Rahasia di Balik Terjemahan Google Yang Akurat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • static.flickr.com

    static.flickr.com

    TEMPO Interaktif, Jakarta -  Dalam sebuah pertemuan di kantor pusat Google, diskusi tiba-tiba heboh. Gara-garanya ada sebuah surat elektronik (surel) dari Korea Selatan. Sergey Brin, pendiri Google segera "melarikan" pesan tersebut ke mesin barunya, yakni mesin penerjemah

    Hasilnya, bikin Sergey berkerut. Isi surat itu begini. "Potongan ikan mentah sepatu berharap. Google adalah bawang hijau!"

    Brin pun langsung berseru: mesin Google harus lebih baik.

    Enam tahun setelah kejadian itu, Brin meluncurkan layanan penerjemahan gratis, Google Translate yang bisa menerjemahkan ke dalam 52 bahasa. Dan dalam beberapa pekan sudah ratusan juta orang yang menggunakan layanan itu.

    "Apa yang anda lihat, penerjemahan  pada Google Translate adalah seni," kata Alon Lavie, associate professor di Language Technologies Institute di Carnegie Mellon University seperti dikutip New York Times.

    Ada banyak inovasi Google di internet. Mereka telah membuat proyek pencarian buku. Tapi, proyek itu kini terkatung-katung menunggu keputusan pengadilan soal hak paten. Google juga sudah membikin situs jejaring sosial, Buzz, tapi itu membuat sebagian pengguna khawatir privasi mereka terganggu.

    Untuk soal penerjemahan Google telah melompat jauh. Google punya mesin-mesin canggih dan dalam jumlah yang banyak. Membuat mereka jauh melewati rival-rival mereka. Sebagai contoh, Google sedang menjajal proyek penerjemahan dengan analisi gambar. Ini dilakukan di Jerman. Jadi, orang bisa memotret tulisan bahasa Jerman dengan ponselnya, lalu sekali pencet tombol keluarlah terjemahan dalam bahasa Inggris.

    "Mesin penerjeemah itu adalah salah satu contoh yang menunjukkan betapa jauhnya visi Google," kata Tim O'Reilly pendiri dan bos penerbit O'reilly Media. "Google memahami apa yang orang lain tak bisa pahami," katanya.

    Bagi insinyur-insinyur Google membuat mesin penerjemah adalah tantangan besar. Mereka harus memahami artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Mereka mulai "mengajari" komputer untuk berbahasa sehingga komputer bisa belajar dan menebak terjemahan yang lebih akurat dengan mempelajari jutaan data.

    "Infrastruktur kami sangat mendukung soal ini," kata Vic Gundotra, vice president engineering Google.

    BS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?