NASA Meluncurkan Satelit Cuaca GOES-P Untuk Mengantisipasi Tornado

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cape Canaveral - Beberapa pekan terakhir, Andre' Dress selalu memelototi satelit setinggi 4 meter. Geostationary Operational Environmental Satellite-P atau GOES-P, nama satelit itu, kini sudah mengambil ancang-ancang di Launch Complex 37, Cape Canaveral Air Force Station, Florida. "Banyak orang berharap satelit ini segera diluncurkan," kata Dress, yang menjadi deputi manajer proyek GOES-P, kemarin.

    GOES-P memang jadi benda angkasa yang amat berharga bagi ahli iklim dan ilmuwan lain. Maklum, satelit ini bertugas memantau cuaca, membantu operasi angkasa, dan meneliti matahari. Tak hanya itu, satelit juga akan memasok data bagi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Satelit yang rencananya diluncurkan pada 4 Maret waktu Florida itu akan mengganti satelit cuaca Amerika Serikat yang mendekati uzur.

    Kemarin, Dress melakukan hitungan mundur bagi satelit yang sering disebut sebagai mata langit ini di Cape Canaveral. National Aeronautics and Space Administration (NASA) terus menyiapkan peluncuran proyek berbiaya US$ 499 juta ini. Jika berhasil, "GOES menjadi dasar NOAA dalam memantau dan melaporkan kondisi udara yang menimbulkan bencana, tornado, banjir, dan bencana lainnya," kata Steve Kirkner, Program Manager GOES Goddard Space Flight Center, NASA, di Maryland.

    Seperti dua seri sebelumnya, GOES-P akan diluncurkan menggunakan roket Delta IV. Peluncuran dilakukan United Launch Alliance for Boeing Launch Services di bawah izin FAA dan dipandu NASA Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Md. Dari lokasi orbitnya di atas bumi, satelit akan memasok data cuaca, merekam dan memberi peringatan dini, serta peringatan cuaca buruk. GOES-P juga mendeteksi suhu lautan dan tanah, memantau cuaca angkasa, me-relay komunikasi, dan mendukung proses search-and-rescue.

    Ahli meteorologi bisa membuat prakiraan cuaca berdasarkan gambar yang dibuat alat Imager. Alat ini memindai wilayah bumi tertentu menggunakan instrumen multichannel, yang bergerak sesuai dengan jalur timur ke barat dan barat ke timur dengan pemindai cermin sumbu utara ke selatan.

    Peranti ini bisa membuat gambar permukaan bumi, gambar koordinat garis bumi, dan berbagai ukuran gambar wilayah bumi dengan sistem pemindai fleksibel. Pemindai wilayah tertentu memonitor fenomena lokal dan determinasi angin yang akurat. Hasil pemindaian berupa mendung, suhu permukaan, uap air, angin, api, dan asap.

    Perincian data dan analisis matematis dari gambar mendung muncul dari channel radiometer. Sounder terdiri atas 19 channel berdasarkan panjang gelombang yang bisa terpantau penyaring spectral. Channel pertama bisa memindai pada panjang gelombang 15 mikron. Roda putar memungkinkan sistem pemindai fleksibel. Penyaring spectral mengirim data ke rangkaian detektor, yang kemudian membentuk gambar deteksi inframerah.

    Ketika cuaca buruk, sensor bahaya bisa terlacak oleh tiga alat dalam Space Environment Monitor (SEM). Ketiga kelompok alat itu adalah paket sensor energi partikel atau energetic particle sensor (EPS), dua sensor magnetometer, dan satu sensor pancaran sinar-X (XRS). Beroperasi sepanjang waktu, SEM menyediakan data real-time ke Space Weather Prediction Center di Boulder, Colorado.

    EPS secara akurat menyediakan data jumlah partikel melalui jangkauan energi luar, termasuk proton, elektron, dan partikel Alfa serta dasar dari peringatan operasional dan peringatan kondisi bahaya.

    Sensor magnetometer dapat beroperasi sendiri dan terus-menerus bergerak mengikuti arah dan pergerakan medan geomagnetik bumi. Satu dari dua sensor berfungsi sebagai pendeteksi variasi medan magnet dekat pesawat udara, penyedia laporan peringatan akibat guncangan angin, atau gerakan mendadak yang mengguncang magnetisfer, dan aktivitas geomagnetik level terkecil. Sensor magnetometer kedua, yang memiliki kalibrasi data lebih baik, menjadi cadangan apabila sensor pertama gagal.

    XRS merupakan teleskop sinar-X yang mengamati dan mengukur pancaran emisi sinar-X dalam dua jangkauan, yakni 0,05-0,3 nanometer dan 0,1-0,8 nanometer. Alat ini mengukur intensitas dan durasi pancaran cahaya secara terus-menerus dan menyiapkan peringatan sebagai respons potensi kejadian geofisika, seperti perubahan kondisi ionosfer, yang dapat mengganggu komunikasi radio dan sinyal global positioning system (GPS).

    Dengan data yang dikirimkan satelit, pusat pantauan cuaca di bumi bisa menerima, memonitor, dan menginterpretasikan berbagai jenis data terestrial cahaya dan laporan masalah, sinyal bahaya, peringatan, serta memantau kejadian spesial, seperti badai geomagnetik dan pembakaran matahari. Data gambar dan teks dikirim menggunakan jaringan cepat informasi cuaca Emergency Managers Weather Information Network. Data dikirimkan melalui sistem transmisi melalui Low Rate Information Transmission atau sistem Weather Facsimile.

    Teleskop lima channel EUV merupakan peranti baru dalam GOES-NO/P/Q. Ini mengukur energi cahaya ultraviolet dalam kondisi lima panjang gelombang dari 10 sampai 126 nanometer. Sensor EUV memantau pancaran langsung energi matahari yang memancar di atas atmosfer dan membentuk ionosfer.

    Tak hanya cuaca di bumi, satelit ini juga memantau pancaran sinar-X dari matahari. Alat Solar X-Ray Imager (SXI) terus-menerus memonitor kondisi dan aktivitas sinar matahari. Setiap menit SXI memasok gambar permukaan matahari dari pengumpulan data pancaran sinar-X, yang diterima peranti penangkap. Ini akan menyuplai informasi ramalan dan kondisi bahaya yang bisa mengancam aktivitas udara dan darat.

     NASA | PHYSORG | PURWANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.