Ditemukan Dinosaurus Bermata Keriput Pemakan Tumbuhan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jeyawati rugoculus

    Jeyawati rugoculus

    TEMPO Interaktif, State College - Dinosaurus baru pemakan tumbuhan yang memiliki mata keriput dan mulut bak penggiling ditemukan di sebelah barat New Mexico, Amerika Serikat. Fosil itu ditemukan dalam batu, sisa ekosistem hutan rawa 91 juta tahun lampau.

    Spesies baru yang dideskripsikan oleh sekelompok ahli paleontologi berdasarkan fosil kerangka yang tak utuh lagi itu dinamai Jeyawati rugoculus, yang artinya "mulut penggiling, mata keriput". Dinosaurus itu diperkirakan adalah pemakan tumbuhan yang mengkonsumsi tanaman paku dan pohon konifer, yang fosilnya juga ditemukan dalam lapisan batuan yang sama.

    Berdasarkan tulang tengkorak yang tinggal separuh, beberapa tulang vertebra, dan potongan tulang iga, para ilmuwan menduga Jeyawati adalah kerabat dekat hadrosaurus berparuh bebek, yang banyak ditemukan di belahan bumi bagian utara dari masa Late Cretaceous Epoch, 80 hingga 65 juta tahun lalu. Jeyawati tetap memiliki beberapa fitur primitif pada gigi dan rahang yang membedakannya dari hadrosaurus yang memiliki bulu.

    Nama Jeyawati berasal dari dua kata dalam bahasa yang digunakan orang Zuni, suku Indian Amerika yang bermukim di sepanjang Sungai Zuni di sebelah barat New Mexico. Pemilihan nama itu mengacu pada mekanisme mengunyah unik yang dikembangkan oleh garis keturunan binatang herbivora seperti Jeyawati.

    Bagian kedua dari nama spesies itu, rugoculus, berasal dari bahasa Latin, yaitu kata "ruga" dan "oculus", yang bila digabung memiliki arti "mata keriput" Nama itu mendeskripsikan fitur unik yang dimiliki dinosaurus herbivora tersebut.

    Salah satu tulang yang membentuk rongga mata memperlihatkan tekstur keriput atau kasar yang ganjil pada sisi bagian luarnya. Hal itu menunjukkan bahwa Jeyawati rugoculus ada kemungkinan mempunyai satu atau beberapa sisik besar di atas dan belakang matanya.

    "Jeyawati tampaknya menjalani kehidupan yang keras," kata Andrew T. McDonald, peneliti utama studi itu dan seorang kandidat doktoral di Department of Earth and Environmental Sciences, University of Pennsylvania. "Beberapa potongan tulang iganya menunjukkan adanya permukaan yang kasar dan membengkak, mengindikasikan bahwa binatang itu pernah mengalami patah tulang di sejumlah titik selama hidupnya, dan luka itu sembuh sebelum dia mati."

    Walaupun fosil itu telah ditemukan sejak 1996, para ilmuwan baru mengetahui keunikan spesies itu. Jeyawati adalah anggota grup binatang yang merupakan perpaduan antara dinosaurus dan binatang lain, yang baru diketahui sekitar 15 tahun lalu.

    McDonald mulai mengklasifikasikan temuannya itu ketika masih berstatus mahasiswa di University of Nebraska, sebelum menuntaskan pekerjaan itu dengan Peter Dodson, dosen anatomi dan paleontologi di fakultas Veterinary Medicine and Arts and Sciences di universitas yang sama. "Setelah melihat kerangka spesies lain yang masih berkerabat dengan Jeyawati, kami bisa membuat beberapa asumsi," kata McDonald, "Termasuk bahwa binatang itu kemungkinan berjalan dengan keempat kakinya tapi juga bisa berdiri dengan dua kaki."

    Fosil tulang dinosaurus itu kini disimpan di Arizona Museum of Natural History, bersama spesimen dinosaurus lain yang juga ditemukan di kawasan tersebut. Dinosaurus yang juga hidup pada masa yang sama dengan Jeyawati adalah Zuniceratops, dinosaurus bertanduk Amerika Utara, dan Nothronychus, binatang herbivora aneh yang masuk garis silsilah dinosaurus yang sebelumnya hanya ditemukan di Asia hingga fosilnya diketahui.

    Potongan tulang dan tengkorak Jeyawati ditemukan oleh ahli paleontologi Douglas Wolfe, peneliti utama Zuni Basin Paleontological Project. Penggalian fosil itu dilakukan selama 13 tahun dengan bantuan James Kirkland, pakar paleontologi di Utah Geological Survey.

    TJANDRA | SCIENCEDAILY


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?