Menunggu Keajaiban Lain Semar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil hemat energi yang dinamai Semar saat dilaunching di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. TEMPO/Arif Wibowo

    Mobil hemat energi yang dinamai Semar saat dilaunching di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. TEMPO/Arif Wibowo

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Tim Semar Universitas Gadjah Mada (UGM) akan bertarung dalam kategori kendaraan futuristik dalam lomba adu irit Shell Eco-maraton Asia di Sepang, Malaysia, pada Juli mendatang. Mereka sudah membuat mobil Semar, kendaraan roda tiga dengan target efisiensi bahan bakar 1 liter berbanding 1.100 kilometer, yang pekan lalu telah diuji coba.

    "Semar memang dirancang pas dengan bentuk badan pengemudi untuk mengejar target kendaraan paling ringan," kata Teofilus Hartono, Ketua Tim Kelompok Semar UGM, yang merancang mobil Semar. Karena itu, bobot pengemudinya tak boleh lebih dari 50 kilogram.

    Seperti halnya mobil buatan Tim Rajawali Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, mobil jenis ini masih merupakan mobil "ajaib" dari sisi desain. Walaupun dalam kompetisi mobil ini, di Eropa serta Amerika, bentuk dan desain seperti itu sudah biasa.

    Dalam kategori desain futuristik, kendaraan roda tiga--satu roda belakang dan dua roda depan--merupakan pilihan yang umum. Di tingkat Asia, rekor kategori ini 1.400 kilometer, dan di tingkat Eropa, mobil Microjoule dari St Joseph La Joliverie bisa melaju mencapai sekitar 3.771 kilometer per liter. "Mereka menyatukan rangka dan bodi monocoque carbon fiber," kata Teofilus. Mereka menggunakan gasoline direct injection.

    Guna mendekati rekor pesaingnya, Semar didesain dengan bahan seringan dan sekecil mungkin. Bahkan beban pengendara pun dicari yang paling efisien. Maka Marta Juliana Sibarani, 22 tahun, dipilih sebagai pengemudi karena berat badannya hanya 48 kilogram. Faktor berat jelas akan mempengaruhi pembakaran, dan juga gesekan pada bagian roda.

    Bodi kendaraan menggunakan fiber komposit dengan konsep airfoil. Fiber di depan pengendara akan membuka pandangannya ke jalan. Hasilnya, Semar memiliki berat 25 kilogram dengan ukuran 2,7 meter, tinggi 0,8 meter, dan lebar 0,88 meter.

    Penggerak awal adalah mesin empat tak bersilinder tunggal berkapasitas 25 cc dengan sistem injeksi yang bisa diprogram. Sistem ini bisa mengoptimalkan bahan bakar yang masuk ruang pembakaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan riil. "Konsep ini pun bisa menjadikan kendaraan ramah lingkungan," kata Suhanan, Ketua Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

    Dalam uji coba dua pekan lalu, mobil desain anak UGM ini belum maksimal. Kendaraan mereka baru bisa menempuh jarak 400 kilometer per liter. Ke-15 anggota tim memiliki waktu dua bulan untuk menggenapi target 1.100 kilometer. Caranya, mereka akan menurunkan kapasitas mesin menjadi 20 cc.

    Secara teori, Jayan Sentanuhady, Ketua Tim Pembimbing Tim Semar, mengatakan mesin Semar bisa mencapai lebih dari 600 meter apabila menggunakan mesin 35 cc. Dengan kapasitas 20 cc, mesin mampu menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer. Tim ini memiliki kesempatan selama dua bulan untuk menyulap mesin itu dari 25 cc menjadi 20 cc.

    Direktur Teknis Universitas Gadjah Mada Mitra Wisnu Hargono mengatakan Semar bisa hemat energi karena tiga alasan, yakni teknologi mesin (Smart E-Mode), aerodinamis, serta material yang ringan dan kuat. Mobil Semar dibuat seaerodinamis mungkin agar hambatan terhadap angin rendah. Angin bisa menghambat laju kendaraan. Ini berarti bisa memperberat laju dan menambah kebutuhan bahan bakar saat pembakaran.

    Dosen pembimbing menyarankan bentuk dasar mobil mirip tetesan air sebagai bentuk paling aerodinamis. Dari bentuk inilah mereka menamakan mobil ini Semar, diambil dari nama tokoh pewayangan yang melambangkan kesederhanaan dan kearifan. "Nama Semar juga berwatak luhur, unik, mudah diingat, dan mencerminkan kebudayaan bangsa serta kearifan lokal," kata Teofilus.

    Mereka melengkapi bodi Semar dengan perforated suction atau lubang-lubang kecil pada punggung mobil. "Ini menambah keaerodinamisan mobil saat melaju," kata Wisnu. Meski belum memenuhi target, Tim Semar mengaku lebih unggul dibanding prototipe "Sapu Jagat" buatan mahasiswa ITS. Sapu Jagat dianggap memiliki kelemahan karena menggunakan mesin 35 cc.

    SEMAR menggunakan mesin pemotong rumput 4 tak bersilinder tunggal 25 cc
    Modifikasi:

    1. Menaikkan rasio kompresi dari kondisi standar 8,0 : 1 menjadi 12,0 : 1, sehingga diharapkan efisiensi termal mesin meningkat karena nilai oktan bahan bakar relatif tinggi (95).
    2. Penggantian sistem pemasukan bahan bakar dari karburator konvensional menjadi sistem injeksi elektronik (electronic fuel injection).
    3. Tim Semar menambahkan Smart E-Mode, sistem pengaturan jumlah bahan bakar yang masuk sesuai dengan beban mesin. Parameternya diukur dari sensor-sensor pada mesin dan mobil SEMAR guna mengefisienkan bahan bakar.
    4. Bentuk saluran masuk (in) dan pembuangan (exhaust) mesin disempurnakan, sehingga percampuran udara dan bahan bakar dalam mesin lebih optimal, serta aliran gas buang lebih lancar.

    PURWANTO | BERNADA RURIT


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?