Berlayar di Samudra Pasifik dengan Botol Plastik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Plastik

    Kapal Plastik

    TEMPO Interaktif, San Francisco - Pemanfaatan kembali limbah botol plastik bekas air minum kemasan menjadi pot tanaman, bahkan lampu hias, sudah banyak dilakukan orang. Namun, baru David de Rothschild yang mencoba melintasi Samudra Pasifik yang ganas dengan perahu yang dirakit dari ribuan botol plastik. Ide ini mungkin terdengar gila, tapi De Rothschild benar-benar serius berlayar dari California, Amerika Serikat, ke Australia menempuh jarak 17.700 kilometer.

    De Rothschild punya misi penting di balik perjalanan menantang bahaya itu. Dia berharap perahu botol plastik bekasnya, yang kini tengah dibuat di sebuah galangan kapal di San Francisco, akan mendorong daur ulang botol plastik bekas. Pria itu menyatakan bahwa botol plastik bekas adalah simbol limbah global.

    Perahu yang akan digunakannya bukan rakit sederhana dari ribuan botol plastik yang disusun bersama. Perahu layarnya dibentuk menjadi sebuah catamaran, atau perahu berlambung dua yang keren. Kecuali tiang kapal, yang terbuat dari logam, semua bagian catamaran dua itu terbuat dari plastik daur ulang.

    "Perahu ini hanya mengandalkan kekuatan layar," katanya. "Gagasannya adalah tidak menambah polusi jenis apa pun ke atmosfer atau ke laut, apa pun alasannya, sehingga yang ada di atas kapal akan dibuat kompos. Semua akan didaur ulang. Bahkan perahu ini akhirnya akan didaur ulang ketika kami mencapai finis."

    Perahu plastik yang dijadwalkan berangkat dari San Francisco pada April 2010 itu dinamai Plastiki. Nama itu adalah tanda penghormatan kepada Thor Heyerdahl, penjelajah berkebangsaan Norwegia, yang pada 1947 berlayar melintasi Samudra Pasifik lebih dari 7.000 kilometer menggunakan Kontiki, sebuah rakit dari kayu balsa.

    De Rothschild adalah seorang petualang. Keturunan keluarga perbankan kaya Inggris itu adalah satu di antara beberapa orang yang pernah bolak-balik melintasi Samudra Arktik dan Antartika. Pada 2005, dia mendirikan Adventure Ecology, sebuah organisasi yang menggunakan ekspedisi lapangan untuk menarik perhatian terhadap isu lingkungan.

    Dalam perjalanannya nanti, De Rothschild akan dibantu oleh tiga pelaut dan ilmuwan yang akan menjadi awak kapal tetap dan serombongan awak kapal yang akan dirotasi selama pelayaran tersebut. Plastiki diperkirakan mampir di Hawaii, Tuvalu, dan Fiji dalam rute menuju Sydney, sebuah perjalanan yang diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 100 hari.

    Perahu layar plastik tersebut dirakit di sebuah galangan tua, tak jauh dari Fisherman's Wharf. Di sana ribuan botol plastik soda berukuran 2 liter dicabuti labelnya, dicuci, dan diisi dengan bubuk es kering serta disegel rapat. Es kering akan menyublim menjadi gas karbon dioksida (CO2) dan menekan botol, membuatnya menjadi keras.

    Lambung kembar perahu sepanjang 20 meter itu akan diisi 12-16 ribu botol. Panel mirip kulit yang terbuat dari plastik PET, yang didaur ulang secara khusus menjadi jalinan plastik, akan menutupi lambung kapal dan kabin kedap air. Kabin itu cukup untuk menampung tempat tidur bagi empat awak kapal. "Pada dasarnya panel ini terbuat dari material serupa, yang juga dibikin dari botol," kata De Rothschild. "Kami membungkus busa PET dengan kain PET ini, kemudian meletakkannya di bawah vacuum untuk membuatnya hampa udara, mengepresnya dan membuat panel-panel PET panjang ini. Sehingga kapal ini secara teknis adalah sebuah botol raksasa."

