide, pada Kamis pagi, dan menempati posisi kedua dalam kompetisi itu. NUNA 5 mencapai finis,30 menit di depan Infinium dari University of Michigan, Amerika Serikat.

    Tak semua tim seberuntung Shinozuka. Sejumlah mobil tak bisa mencapai Adelaide sebelum tenggat balapan berakhir pada Jumat. Bahkan dua mobil mengundurkan diri secara resmi, yaitu Umicar dari Belgia, yang mengalami kecelakaan pada hari pertama, hanya 380 kilometer dari Darwin, sedangkan Swisspirit dari Swiss gagal melakukan start.

    Balapan itu memberikan kesempatan bagi perusahaan otomotif, ilmuwan energi surya, desainer, dan perusahaan teknologi untuk menguji gagasan mereka. Pada 2001, kompetisi itu menambahkan kategori khusus, yaitu kelas demonstrasi. Umumnya kelas ini diikuti oleh perusahaan otomotif untuk mendemonstrasikan kualitas ramah lingkungan kendaraan produksinya.

    TJANDRA DEWI | AFP | GLOBALGREENCHALLENGE | SHARP-WORLD |TUDELFT


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?