Penghilang Rasa Sakit dari Racun Kalajengking?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dok: StockXpert

    Dok: StockXpert

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Peneliti di Unversitas Tel Aviv memperkirakan bisa kalajengking akan menjadi obat pembuang rasa sakit layaknya morfin. Prof. Michael Gurevitz dari Ilmu Tanamana Tel Universitas Aviv tengan menginvestigasi cara baru memproduksi obat penghilang rasa sakit alamiah dari kalajengking.

    Menurut Gurevitz, senyawa dalam racun ini telah lama hilang sejak jutaan tahun lalu melalui evolusi. Dan senyawa memperlihatkan komponen tertentu bisa menghilangkan efek samping pada tubuh.

    Racun peptide ditemukan pada bisa kalajengking yang berinteraksi dengan sodium pada sistem kegelisahan dan sistem otot – bagian dari sodium berkomunikasi dengan rasa sakit. Prof. Gurevitz mengatakan, "Tubuh mamalia memiliki sembilan jenis terusan sodium yang hanya subtipe tertentu mengirimkan rasa sakit ke otak. Kami berusaha memahami bagiaman racun dalam bisa berinteraksi dengan terusan sodium pada level melekuler dan bagaimana perbedaan racun ini dengan sub tipe lain. Jika kami menemukannya, kami mungkin akan bisa memodifikasi racun itu, membuatnya lebih berguna dan spesifik."

    Dalam penelitiannya, Prof. Gurevitz berkonsentrasi pada Kelajengkin Kuning di Israel, satu dari kelejengking berbahaya di dunia. Racunya memiliki lebih dari 300 peptisida yang hanya sebagian kecil telah diteliti.

    Dengan menemukan penghilang rasa sakit yang lebih efektif berarti bisa menyelesaikan salah satu masalah terbesar dalam dunia medis saat ini. Rasa sakit merupakan repon fisiologi berbahaya pad luka fisik maupun kesehatan yang menurun. Dokter biasanya menggunakan aspirin untuk mengurangi rasa sakit. "Jenis obat baru (dari racun kalajengking) ini akan sangat pada luka bakar dan luka luar,"  kata Prof. Gurevitz.

    Sciencedaily | PURW


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.