Kecepatan Usain Bolt Belum Maksimal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Dallas - Usain Bolt memang manusia tercepat saat ini. Pelari cepat asal Jamaika itu adalah pemegang rekor dunia lari 100 meter dalam 9,58 detik. Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Physiology, pekan lalu, menunjukkan bahwa rekor Bolt belumlah maksimal.

    emecahan rekor dunia yang dicatat Bolt pada kejuaraan atletik dunia di Berlin, Jerman, pada Agustus 2009 itu memancing para ilmuwan untuk mengukur batas tertinggi kecepatan manusia berlari, termasuk sekelompok ilmuwan Amerika Serikat. Studi mereka memberikan bukti yang mengidentifikasi variabel penting yang menentukan batas biologis kecepatan berlari.

    Studi tersebut juga menyodorkan sudut pandang yang amat menggoda tentang bagaimana batas biologis itu dapat didorong sejauh mungkin melebihi 45 kilometer per jam (kecepatan lari Bolt ketika memecahkan rekor dunia) hingga 55 kilometer atau bahkan 65 kilometer per jam. Itu berarti separuh kecepatan cheetah, binatang tercepat di dunia, yang mampu berlari hingga 110 kilometer per jam.

    Laporan ilmiah berjudul "Batasan Biologis Kecepatan Berlari Ditentukan Sejak Awal" itu berisi hasil riset yang dilakukan Peter Weyand dari Southern Methodist University, Dallas, Texas, bersama Rosalind Sandell dan Danille Prime--keduanya alumni Rice University--serta Matthew Bundle dari University of Wyoming.

    "Pandangan umum bahwa kecepatan dibatasi oleh kekuatan dengan kaki mana yang menginjak permukaan lintasan lari adalah salah satu yang masuk akal," kata Weyand, pengajar fisiologi terapan dan biomekanika di universitasnya. "Jika seseorang menganggap bahwa pelari sprinter elite dapat mencapai puncak kekuatan 360 sampai 455 kilogram hanya dengan satu kaki setiap mengayunkan langkah untuk berlari, mudah untuk percaya bahwa para pelari mungkin saja bekerja mendekati batas kekuatan otot dan tungkai mereka."

    Namun, data baru yang diperoleh tim tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa bukan itu persoalannya. "Sekalipun kekuatan berlari bisa sebesar itu, kami menemukan bahwa kaki mampu menghasilkan kekuatan pijakan yang jauh lebih besar daripada yang terjadi selama proses berlari sekencang mungkin," kata Weyand.

    Berbeda dengan pandangan umum tentang batas kekuatan, Weyand dan timnya menemukan bahwa batas biologis itu ditentukan oleh waktu, misalnya periode waktu yang amat singkat untuk menggunakan kekuatan pijakan ketika berlari. Pada sprinter elite seperti Bolt, waktu kontak kaki dan tanah kurang dari sepersepuluh detik, dan puncak kekuatan pijakan terjadi dalam waktu kurang dari seperduapuluh detik ketika kontak kaki-tanah pertama terjadi.

    Para ilmuwan memanfaatkan sejumlah peralatan eksperimental untuk mencapai kesimpulan. Mereka menggunakan treadmill dengan kecepatan tinggi untuk menghasilkan kecepatan yang jauh lebih besar daripada 65 kilometer per jam agar dapat mengukur secara pasti berapa kekuatan yang disalurkan ke tanah setiap kali kaki melangkah.

    Mereka juga meminta beberapa sukarelawan berlari dalam kecepatan tinggi dalam berbagai gaya berlari. Untuk melengkapi tes lari kecepatan tinggi tradisional itu, para sukarelawan diminta melompat dengan satu kaki dan berlari mundur di atas treadmill secepat kemampuan mereka.

    Mereka juga menerapkan tes baru untuk menguji pandangan umum tentang faktor mekanik yang membatasi kecepatan lari manusia, khususnya gagasan bahwa batas kecepatan itu ditentukan oleh seberapa kuat kaki pelari menghantam tanah.

    ara ilmuwan itu menemukan bahwa kekuatan pijakan yang terjadi ketika orang melompat dengan satu kaki pada kecepatan tinggi melampaui kekuatan pijakan yang terjadi ketika orang berlari cepat hingga 30 persen atau lebih. Kekuatan yang dihasilkan oleh otot aktif dalam tungkai juga mencapai 1,5 hingga dua kali lipat dalam gaya melompat satu kaki.

    Kesimpulan batas waktu itu didukung pula oleh kesepakatan berapa kali kontak kaki-tanah minimum yang dipantau pada saat orang berlari maju dan mundur. Meski kecepatan puncak orang berlari mundur jauh lebih lambat, periode minimum kontak kaki-tanah pada kecepatan lari maju dan mundur pada dasarnya identik.

    Para ilmuwan mengatakan riset itu menunjukkan bahwa batas kecepatan berlari diatur oleh batas kecepatan kontraksi serat otot itu sendiri. Kecepatan kontraksi serat juga mengatur berapa cepat tungkai sang pelari dapat mengantarkan kekuatan pada permukaan lintasan lari. "Proyeksi sederhana kami mengindikasikan bahwa kecepatan kontraksi otot yang memungkinkan kekuatan maksimal atau nyaris maksimal akan mendorong kecepatan lari antara 55 hingga 65 kilometer per jam dan mungkin lebih cepat lagi," kata Matthew Bundle, pakar biomekanika yang terlibat dalam studi itu.

    TJANDRA DEWI | SCIENCEDAILY | SMU


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.