Perdagangan Kalahkan Konservasi Dalam Konferensi CITES

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Doha - Kepentingan perdagangan telah memukul mundur upaya konservasi dalam konferensi satwa dan fauna liar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Doha, Qatar. Proposal yang diajukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap beruang kutub, tuna sirip biru, terumbu karang, dan hiu tak ada yang memperoleh dukungan mayoritas.

    Masalah ekonomi jangka pendek menjadi pengganjal upaya untuk membatasi perdagangan sejumlah spesies laut langka dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), yang dihadiri 175 negara peserta. "Begitu uang terlibat, huruf 's' dari sains langsung dicoret dengan dua garis vertikal," kata Sekretaris Jenderal CITES Willem Wijnstekers. Apa yang dimaksud oleh Wijnstekers adalah kata itu berubah menjadi "$cience" dengan tanda dolar.

    Wijnstekers amat prihatin atas kegagalan CITES dalam melindungi berbagai spesies langka itu. "Ada kepentingan ekonomi yang amat besar dalam penangkapan dan perdagangan spesies itu dan laporan CITES ini benar-benar merupakan gangguan bagi mereka."

    Resistensi dari negara-negara Asia, terutama Jepang, terhadap usulan untuk melarang perdagangan tuna sirip biru Atlantik menerima perhatian terbesar. CITES mengungkap, ikan yang biasa disajikan sebagai sushi itu populasinya di alam terus merosot hingga lebih dari 80 persen sejak 1970.

    Jepang mengimpor sekitar 80 persen hasil tangkapan ikan laut dalam itu, sebagian besar berasal dari negara-negara Uni Eropa. Sebagian besar delegasi dari 175 negara perserta menolak proposal larangan itu setelah Tokyo beralasan penegakan peraturan penangkapan yang lemah adalah masalah utamanya.

    "Itu adalah konferensi yang sulit dari sudut konservasi, mungkin karena lingkungan perekonomian," kata Tom Strickland, pejabat Kementerian Dalam Negeri Amerika Serikat yang mengurusi satwa liar, taman nasional, dan perikanan.

    Setelah penolakan terhadap peningkatan perlindungan terhadap sejumlah spesies laut, konferensi yang berlangsung setiap dua tahun itu juga ditutup oleh kegagalan untuk peningkatan pembatasan perdagangan hiu porbeagle, yang populasinya merosot tajam akibat penangkapan berlebihan di Atlantik dan Mediterania.

    Usulan untuk meningkatkan larangan perdagangan tujuh jenis hiu lainnya, termasuk hiu kepala martil yang digunakan sebagai bahan sup sirip hiu di Asia, telah terlebih dulu gagal dalam perundingan itu. "Sangat memalukan bahwa banyak negara CITES yang mengabaikan sains demi kepentingan politik," kata Carlos Drews, Kepala Program Spesies WWF.

    "Kita tak dapat terus-menerus mengosongkan samudra tanpa konsekuensi," kata Susan Lieberman, Direktur Kebijakan Internasional Pew Environment Group.

    Di tengah kekecewaan yang dihadapi para aktivis konservasi, ada sejumlah proposal yang memperoleh keberhasilan. Permintaan Zambia dan Tanzania untuk mengendurkan larangan perdagangan gading gajah ditolak. Kenya juga memperoleh kemenangan setelah proposalnya untuk memerangi peningkatan perburuan ilegal badak dan menempatkan binatang itu dalam daftar perlindungan disetujui.

    Di sejumlah negara, seperti India, Afrika Selatan, Nepal, dan Zimbabwe, badak dibantai oleh kelompok kriminal terorganisasi yang mengendalikan penyelundupan cula badak ke Asia timur. CITES menyatakan cula badak itu dijual dengan harga ribuan dolar di pasar gelap.

    TJANDRA | REUTERS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?