Mesin Waktu Proses Evolusi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Johannesburg - Pagi itu Matthew Berger berlari mengejar anjingnya, Tau, ke dalam rerumputan tinggi di padang rumput sebelah utara Johannesburg, Afrika Selatan. Bocah 9 tahun itu terantuk sebatang kayu dan jatuh terjerembap ke dalam sebuah situs arkeologi. Apa yang ditemukannya dalam situs itu ternyata tulang hominid spesies baru yang hidup hampir dua juta tahun lampau sekitar periode munculnya keluarga manusia yang hingga kini masih misterius.

    "Ayah, Saya menemukan sebuah fosil!" teriak Matthew memanggil ayahnya, Lee R. Berger, seorang ahli paleoanthropologi Amerika, yang mencari fosil hominid di bukit lain yang bersebelahan dengan situs temuan anaknya itu selama hampir dua dasawarsa. Para pemburu fosil lainnya juga telah menyisir padang rumput itu sejak 1930-an.

    Matthew menggenggam fosil tulang, yang belakangan diketahui adalah sisa jenazah anak lelaki setinggi 1,3 meter dan diperkirakan berumur hanya beberapa tahun lebih tua daripada Matthew. Dr Berger, bersama Institut Evolusi Manusia di University of the Witwatersrand di Johannesburg, dan rekannya sesama peneliti menemukan lebih banyak sisa kerangka anak itu, termasuk tengkoraknya yang terawetkan dengan baik. Selain kerangka bocah itu, Dr Berger menemukan tiga kerangka lain.

    Dalam laporan yang dipublikasikan akhir pekan lalu dalam jurnal Science, Dr Berger, 44 tahun, dan satu tim ilmuwan mengatakan fosil bocah lelaki dan perempuan dewasa itu adalah perpaduan yang istimewa dan mengejutkan antara anatomi yang lebih maju dan primitif. Karakteristik itulah yang membuat Dr Berger dan timnya mengkualifikasikannya sebagai hominid spesies baru, nenek moyang dan kerabat dekat manusia. Fosil itu diberi nama Australopithecus sediba.

    Spesies sediba, yang berarti air mancur atau mata air dalam bahasa Sotho, melangkah tegak di atas kaki yang panjang, dengan pinggul dan pelvis berbentuk seperti milik manusia, tapi masih memanjat pohon dengan tangan seperti milik kera. Hominid itu mempunyai gigi kecil dan wajah Homo yang lebih modern, genus yang meliputi manusia modern. Namun Dr Berger menyatakan kaki fosil itu relatif primitif dan berotak kecil seperti hominid yang berada dalam genus Australopithecus.

    Pakar geologis memperkirakan manusia purba itu hidup 1,78 juta hingga 1,95 juta tahun lampau, ada kemungkinan lebih mendekati 1,95 juta tahun, ketika Australopithecines dan spesies Homo awal hidup pada periode waktu yang sama.

    Tim Dr Berger mengatakan bahwa spesies baru ini ada kemungkinan turunan dari Australopithecus africanus. Dia mendeskripsikan spesies itu berpeluang sebagai nenek moyang Homo erectus, pendahulu Homo sapiens, atau "cabang" yang tidak berkembang menjadi manusia modern.

    Para ilmuwan lain memperdebatkan temuan itu, apakah tulang belulang itu milik genus Homo atau Australopithecus, tapi sebagian besar setuju bahwa penemuan kerangka di situs Malapa itu adalah kemajuan besar dalam sejarah fosil hominid awal. Kerangka itu ditemukan di situs Warisan Dunia Cradle of Humankind, tempat gua-gua gamping dolomit yang berisi fosil binatang dan hominid purba. "Fosil itu merupakan mozaik fitur yang mengagumkan," kata Rick Potts, Direktur Human Origins Program di Smithsonian. "Itu mengingatkan kita pada kombinasi dan rekombinasi beragam karakteristik serta pengkajian dan eksperimentasi, yang berlangsung dalam evolusi."

    Dr Berger mengatakan penemuan fosil yang menggemparkan itu berawal pada masa liburan Natal 2007 ketika dia mulai menggunakan Google Earth untuk memetakan gua-gua di Cradle of Humankind, yang dianggap sebagai situs asal-usul manusia pertama. Dia merotasikan citra-citra lanskap bukit pasir pada Google Earth di komputernya, memperlihatkan bagaimana dia mengenali bayangan dan distorsi bumi yang menunjukkan lokasi gua-gua, yang kerap tak terlihat karena tertutup oleh pepohonan zaitun liar dan white stinkwood (Celtis africana).

    Pada 15 Agustus 2008, ketika Matthew memanggil ayahnya untuk memeriksa tulang yang ditemukannya, Dr Berger mendatangi anaknya sambil bersungut-sungut karena mengira anaknya menemukan fosil tulang antelop purba. Mathhew sempat menduga ayahnya marah. Namun, dari jarak 5 meter, Dr Berger, yang meraih gelar Ph.D. Dengan tesis mengenai tulang bahu hominid, termasuk tulang selangka, tertegun melihat anaknya memegang tulang selangka hominid.

    "Saya tak mempercayainya," kata Dr Berger. "Saya mengambil fosil itu dan membolak-baliknya," ujar dia. "Di belakang batu itu menempel tulang rahang dengan sebuah gigi, gigi taring, menonjol keluar. Saya hampir mati terkejut."

    Pada Maret 2009, dia kembali menemukan tulang tengkorak utuh dari bocah sediba yang tulang selangkanya dipungut Matthew. Donald C. Johanson, ilmuwan yang menemukan kerangka Lucy, yang berusia 3,2 juta tahun di Ethiopia pada 1973, menggambarkan tengkorak tersebut sebagai spesimen yang luar biasa.

    Para ilmuwan juga menemukan tumpukan fosil binatang di tempat itu, mulai dari kucing saber-toothed, mongoose, anjing liar, antelop, dan hyena. Dr Berger dan Paul Dirks, seorang ahli geologi dari James Cook University di Queensland, Australia, berhipotesis bahwa binatang-binatang tersebut tertarik memasuki gua yang dalam itu karena bau air ketika wilayahnya dilanda kekeringan, kemudian terjatuh ke lubang tersebut dan mati.

    Hipotesis itu didasarkan pada adanya bukti berupa belatung dan kumbang pemakan bangkai, tapi tak ada bekas karnivora yang melahap bangkai membusuk itu sehingga para ilmuwan menyimpulkan binatang karnivora yang ditemukan dalam gua itu juga mati karena terjatuh. Aliran air hujan mungkin telah menyapu bangkai-bangkai itu ke dalam sebuah kolam air yang kaya pasir dan endapan (unsur penyusun semen) yang akhirnya menahan bangkai itu di dasar gua. Dr Berger menyebut fosil sediba itu seperti mesin waktu menuju proses evolusi.

    Berlandaskan pada temuan itu, para ilmuwan kini berpikir bahwa percabangan antara garis keturunan kera dan hominid terjadi sekitar 7 juta tahun lalu di Afrika. Catatan fosil menunjukkan bahwa spesies hominid awal telah berjalan tegak tapi relatif masih mirip kera. Hominid dari jenis australopithecines, dengan tubuh dan otak tak lebih besar daripada simpanse modern, tersebar luas mulai 3,8 juta hingga 3 juta tahun lampau, salah satu yang paling terkebal adalah Australopithecus afarensis seperti Lucy.

    l TJANDRA DEWI | NYTIMES | REUTERS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?