Yvo de Boer Bakal Jadi Konsultan KPMG

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Yvo de Boer akan menjadi konsultan tentang isu perubahan iklim di firma KPMG. Dia bakal menempati jabatan baru itu mulai 1 Juli 2010. “Saya umumkan sekarang agar pengganti saya dapat memiliki waktu lama mempersiapkan Konferensi Mexico,” kata de Boer beberapa hari lalu ketika mengumumkan pengunduran dirinya.

    Memang, Desember 2010, Mexico jadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim. Pada Konferensi di Kopenhagen, Desember tahun lalu, 120 kepala negara yang hadir gagal membuat kesepakatan mengikat untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Ketika itu terjadi ketidakpercayaan yang besar antara negara maju dan berkembang.

    Yvo de Boer kabarnya sangat kecewa dengan kegagalan itu. Namun dia tidak mengungkapkannya ke publik. Kantor berita AP mengutip orang-orang dekat de Boer yang melihatnya sedih dengan lambatnya negosiasi di Kopenhagen. “Dia lelah dan letih,” kata Jake Schmidt, kata ahli iklim di Natural Resources Defense Council yang berbasis di Amerika Serikat. Schmidt melihat de Boer jadi korban kegagalan perundingan.

    Pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007, de Boer meninggalkan meja persidangan sambil menangis. Kala itu delegasi Cina menuduh de Boer melakukan penyimpangan prosedural persidangan.

    Sejak empat tahun lalu, de Boer yang mantan pegawai negeri Belanda, menjabat Sekretaris Eksekutif UNFCCC. Sebelumnya dia terlibat dalam kebijakan lingkungan hidup di Uni Eropa Kementerian Lingkungan Hidup Belanda.

    Dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan. Namun de Boer membantah mundurnya dia karena kegagalan Konferensi Kopenhagen. Dia percaya perundingan mendatang bakal menelurkan hasil.

    UWD | AP | BBC


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.