Pemerintah Arab Saudi Hari Ini Berdebat dengan RIM BlackBerry  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah toko handphone di pusat perbelanjaan, di Dubai, memajang display Blackberry (1/8). REUTERS/Mosab Omar

    Sebuah toko handphone di pusat perbelanjaan, di Dubai, memajang display Blackberry (1/8). REUTERS/Mosab Omar

    TEMPO Interaktif, Riyadh -Hingga saat ini, ribuan orang pengguna BlackBerry di kerajaan Arab Saudi menunggu keputusan pemerintah, apakah akan membatalkan rencana untuk meniadakan layanan BlackBerry Messenger (BbM).

    Pembicaraan dengan pihak RIM (Research in Motion) dengan penguasa regulasi di negara kerajaan itu, hingga Kamis (5/8) malam waktu setempat, masih belum mencapai kesepakatan.

    Meski begitu, pemerintah disana, melalui Komisi Teknologi Informasi dan Telekomunikasi akan memulai dengan melakukan pemblokiran fungsi BbM terlebih dahulu.

    "Masih dalam proses, kita masih berdebat soal kemungkinan pengturan teknis yang baru. RIM mengungkap bahwa tingkat fleksibilitas disana tidak dihiraukan sejak tiga bulan lalu," ujar sumber pemerintah disana, Jumat (6/8).

    Akibatnya, RIM menghadapi banyak tekanan untuk segera membuka pengamanan data RIM yang super ketat, guna memudahkan proses penelitian pemerintah. Beberapa negara pun meminta akses enkripsi data komunikasi melalui perangkat BlackBerry, dengan alasan enkripsi itu dapat mengancam keamanan nasional.

    Bahkan menurut sumber tersebut, pembicaraan RIM dengan pemerintah Arab Saudi telah sampai pada permohonan agar RIM bersedia membuka pengatur utama (server) di kerajaan itu. Supaya pemerintah disana dapat ikut mengatur proses ekripsi jaringan BlackBerry.

    Para pengguna BlackBerry di Arab Saudi, menanggapi perdebatan soal enkripsi data tersebut, hanya berharap semoga layanan BbM tidak ditiadakan.

    "Saya sendiri berkomunikasi dengan keluarga dimana pun dengan layanan BbM. Kalau layanan BbM ditiadakan, komunikasi dengan keluarga kembali dengan cara lama, yakni dengan email," ungkap salah seorang pegawai konsulat jenderal Amerika Serikat di Arab Saudi, Rayan, 30 tahun.

    Ia menyayangkan, seharusnya sebelum memasarkan BlackBerry, pihak Komisi Teknologi Informasi dan Komunikasi di Arab Saudi sudah meneliti baik buruknyua.


    REUTERS | ANGIOLA HARRY


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?