Google: Kurangnya Dukungan Soal Sensor Cina Tak Mengejutkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Google di depan kantor pusat Google Cina di Beijing, Senin,(25/01). Pemerintah Cina membantah keterlibatan dalam serangan Internet setelah AS mendesak untuk menyelidiki keluhan tersebut. AP Photo/Alexander F. Yuan

    Logo Google di depan kantor pusat Google Cina di Beijing, Senin,(25/01). Pemerintah Cina membantah keterlibatan dalam serangan Internet setelah AS mendesak untuk menyelidiki keluhan tersebut. AP Photo/Alexander F. Yuan

    TEMPO Interaktif, Washington - Google Inc tidak terkejut dengan kurangnya dukungan publik di Silicon Valley menghadapi sensor dan pembajakan Cina. Presiden Direktur eksekutif perusahaan Eric Schmidt mengungkapkan masalah ini. "Ini telah berjalan sesuai yang kita harapkan," kata Schmidt pada pertemuan dengan para pemimpin redaksi media di Amerika.

    "Google adalah perusahaan yang tidak biasa," kata Schmidt, yang menambahkan bahwa perusahaan teknologi di Silicon Valley lain, mungkin memiliki berbagai pendapat tentang keputusan Google untuk membuat laporan publik mengenai serangan hacking, dan memilih untuk mengakhiri pelayanannya di Cina.

    "Kami mampu membuat keputusan berdasarkan prinsip," katanya menambahkan, meski ia tidak yakin hasil akhirnya nanti seperti apa. "Ini adalah pertempuran," katanya. "Kita tahu bahwa ada satu kelompok yang cukup besar di Cina mencari informasi yang tidak disensor."

    Google mengatakan pada tanggal 22 Maret telah menarik layanan pencari bahasa Cina dari Cina, juga mengutip serangan hacking akhir tahun 2009 yang dikatakan berasal dari Cina.

    Google mengakhiri sensor atas hasil pencarian Cina bulan lalu. Pencarian pertanyaan dari Cina daratan dikirim ke server di Hong Kong, dan Google mengaku, sesekali masih disensor oleh Beijing.

    Google mengatakan tetap berniat untuk mempertahankan operasi bisnis di Cina, termasuk penelitian dan pengembangan staf dan tim penjualan. Google adalah nomor satu di dunia dalam penyedia pencarian di internet, namun raksasa dunia maya ini menempati nomor dua di Cina di belakang layanan pencarian lokal di Cina, yakni Baidu Inc.

    AP| NUR HARYANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?