Pulang Perang, Tentara Amerika Sulit Tidur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Marinir Amerika Serikat di Afghanistan. AP Photo/Abdul Khaliq Kandahari

    Tentara Marinir Amerika Serikat di Afghanistan. AP Photo/Abdul Khaliq Kandahari

    TEMPO Interaktif, San Antonio - Stress dan ketidakpastian di medan perang membuat banyak tentara Amerika Serikat yang mengalami gangguan tidur setelah mereka pulang ke negaranya. Prevalensi gangguan tidur yang amat tinggi pada tentara Amerika yang pulang perang itu itu dilaporkan lewat sebuah abstrak riset yang dipresentasikan dalam SLEEP 2010, pertemuan tahunan Associated Professional Sleep Societies LLC di San Antonio, Texas, Selasa lalu.

    Hasil riset mengindikasikan 86 persen partisipan mengalami gangguan tidur setelah kembali dari penugasan dan dan 45 hari kemudian meski mayoritas para serdadu itu tak menunjukkan adanya gangguan stress pasca traumatik atau depresi. Para prajurit itu diperkirakan mengalami gangguan tidur bila mereka mempunyai sejarah masalah tidur, gejala penyakit fisik tertentu atau cedera otak traumatik ringan.

    “Ini merupakan studi pertama untuk mendeskripsikan prevalensi gangguan tidur pada dua titik waktu berbeda yang dialami para prajurit yang kembali dari penugasan tanpa adanya trauma fisik akibat ledakan atau amputasi,” kata peneliti utama studi itu, Mayor Betty Garner, seorang perawat peneliti di Nursing Research Office di Landstuhl Regional Medical Center di Landstuhl, Jerman. “Temuan yang paling mengejutkan dari sampel awal yang masih sedikit ini adalah amat tingginya persentase gangguan tidur pada prajurit bahkan 45 hari setelah mereka kembali dari penugasan ke Amerika Serikat – zona aman.”

    Dalam studi doktoralnya di University of Washington, Garner memindai 58 serdadu Amerika berusia antara 23 dan 58 tahun. Pemeriksaan terhadap para serdadu itu dilakukan segera begitu mereka pulang dan 45 hari kemudian menggunakan indeks kualitas tidur Pittsburgh, penilaian kesehatan pasca penugasan, skala stress persepsi dan skala paparan perang.

    Sejak 2001, Amerika telah menerjunkan lebih dari satu juta tentaranya untuk mendukung operasi di Irak dan Afganistan. Para peneliti mencatat stress dan ketidakpastian selama penugasan mungkin berpengaruh terhadap kualitas tidur tentara tersebut.

    Menurut Garner, riset terdahulu menunjukkan gangguan tidur dapat menjadi gejala kondisi medis atau faktor risiko untuk pengembangan gangguan kesehatan mental dan fisik. Penanganan segera terhadap gangguan tidur yang dialami serdadu pulang perang mungkin dapat meringankan masalah kesehatan mental dan fisik mereka di masa depan.

    L TJANDRA | SCIENCEDAILY


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.