iPad-iPad Rasa Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Skypad sedang diperagakan seorang sales promotion girl kepada seorang pengunjung. iPad mendorong tumbuhnya iPad lokal. Tempo/Dian Yuliastuti

    Skypad sedang diperagakan seorang sales promotion girl kepada seorang pengunjung. iPad mendorong tumbuhnya iPad lokal. Tempo/Dian Yuliastuti

    TEMPO Interaktif, Jakarta - "Wah, Cina banget," bisik seorang pengunjung Indonesia Cellular Show 2010. Komentar itu diutarakannya setelah mengamati spesifikasi SkyPad, yang dipamerkan di Balai Sidang Senayan, Jakarta, pekan lalu.

    Dia sering melihat spesifikasi yang sama pada iPad tiruan merek lain buatan Negeri Tirai Bambu. Skypad, yang diusung perusahaan lokal PT Skybee Tbk, memang dikenalkan kepada publik Jakarta pada pameran tahunan tersebut.

    Tampilan fisik Skypad mirip iPad buatan perusahaan Apple, termasuk tombol home yang selama ini jadi kekhasan Apple. Benar-benar iPad wannabe. Yang membedakannya hanya jeroan yang spesifikasinya lebih rendah dan harga yang miring, sekitar Rp 2,5 juta. Bandingkan dengan iPad, yang di Indonesia dijual harganya mulai Rp 6,5 juta sampai Rp 12 juta.

    iPad tiruan lainnya yang diusung vendor lokal adalah OnePad. PC tablet dari perusahaan PT Zyrexindo Mandiri Buana ini hadir dalam dua varian berbeda. OnePad MS 1110 menggunakan Android 2.2 Froyo seharga Rp 3,9 juta. Saudaranya, OnePad MS 1210, memakai Windows 7 dengan harga Rp 4,9 juta. Harga kedua produk ini relatif mahal karena fiturnya canggih, seperti adanya port HDMI dan LAN.

    Di Asia, kloning atau iPad tiruan telah dan akan beredar di pasar. Misalnya InPad, LifesPad, Meizu Mbook, Ezy Tablet, dan iPed. Semuanya mengekor kesuksesan iPad, yang diluncurkan pada April lalu. Bahkan, tiga pekan setelah iPad muncul, toko online dan komputer di Shenzhen, Cina, menjual versi bajakan.

    "Kami memang follower, tapi kami harus punya sesuatu yang berbeda untuk dilirik konsumen," ujar Kendro Hendra, CEO PT Sykbee Tbk. Dia menyebutkan Skypad sebagai mobile internet device. Perangkat pribadi ini dirancang untuk hiburan, informasi, dan layanan berbasis lokasi.

    Meniru memang tidak selalu berkonotasi dan berakhir buruk. Jepang dan Korea Selatan contohnya. Negeri Matahari Terbit awalnya meniru produk-produk dari Barat. Setelah berhasil menguasai teknologinya, mereka melakukan modifikasi. Hasilnya menakjubkan. Toyota menjadi perusahaan otomotif terbesar di dunia. Produk elektronik Jepang juga membanjiri pasar dunia.

    Cina tampaknya mengikuti jalur yang relatif sama dengan Jepang. Banyak gadget dan telepon seluler buatan negara itu. Awalnya tidak dilirik. Belakangan sejumlah merek ponsel Cina laku di pasar. Bahkan beberapa operator menggaet ponsel tersebut dalam paket bundling.

    Bagaimana dengan Indonesia? Masih jauh dari harapan. Kelas kita memang masih sebagai konsumen. Survei The Nielsen Company akhir tahun lalu mencatat, 37 persen konsumen Indonesia menggunakan cadangan uangnya untuk membeli produk teknologi baru, terutama ponsel.

    Tak hanya itu, sampai Juni 2010, pengguna seluler Indonesia mencapai 180 juta. Ini sekitar 80 persen dari jumlah penduduk. Potensi pasar ini yang dilirik produsen asing dan para operator. Untuk diketahui, dari sisi pendapatan, semua operator seluler di Tanah Air meraih uang sampai Rp 100 triliun. Kita berharap vendor lokal tidak hanya puas sebagai tukang rakit atau distributor. Mereka juga harus menjadi produsen, dengan meniru sebagai langkah awal.

    UWD | DIAN YULIASTUTI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.