Roket Antariksa Amatir Denmark Dibuat Dengan Biaya Rp 630 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Roket HEAT-1X

    Roket HEAT-1X

    TEMPO Interaktif, Kopenhagen - Bermodalkan dana hasil donasi dan sponsor, serta dikerjakan secara sukarela, sekelompok pembuat roket asal Denmark berhasil membuat sebuah roket berkapasitas satu orang yang dapat mengangkasa setinggi 30 kilometer ke suborbital bumi. Proyek tersebut akan membuka jalan bagi Denmark untuk menjadi negara keempat yang dapat mengirim astronautnya ke antariksa setelah Rusia, Amerika Serikat, dan Cina.

    Roket suborbital baru yang diberi nama Hybrid Exo Atmospheric Transporter 1X atau HEAT-1X itu membawa kapsul antariksa Tycho Brahe. Dalam ruang kabin sempit pada kapsul itu, sang pilot harus mengambil posisi setengah berdiri dan setengah duduk.

    Namun roket buatan Copenhagen Suborbitals itu gagal meluncur dalam uji coba pertama pada Ahad lalu karena mengalami masalah teknis pada sistem pembakaran booster roket. Awan asap cokelat tebal memenuhi landasan apung yang menjadi lokasi peluncuran, tapi roket itu tak juga beranjak. Katup utama oksigen cair, yang digunakan sebagai bahan bakar roket, macet, sehingga roket gagal terbang.

    Setelah melakukan inspeksi, tim Copenhagen Suborbitals memutuskan melakukan peluncuran kedua, namun tidak menetapkan tanggal. Sebelumnya, uji coba peluncuran telah beberapa kali ditunda akibat cuaca buruk.

    Di atas kertas, roket rancangan Peter Madsen dan Kristian von Bengston itu mampu mengangkut seorang penumpang melesat ke lapisan teratas atmosfer setinggi 30 kilometer, sebelum akhirnya jatuh kembali ke bumi. Namun, untuk beberapa penerbangan suborbital pertamanya kelak, roket itu hanya akan membawa boneka manusia untuk mempelajari terlebih dulu seberapa besar G force yang harus dihadapi manusia yang menumpang roket tersebut. Satu G setara dengan gravitasi standar bumi.

    "Dengan posisi setengah duduk dan berdiri itu kita dapat bertahan sampai 3 G," kata Peter Madsen, salah satu pendiri Copenhagen Suborbitals. "Beban gaya gravitasi yang lebih tinggi mungkin dapat terjadi pada saat kapsul kembali memasuki atmosfer bumi. Namun kapsul ini diorientasikan dalam posisi ke satu sisi, sehingga astronaut memiliki toleransi gravitasi yang tinggi."

    Ketika kapsul Tycho Brahe jatuh kembali ke bumi, tiga parasut utama dan sebuah parasut drogue, yang berfungsi untuk mengurangi kecepatan, akan mengembang. Kapsul akan tercebur di laut dan sebuah kapal bakal segera menarik kapsul itu. Radar pelacak serta GPS juga akan membantu tim di bumi untuk mengawasi roket selama peluncuran dan ketika kembali ke bumi.

    Seluruh proses, mulai pembuatan kapsul, roket pendorong, dan panggung peluncuran di lepas pantai, dibiayai dari hasil sumbangan dan sponsor swasta sebesar US$ 70 ribu. Madsen juga mengerahkan Nautilus, kapal selam buatan sendiri dari proyek sebelumnya, untuk menarik panggung apung itu ke lokasi peluncuran di Laut Baltik, dekat Kopenhagen, Denmark.

    Ide gila untuk membuat perusahaan roket antariksa swasta dengan biaya kurang dari Rp 1 miliar itu muncul ketika Madsen bertemu dengan Kristian von Bengtson, insinyur antariksa yang pernah bekerja dengan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dalam program bulan dan Mars. Pada 2004, mereka membentuk sebuah kelompok kecil yang beranggotakan 19 anggota tim pendukung. "Kami memperoleh banyak dukungan, dan memiliki akses ke sejumlah pakar yang sangat mahal seandainya kami merupakan perusahaan komersial," kata Madsen. "Sejujurnya, saya tak yakin kami sanggup menjadi komersial."

    Dengan proyek tersebut, Madsen dan Von Bengtson berencana menunjukkan bahwa finansial yang terbatas bukan berarti seseorang tak dapat mengirimkan roket ke antariksa. "Hak istimewa itu tidak berlaku untuk negara-negara kaya saja," kata mereka.

    Inspirasi membuat kapsul Tycho Brahe berasal dari kapsul antariksa NASA pada program Mercury, Gemini, dan Apollo. Namun Von Bengtson memoles kembali desain keseluruhan kapsul untuk menyederhanakannya.

    Tim Copenhagen Suborbitals menggunakan oksigen cair sebagai bahan pengoksidasi propelan, dan polyurethane sebagai propelan bahan bakar roket. Kombinasi itu membuat booster HEAT-1X sanggup menciptakan daya dorong hingga 9.000 pound (40 kN) setelah pembakaran selama 60 detik.

    Dalam uji coba pada Ahad lalu itu, tim Copenhagen Suborbitals sebenarnya juga akan mengetes konsep peluncuran di lepas pantai, kemampuan aerodinamis kecepatan tinggi roket tersebut, performa mesin, serta skenario penyelamatan. Telemetri nirkabel juga memberi perkembangan pada booster secara real time selama pembakaran.

    TJANDRA DEWI | AP | SPACE | COPENHAGENSUBORBITALS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?