Karbon Kredit dari Sampah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempat pembuangan akhir Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. TEMPO/Hamluddin

    Tempat pembuangan akhir Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. TEMPO/Hamluddin

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu selama ini tenggelam oleh nama besar Bantar Gebang. Padahal kedua lokasi penimbunan sampah ini berdampingan di Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi. Luas TPA Sumur Bantu memang lebih kecil, hanya 10 hektare, dan diperuntukkan bagi sampah warga Bekasi. Namun di lokasi ini lebih dulu terdapat unit pembangkit listrik tenaga sampah.

    Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Kota Bekasi Dudy Setiabudhi mengklaim mesin pembangkitnya telah memproduksi listrik 120 kilovolt ampere (kVa). "Listriknya untuk memenuhi kebutuhan internal, belum cukup disalurkan ke masyarakat," kata dia kepada Tempo, Rabu pekan lalu. Belum lama ini mereka memasang mesin pembangkit baru di zona III dengan kapasitas produksi 500 kVa. Total target produksi listrik di TPA Sumur Batu sebesar 620 kVa.

    Menurut Dudy, karbon kredit yang dihasilkan dari pembakaran gas metan sampah di Sumur Batu dibeli Belanda. Satu ton gas metan yang dibakar dihargai 10 euro. Selama periode Juli 2008-Februari 2009, jumlah gas metan terbakar mencapai 4.000 ton. Hasil penjualan karbon kredit dibagi tiga. Pertama sebesar 83 persen untuk PT Gikoko Kogyo Indonesia selaku pelaksana teknis proyek listrik, Pemerintah Kota Bekasi 10 persen, dan masyarakat di sekitar TPA Sumur Batu 7 persen, yang diberikan lewat program Community Development.

    Kepala Divisi Carbon Trading Dewan Nasional Perubahan Iklim Dicky Edwin Hindarto menjelaskan, pembangkit listrik tenaga sampah di Bali sudah terdaftar di Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih. Proyek serupa di Pontianak telah masuk, namun belum terdaftar. "Jika suatu proyek mendapat Certified Emission Reduction (CER), tinggal dilelang untuk memperoleh dana dari investor," kata dia.

    Potensi sampah di Indonesia untuk dijadikan pembangkit listrik sangat besar. Berdasarkan data Bank Dunia, kota-kota besar di Tanah Air menghasilkan 10 juta ton sampah tiap tahunnya. Dari jumlah itu, dihasilkan 400 juta meter kubik gas metana dan 3.389.000 ton meter gas karbon dioksida per tahun. Masalahnya, kata Dicky, sejak di sumbernya, sampah tidak dipilah. Warga hanya mengenal sampah basah dan kering. Padahal di Jerman, sampah dipilah berdasarkan enam kategori. Pemilahan ini mempermudah pengolahan sampah untuk daur ulang dan bahan pembangkit listrik.

    l HAMLUDDIN | UNTUNG WIDYANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.