Manisnya Madu Hijau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Cairan manis berwarna cokelat kehitaman yang agak kental itu mungkin sama manisnya dengan madu yang banyak dijual di pasar. Namun madu Hutan Tesso Nilo dari Pelalawan, Riau, itu memiliki sensasi rasa yang berbeda. Rasa madu hutan yang dihasilkan dari nektar berbagai jenis tumbuhan itu lebih kaya jika dibandingkan dengan madu dari satu jenis tumbuhan.

    Tak hanya soal rasa, madu Hutan Tesso Nilo ini juga istimewa karena merupakan produk "hijau" dan "adil". Disebut hijau karena madu yang dipanen dengan sistem lestari dan membantu pengelolaan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Madu itu juga diolah secara organik tanpa penambahan bahan kimia lain, dan memperhatikan aspek sanitasi. "Produk ini juga fair karena masyarakat memperoleh keuntungan yang adil lewat sistem distribusi yang memperpendek mata rantai perdagangan," kata Efransjah, Chief Executive Officer (CEO) World Wildlife Fund (WWF) Indonesia dalam peluncuran kampanye Green and Fair Products di Jakarta pekan lalu. "Sistem pemanenan dilakukan secara lestari tanpa mengeksploitasi alam."

    Untuk memanen madu tersebut, Achmad Wazar dan para petani, yang tergabung dalam Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN) di Desa Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan, Riau, harus memanjat pohon-pohon sialang, yang rata-rata tingginya mencapai 40 meter. Pohon sialang adalah pohon tempat lebah liar Apis dorsata bersarang. Pohon yang biasa dijadikan tempat lebah bersarang adalah Kruing, Kempas, Ara, Kedundung Terap, Jelutung, dan Meranti Batu.

    Setiap pohon sialang umumnya memiliki 30 hingga 80 sarang lebah. Madu di satu sarang dapat dipanen tiga sampai empat kali dalam setahun. Tak mengherankan bila ada peraturan desa bahkan peraturan bupati setempat yang mengatur perlindungan pohon sialang dan larangan untuk menebang pohon tersebut.

    Proses pemanenan juga dilakukan secara lestari dan higienis lewat sistem penirisan sarang. Sarang yang telah diris diproses tanpa peremasan dengan tangan dan menggunakan peralatan yang bersih dan bebas pencemaran zat kimia. Kadar air madu hutan itu dikurangi hingga mencapai 18 persen sehingga tahan lama. "Kami juga menerapkan pengawasan mutu internal untuk memastikan keaslian, kemurnian, dan kebersihan produk," kata Achmad Wazar.

    Selain madu Hutan Tesso Nilo, terdapat tujuh produk hijau dan adil lainnya, yaitu kopi robusta Kuyungarang dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Lampung; madu hutan Gunung Mutis dari Timor, Nusa Tenggara Timur; minyak kayu putih Walabi dari Taman Nasional Wasur di Merauke, Papua; beras Adan Tana Tam dari dataran tinggi Kalimantan; kerajinan patung badak dari sekitar Taman Nasional Ujung Kulon; teh Aloe vera dari Taman Nasional Sebangau; dan kerajinan manik Banuaka dari Taman Nasional Betung Kerihun di Kalimantan Barat. "Pengelolaan sumber daya alam dan pemasaran hasilnya yang lestari adalah bagian penting upaya konservasi keanekaragaman hayati," kata Efransjah. "Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi juga memperoleh kehidupan yang baik."

    Produk hijau dan adil ini adalah inisiatif WWF Indonesia yang dirintis sejak lima tahun yang lalu sebagai program pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Program itu dilakukan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya alam dan pemasaran hasilnya secara lestari. Produk itu diambil atau dibudidayakan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan dipasarkan secara adil dengan penentuan harga yang transparan.

    "WWF Indonesia membantu memfasilitasi produk hijau dan adil ini dengan kualitas yang boleh diadu," kata Nazir Foead, Direktur Kebijakan dan Pemberdayaan Masyarakat WWF Indonesia. "Selain proses produksi, kami membantu mereka menjaga kualitas produk dan pengemasan juga kontak pasar termasuk kerja sama dengan retailer besar berskala nasional."

    Walaupun memiliki rasa yang unggul, Achmad merasa kesulitan memasarkan madu Hutan Tesso Nilo, yang mencapai 40 ton per bulan. "Meski harga madu Hutan Tesso Nilo cukup tinggi di tingkat masyarakat, pemasarannya belum terlalu luas," ujarnya.

    Darius Khamis, Ketua Koperasi Tana Tam, juga mengeluhkan sulitnya memasarkan beras adan, padi varietas lokal yang dibudidayakan masyarakat Kecamatan Krayan Selatan dan Krayan Induk, Nunukan, Kalimantan Timur. Selama ini beras dengan ciri khas aroma, cita rasa, dan tekstur yang halus itu sulit dijual keluar dari kawasan itu karena lokasi yang terpencil dan satu-satunya alat transportasi yang ada hanyalah pesawat.

    Harga produk hijau green and fair ini memang sedikit lebih tinggi karena tingkat produktivitas yang tidak setinggi produk biasa dan diolah dengan kriteria hijau. Nazir juga menambahkan, istilah hijau yang mereka pakai lebih menekankan pada proses produksi yang tidak merusak hutan dan penggunaan bahan baku alami yang berkelanjutan, serta tidak memasukkan jejak karbon yaitu jumlah total emisi karbon yang dihasilkan dalam proses tersebut. "Kami lebih menjual keaslian dari daerah tersebut," katanya. "Namun kami menggunakan transportasi yang seefisien mungkin sehingga carbon footprint-nya juga tidak terlalu besar."

    Kampanye produk hijau dan adil tersebut bertujuan mendorong sikap dan pola konsumsi publik yang ramah lingkungan dan adil. Dengan mengkonsumsi pangan organik atau alami, masyarakat ikut mendukung pelestarian sumber daya alam. "Target utama kampanye ini adalah mengedukasi masyarakat dalam memilih produk yang mereka konsumsi," kata Cristina Eghenter, Senior Adviser Bidang Pengembangan Sosial WWF-Indonesia. "Apakah dengan membeli produk itu mereka merusak alam atau mendukung upaya konservasi."

    TJANDRA DEWI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?