Darimana Meteor Lyrid Berasal?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bandung - Peristiwa meteor Lyrid atau bintang jatuh ini sebenarnya pernah terjadi tahun 1982. Saat itu tercatat ada 90 meteor per jam dan bahkan pernah mencapai 180-300 per menit. Femonena juga juga pernah terjadi tahun 1922.

    Hujan meteor itu berasal dari lapisan es komet yang mencair ketika orbitnya dekat dengan matahari. Partikel debu, es, dan batu yang terlepas itu terbakar di atmosfir sebelum jatuh ke bumi.

    Malam ini ada pukul 00.00 Anda akan bisa melihat fenomena meteor Lyrid atau bintang jatuh. Tak perlu ke Observatorium Bosscha atau memakai teropong khusus. Fenomena bintang jatuh bisa dilihat dengan mata telanjang dari atap rumah. “Syaratnya hanya bisa disaksikan kalau langit cerah” kata Evan Irawan Akbar, Astronom Observatorium Bosccha, Lembang, Bandung kepada Tempo, Kamis (15/4).

    Hujan meteor ini akan terjadi selama 10 hari, dari malam ini hingga 26 April mendatang. Fenomena akan terlihat jelas oleh penduduk bumi di belahan utara. Masa puncak hujan meteor, akan terjadi 21–22 April, saat itu, diperkirakan ada 10-20 meteor yang muncul setiap jam. “Pengamatan terbaik adalah setelah bulan terbenam di bawah horizon atau lepas tengah malam dengan mencari arah utara. Carilah segitiga musim panas” ujar Evan.

    ANWAR SISWADI
     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.