Jalan Panjang Biodiesel dari Ganggang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • greendiary

    greendiary

    TEMPO Interaktif,Ohio – Ganggang atau Alga sudah dilirik sebagai bahan bakar diesel sejak lama. Namun, mahalnya biaya pengolahan masih menjadi kendala.

     

    Setidaknya sudah ada 75 pengembang global sedang mempelajari ganggang, yang memiliki potensi untuk menghasilkan energi lebih banyak per hektare dibandingkan tanaman lain yang digunakan untuk membuat bahan bakar.

    Teknologi ini telah menarik Departemen Pertambangan dan Energi Amerika Serikat, termasuk ExxonMobil, yang berencana menghabiskan sebanyak US$ 600 juta untuk penelitian selama lima tahun.

    Jepang meninggalkan proyek ini setelah menelan biaya US$ 132 juta di tahun 1990-an, ketika harga minyak turun dibawah US$ 10 per barel. Sekarang perusahaan termasuk Toyota Motor dan Idemitsu Kosan mulai bergabung dalam studi mikroorganisme yang dapat mengubah air limbah menjadi minyak, karbon dioksida dari udara dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

    Mikroalga diketahui menggunakan sinar matahari, air dan karbon dioksida untuk menghasilkan oksigen dan biofuel melalui fotosintesis. Tanaman, yang tampak tumbuh di permukaan air, dapat dibudidayakan pada lahan marjinal di kolam terbuka atau di mesin-mesin khusus yang disebut inkubasi photobioreactors, yang menggunakan emisi karbon dioksida dari industri makanan.

    Ganggang lebih produktif daripada tanaman lain karena mereka terus membuat bahan bakar terlepas dari cuacanya. Semua kebutuhan bahan bakar transportasi Amerika Serikat secara teori bisa dipenuhi oleh ganggang yang dibudidayakan di suatu daerah seukuran nagara Belgia. Tanaman ini merupakan salah satu "generasi kedua" dari biofuel, yang dirancang untuk mengatasi kekurangan bahan bakar dari biji-bijian.

    Kendala muncul, ketika kerusuhan yang pecah di berbagai kota di dunia dari Kairo sampai Jakarta pada tahun 2008, telah membuat harga pangan melonjak. Ini menimbulkan persepsi yang berkembang luas bahwa subsidi Amerika yang mendorong petani untuk menanam tanaman alga untuk membuat etanol ironis dengan kondisi rakyat miskin yang kelaparan miskin di dunia.

    Para peneliti sekarang mengejar limbah pertanian, jamur dan sumber-sumber bahan bakar lain yang tidak bersaing dengan tanaman pangan. Alga Botryococcus sedang dipelajari oleh Universitas Tsukuba yang diklaim menghasilkan bahan bakar yang hampir identik dengan diesel, kata Profesor Matsuko Watanabe, yang memimpin proyek tersebut.

    Watanabe mengatakan, ia telah menargetkan produksi sebesar 1.000 ton metrik per hektare per tahun dalam percobaan laboratorium. Dia akan mencoba untuk mereproduksi hasilnya pada sebuah proyek US$ 16 juta sebagai pilot project terbuka di kampus Tsukuba di Prefektur Ibaraki, dekat Tokyo, mulai bulan September.

    Bayangkan saja kalau ini sukses, maka akan mampu mengembangkan bahan bakar alternatif yang relatif murah sekaligus membuat ratusan atau ribuan pekerjaan baru.

    Ross Youngs, CEO produsen plastik dari Univenture Inc, disebut-sebut telah membuat kelompok bersama-sama untuk berbicara mengenai perusahaannya yang akan produksi biofuel dari alga. "Saya selalu mencari peluang untuk terlibat dalam pertumbuhan industri," kata Youngs. "Saya benar-benar percaya kami pada titik puncak dari sebuah industri baru yang besar."

    Biofuel adalah hal baru. Etanol, misalnya, adalah biofuel berbasis jagung yang mendapat banyak kritik. Amerika berpendapat etanol tidak layak secara jangka panjang karena bersaing dengan persediaan makanan dan membutuhkan tanah subur dan air tawar.

    Sementara minyak biodiesel berbasis alga, tidak memerlukan air tawar untuk tumbuh. Hal ini dapat ditanam di lahan yang tidak subur seperti wilayah di Brownfield dan tidak bersaing dengan tanaman pangan.

    Departemen Energi Amerika mulai mempelajari alga sebagai alternatif energi pada tahun 1978. Kemudian meninggalkan usaha ini pada tahun 1996, kata Ben Stuart, profesor teknik sipil di Ohio University, bukan karena tidak bekerja tetapi karena harga minyak alga menghabiskan biaya antara US$ 1,40 dan US$ 4,40 per galon, jauh lebih tinggi daripada bensin pada saat itu . Dengan harga jual gas selama hampir US$ 4 per galon, alga mulai tampak baik lagi.

    Universitas Ohio bukan hanya institusi di negara itu yang mempelajari ganggang. NASA Glenn Research Center di Cleveland, ilmuwan Mark McDowell memimpin penelitian minyak alga untuk digunakan sebagai bahan bakar pesawat jet militer. McDowell berharap untuk membuktikan bahwa bagian dari gurun Arizona dengan pengolahan air asin bisa menjadi rumah yang layak untuk budidaya alga. "Kami menggunakan tanah dan air yang manusia tidak menggunakan," katanya.

    Manfaat lain dari budidaya alga termasuk potensi keuntungan dari penjualan kredit karbon di pasar-trading. Setelah minyak dipanen, produk limbah juga bisa dijual sebagai pupuk, kata Bob Falco, pensiunan profesor teknik penerbangan di Michigan State University yang menulis buku berjudul "Alternative Energy and Our Green Future.” "Sebuah pembiakan alga benar-benar harus dianggap sebagai sebuah peternakan pupuk dengan potensi minyak," katanya.

    Pada tahun 1996, Amerika Serikat juga menghentikan pendanaan penelitian ganggang, setelah ditemukan bahwa bahan bakar ganggang terlalu mahal untuk komersial. Hal serupa dialami proyek yang didanai pemerintah selama 10 tahun di Jepang. Setelah melibatkan 14 perusahaan, termasuk Idemitsu, proyek yang sama ditinggalkan pada tahun 2000 setelah mencapai kesimpulan yang sama.

    BIODIESELNOW| NUR HARYANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.