Kulit Bisa Jadi Pengganti Touchpad

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • .

    .

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Kombinasi sensor bio-akustik sederhana dan sejumlah mesin belajar canggih memungkinkan orang menggunakan telapak tangan atau bahkan setiap bagian tubuh sebagai pengendali touchpads ponsel cerdas atau piranti mobile lain.

     

     

    Chris Harrison PhD, mahasiswa jurusan Interaksi Manusia-Komputer Carnegie Mellon University, mengembangkan teknologi yang disebut Skinput. Ia meneliti bersama rekannya Desney Tan dan Dan Morris di Microsoft Research.

     

     

    Harrison akan menjelaskan teknologi dalam tulisan pada 12 April, di CHI 2010, konferensi tahunan Association for Computing Machinery on Human Factors in Computing Systems di Atlanta.

     

     

    Skinput, seperti tertuang dalam situs pribadi Harrison, bisa membantu menjadikan kekuatan komputasi pada perangkat yang mudah dipakai atau dibawa. Ukuran kecil ponsel pintar, MP3 player dan perangkat portabel lain selama ini sangat tebatasi ukuran dan utilitasnya oleh keypad, sentuh atau mouse.

     

     

    "Dengan Skinput, kami bisa menggunakan kulit kita sendiri - organ tubuh terbesar - sebagai perangkat input," kata Harrison. "Ini seperti berpikir gila, kami memanggil langsung melalui tubuh, tapi ternyata masuk akal. Kulit selalu bersama kita, dan menjadikannya sebagai sentuhan interaktif akhir."

     

     

    Horrison kini sedang magang di Microsoft Research dalam membuat prototipe pada musim panas lalu. Ia memasang sensor akustik pada lengan atas. Sensor ini menangkap suara yang dihasilkan oleh tindakan seperti menjentikkan jari atau menekan bersama-sama, atau menekan lengan. Bunyi ini tak dikirim melalui udara, tetapi oleh gelombang jaringan kulit dan tulang atau tekanan.

     

     

    Harrison dan koleganya menemukan setiap ketukan ujung jari ke salah satu dari lima lokasi di lengan, atau tekan satu dari 10 lokasi di lengan menghasilkan tanda akustik unik yang diidentifikasi program mesin yang bisa belajar. Program komputer ini mampu menentukan tanda tangan dari setiap jenis tekan dengan menganalisis 186 fitur dari sinyal akustik, termasuk frekuensi dan amplitudo.

     

     

    Dalam uji coba yang melibatkan 20 subyek, sistem mampu mengklasifikasikan input dengan akurasi 88 persen secara keseluruhan. Akurasi tergantung kedekatan sensor dan input; keran lengan bawah bisa diidentifikasi dengan akurasi 96 persen. Ini terjadi bila sensor terpasang di bawah siku. Akurasi menjadi 88 persen ketika sensor berada di atas siku. Di telapak tangan diidentifikasikan dengan akurasi 97 persen.

     

     

    "Tiada yang super canggih tentang sensor itu sendiri," kata Harrison. " Seperti mouse komputer - perangkat mekanik sendiri tidak revolusioner, tetapi digunakan dengan cara revolusioner."

     

    Prototipe meliputi ban pengatur sensor dan sebuah proyektor kecil di atas tombol berwarna ke lengan si pemakai. Proyektor bisa digunakan untuk menavigasi menu perintah. Tombol diproyeksikan ke telapak tangan.

    Perangkat sederhana, seperti MP3 player, bisa dikendalikan hanya dengan menyentuhkan ujung jari ke telapak tangan.

    Akurasi dari alat ini bisa berubah sesuai besar lengan atas, pengatur sensor, usia dan jenis kelamin. Jenis kegiatan juga mempengaruhi sinyal.

    Hasil karya Harrison ini mendapat pujian dari penasehatnya di HCII, Professor Scott Hudson. "Chris adalah bintang baru," kata Hudson.  

    SCIENCEDAILY | PURW


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.