    Dua turbin angin dan rangkaian panel surya menghasilkan listrik yang disimpan dalam baterai 12 volt. Listrik tersebut digunakan untuk menyalakan sejumlah komputer jinjing, sistem GPS, dan telepon satelit.

    Menurut De Rothschild, hanya 10 persen badan Plastiki yang terbuat dari material baru. Dia menolak mengungkap berapa banyak dana yang dikeluarkan untuk membuat perahu tersebut. "Kami punya potensi untuk membangun sebuah kapal yang biayanya hanya sekian persen dari ongkos pembuatan kapal biasa," ujarnya.

    Dia juga berharap bisa menarik perhatian terhadap fenomena lingkungan Great Pacific Garbage Patch, sebuah kawasan samudra yang tertutup sampah hingga beberapa ratus mil. Kumpulan sampah di barat laut Hawaii itu pertama kali ditemukan oleh Charles Moore, seorang oceanographer, pada 1999, ketika berlayar ke Hawaii. "Saya tertegun. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya plastik," kata Moore.

    Perairan itu tertutup sampah berupa puluhan ribu potongan plastik per mil persegi yang terperangkap dalam arus pusaran North Pacific Gyre di kawasan itu. Selain kantong plastik, ada gantungan pakaian plastik, botol bekas, tutup botol, plastik pembungkus, bola voli yang kempis, sampai ban truk mengambang di sana. Polusi itu kini mengancam populasi burung-burung laut dan ikan yang hidup di kawasan tersebut.

    Sebetulnya De Rothschild bukan orang pertama yang memiliki gagasan berlayar dengan botol plastik. Tahun lalu, Junk Raft, sebuah rakit terbuat dari sampah dan puing yang dibuat oleh Algalita Marine Research Foundation, berlayar menuju Great Pacific Garbage Patch. Lembaga yang didirikan oleh Charles Moore itu juga bertujuan menyoroti isu polusi plastik di samudra.

    Meski demikian, De Rothschild menekankan bahwa proyeknya memiliki visi lebih besar. Tujuan akhir pelayaran Plastiki bukan sekadar mendorong orang untuk beralih pada energi bersih dan terbarukan, melainkan melihat limbah sebagai sumber daya yang potensial. "Kami ingin memamerkan produk yang dapat terus dipergunakan secara lestari, bukan produk sekali pakai," kata De Rothschild. "Idenya adalah membawa Plastiki, membongkarnya seusai pelayaran, dan memasukkannya kembali ke sistem daur ulang. Sehingga Plastiki nantinya bisa dibuat menjadi jaket, tas, atau botol lagi. Seluruh bagiannya dapat didaur ulang."

    Dalam perjalanannya, yang disponsori oleh International Watch Company dan Hewlett-Packard, De Rothschild akan mengumpulkan sampel air, posting blog, foto, dan klip video kawasan tersebut untuk mempublikasikan bencana yang disebabkan oleh polusi plastik.

    Dia optimistis Plastiki akan dapat menyampaikan pesan tersebut kepada dunia, meski belum dapat dipastikan apakah perahu itu dapat menyelesaikan perjalanannya dari Amerika Serikat ke Australia dengan sukses.

    Walaupun beberapa pakar konservasi khawatir terhadap jumlah energi yang diperlukan untuk mendistribusikan botol plastik dan membuat Plastiki, mereka menyambut baik atas gagasan tersebut. "Apa pun yang menjadi berita dan membuat orang berhenti dan berpikir tentang plastik akan sangat menolong," kata Betty McLaughlin, Direktur Eksekutif Container Recycling Institute. "Tetapi yang merisaukan saya adalah jauhnya jarak yang harus ditempuh perahu itu. Saya pernah terbang dari Los Angeles ke Australia, dan terasa bagai selamanya. Pelayaran ini amat berbahaya."

    TJANDRA DEWI | CNN | GUARDIAN | PLASTIKI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.