COP Ke-15 Harus Menghasilkan Target Pengurangan Emisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Kopenhagen - Kemitraan BirdLife International meminta para negosiator dalam perhelatan akbar Pertemuan Para Pihak (COP) ke-15 Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, 7-18 Desember, menyetujui target nyata mengurangi emisi gas rumah kaca. Kemitraan yang beranggota 100 negara itu berharap pemerintah dari berbagai negara yang mengikuti COP ke-15 dapat menyepakati aksi penanggulangan perubahan iklim.

    Mitra BirdLife International dari 19 negara saat ini terlibat aktif dalam negosiasi di Kopenhagen untuk memastikan tercapainya kesepakatan baru dalam upaya mengatasi ancaman global dari perubahan iklim terhadap masyarakat dan alam. Lembaga konservasi itu menyatakan dunia masih memiliki peluang untuk menahan laju peningkatan suhu global sampai 2015.

    Melanie Heath, Penasihat Senior Perubahan Iklim BirdLife International, mengatakan selama satu abad terakhir ini suhu permukaan Bumi telah meningkat rata-rata 0,74 derajat Celsius. Peningkatan suhu lebih dari 2 derajat Celsius diperkirakan menyebabkan efek bencana terhadap alam, manusia, dan ekonomi global. Di beberapa tempat, suhu rata-rata telah meningkat di atas 2 derajat Celsius.

    "Masih ada celah sampai 2015, yang memungkinkan kita menahan peningkatan suhu global atau bahkan menguranginya secara signifikan," kata Heath. Salah satunya adalah yang diminta Kemitraan BirdLife kepada para pemimpin dunia dalam pertemuan ini untuk menyetujui target yang nyata mengurangi emisi gas rumah kaca. "Perubahan iklim benar-benar sedang terjadi."

    Dampak perubahan iklim, termasuk kemarau panjang, gagal panen, banjir, kenaikan permukaan laut, dan cuaca ekstrem, telah mulai dirasakan di berbagai tempat di dunia dan masyarakat miskin dengan ekosistem yang rentan mengalami dampak yang lebih parah. Banyak studi juga menyimpulkan bahwa berbagai jenis tumbuhan dan hewan tidak akan mampu bertahan menghadapi perubahan iklim di lingkungan mereka.

    Indonesia, yang terletak di wilayah beriklim tropis, adalah salah satu negara paling rentan terhadap perubahan iklim, terutama masyarakat di kawasan timur Indonesia, yang tandus dan curah hujan minim. Apalagi mereka umumnya tinggal di pulau-pulau kecil dengan sumber daya alam terbatas.

    Tak hanya manusia yang terancam, tapi juga satwa liar unik yang hidup di pulau kecil tersebut. Berdasarkan pantauan lembaga konservasi Burung Indonesia, sebagian besar burung endemi hidup di kawasan timur Indonesia, sehingga lembaga tersebut khawatir satwa langka itu terancam punah akibat tak mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi. "Menjaga burung liar dari kepunahan memang menjadi tujuan organisasi kami," kata Agus Budi Utomo, Managing Director Burung Indonesia. "Kunci suksesnya adalah selalu bekerja sama dengan masyarakat."

    Kemitraan BirdLife berharap keputusan Kopenhagen harus mencakup lima hal: 1. Mengurangi emisi karbon dalam jumlah yang diperlukan untuk membatasi peningkatan suhu rata-rata global kurang dari 2 derajat Celsius dibanding dengan awal masa industrialisasi.
    Negara maju harus memimpin dalam pengurangan emisi, namun negara berkembang harus melakukan aksi serupa. Emisi global harus turun sebelum 2020, dan mencapai 80 persen di bawah tingkat emisi 1990 pada 2050. Negara-negara industri harus mencapai target pengurangan emisi 40 persen di bawah tingkat emisi 1990 pada 2020.

    2. Menghargai pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan jasa lingkungan dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya, dalam pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi (REDD). Deforestasi hutan tropis menyumbang 15-20 persen dari total emisi.

    3. Menghargai pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan jasa lingkungan dalam dalam adaptasi perubahan iklim. Lingkungan keanekaragaman hayati yang sehat berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Hasil Kopenhagen harus memasukkan pendekatan ekosistem sebagai strategi dalam membantu masyarakat beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan menjadikan ekosistem rentan sebagai prioritas penting.

    4. Menyediakan pendanaan bagi negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi yang diakibatkan oleh deforestasi, memungkinkan adaptasi terhadap perubahan iklim, dan mendukung pembangunan rendah karbon.
    Sedikitnya US$ 200 juta per tahun dibutuhkan hingga 2020, termasuk US$ 35 juta untuk REDD, dan US$ 100 juta untuk memungkinkan negara-negara berkembang beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang tak dapat dihindari.

    5. Memastikan negara industri menghitung emisi dan penyerapan karbon mereka dari atmosfer ketika mereka menaksir sektor penggunaan lahan.
    Ketentuan yang ada saat ini memungkinkan negara industri menyembunyikan emisi mereka, dan pada saat yang sama mengklaim kredit atas penyimpanan karbon.

    TJANDRA | BURUNG INDONESIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?